nogososro sabukinten (18)

I.

PASINGSINGAN melihat perubahan wajah Mahesa Jenar itu. Karena itu ia curiga. Ia tidak tahu siapakah yang datang berkuda itu. Dengan penuh perhatian ia mencoba mengetahui, kira-kira berapa orang yang akan datang pula ke tempat itu. Telinganya yang tajam segera dapat mengetahui bahwa derap kuda itu tidak akan lebih dari lima atau enam. Dengan demikian ia dapat mengira-ira kekuatan rombongan itu. Tetapi karena otak Pasingsingan sedang terganggu oleh bayangan-bayangan yang mencemaskan hatinya, bayangan bayangan Pasingsingan tua, Radite, dan Anggara, maka tiba-tiba menjalarlah dugaannya kepada salah seorang dari mereka. Apakah didalam rombongan itu akan datang pula Radite atau Anggara? Atau malah kedua-duanya…? Seandainya bukan mereka sekalipun, semakin banyak orang yang harus dilawannya, semakin kecil pula kemungkinan yang dapat diperoleh untuk memenangkan pertempuran ini. Sebab ia yakin bahwa seandainya ia pun pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu disamping Mahesa Jenar sendiri, kehadiran orang lain di perkemahan itu akan dapat menambah kesulitan bagi Pasingsingan. Apalagi kalau ia mengetahui, bahwa yang datang itu adalah seekor burung rajawali yang perkasa, yang bahkan melampaui keperkasaan Mahesa Jenar, lawannya yang mencemaskan hatinya itu.

Karena itulah maka akhirnya dengan kecewa Pasingsingan terpaksa melihat kenyataan-kenyataan itu. Sebagai seekor serigala yang ganas, ia tidak mau mati di dalam kandang kelinci. Maka ketika didengarnya bahwa telapak kuda itu dengan lajunya mendekati perkemahan itu, tiba-tiba Pasingsingan menggeram keras sekali. Mahesa Jenar pun segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Matanya tidak bergeser dari ujung pisau belati Pasingsingan yang berwarna kuning kemilau.

Tetapi adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba hantu berjubah abu-abu itu seperti terbang melontar mundur, dan dengan kecepatan luar biasa ia memutar tubuhnya dan meluncur seperti dihembus badai. Mahesa Jenar untuk beberapa saat tertegun heran. Karena itulah ia kehilangan waktu untuk mengejarnya. Meskipun kemudian Mahesa Jenar dengan kecepatan yang tak kalah dari kecepatan Pasingsingan meloncat mengejarnya, namun hantu itu telah lenyap di dalam semak-semak, berselimut kehitaman malam.

Sementara itu, derap kaki-kaki itu sudah semakin dekat. Dan tiba-tiba dari dalam gelap tersembullah beberapa orang penunggang kuda. Yang paling depan adalah Kebo Kanigara yang masih melekatkan hampir seluruh tubuhnya pada punggung kudanya. Demikian kuda itu masuk ke halaman perkemahan itu, dengan sigap para penunggangnya segera menarik kekangnya, sehingga kuda-kuda itu meringkik dan berdiri pada kedua kaki belakang. Demikian kuda itu meletakkan kedua kaki mereka, sedemikian para penunggangnya berloncatan turun.

Ketika Endang Widuri melihat ayahnya datang, segera ia meloncat berlari ke arahnya sambil berteriak, “Ayah, sayang ayah terlambat.

Melihat putrinya berlari-lari menyongsong, dada Kebo Kanigara serasa tersiram embun. Namun ia menjadi sedikit ragu mendengar kata-kata itu, sehingga terlontarlah pertanyaannya, “Apa yang terlambat?

Widuri kemudian dengan manjanya memeluk lambung ayahnya sambil menjawab, “Baru saja kami menonton pertunjukan yang luar biasa.”

“Pertunjukkan apa?” desak ayahnya tidak sabar.

Paman Mahesa Jenar bermain sulap melawan tukang sihir berjubah abu-abu,”jawab gadis itu.

Mendengar keterangan Endang Widuri, Kebo Kanigara menarik nafas. Terdengarlah ia berdesis perlahan, “Pasingsingan…?

Tetapi ia sudah tidak terkejut lagi, sebab ia memang sudah menduga sebelumnya, bahwa guru Lawa Ijo itu berada di perkemahan.

Di mana pamanmu sekarang?” tanya Kebo Kanigara.

“Paman mengejar tukang sihir itu,” jawab Endang Widuri.

Sementara itu yang lainpun telah berdiri mengitarinya. Dengan penuh hormat mereka membungkukkan kepala.

Adakah kalian selamat?” tanya Kebo Kanigara kepada mereka.

“Atas pangestu Kakang, kami semua selamat. Karena Adi Mahesa Jenar tidak terlambat datang,” jawab Mantingan.

Kebo Kanigara masih melihat kesan-kesan yang mencemaskan pada wajah-wajah mereka. Apalagi pada wajah Rara Wilis yang hampir-hampir saja hangus oleh aji Alas Kobar, sedang Widuri itupun masih kelihatan pucat.

“Apa yang sudah dilakukan?” Kebo Kanigara bertanya pula.

Tetapi sebelum Mantingan sempat menjawabnya, terdengarlah Endang Widuri berceritera dengan riuhnya, “Setan itu bisa menjadikan dirinya panas seperti bara, dan dengan suara tertawa ia dapat merontokkan isi rongga dada. Ah sayang, ayah tidak melihat kami pada waktu itu. Lucu sekali. Pasingsingan itu sama sekali tidak berbuat apa-apa kecuali tertawa. Dan kami semuanya menggigil, bahkan seperti ayam disembelih. Bukankah itu aneh sekali? Untunglah bahwa Paman Mahesa Jenar dapat menghentikannya sebelum jantung kami patah karenanya.”

Mendengar ceritera anaknya, Kebo Kanigara mau tidak mau harus tersenyum. Tetapi kemudian senyumnya terpaksa ditahannya ketika anaknya itu meneruskan, “Kenapa ayah tersenyum, sedang kami hampir mati karenanya?”

“Bukankah kau sendiri berkata bahwa hal itu adalah lucu sekali?” bantah ayahnya.

“Tetapi ayah jangan tersenyum. Sebaiknya ayah mengucapkan ikut berduka cita. Apalagi Bibi Wilis. Ketika bibi mencoba menolong Paman Mahesa Jenar yang tiba-tiba terbanting karena serangan Pasingsingan itu, agaknya Bibi Wilis nekad melawan udara panas yang memancar dari tubuh tukang sihir jahat itu,” sahut Widuri.

Sekali lagi Kebo Kanigara tak dapat menahan senyumnya. Tanpa disengaja ia memandang ke arah Rara Wilis yang menundukkan wajahnya. Ia menjadi malu mendengar ceritera gadis kecil itu. “Aku berkata benar, Ayah…

Widuri meneruskan sambil merengut. “Paman Mahesa Jenar itu pun dapat dijatuhkannya, meskipun kemudian terpaksa bangun kembali.”

“Kenapa terpaksa?” tanya Kebo Kanigara.

“Sebab bibi Rara Wilis hampir terjatuh pula. Kalau tidak, barangkali Paman Mahesa Jenar masih enak-enak berbaring, menikmati hangatnya udara yang memancar dari tubuh Pasingsingan dimalam yang begini dingin,” jawab Widuri.

“Sudahlah… jangan membual,” potong ayahnya.

“Siapa bilang aku membual…?” sahut gadis itu. “Aku berkata sebenarnya.”

Kebo Kanigara masih saja tersenyum. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Melontarlah di dalam benaknya perkataan anaknya itu, “Paman Mahesa Jenar itu pun dapat dijatuhkannya.”

Kemudian kepada Mantingan ia bertanya, “Adakah Mahesa Jenar selamat?”

“Bagi kami” jawab Mantingan, ”agak sulit untuk dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Sebab pertempuran itu berada jauh dalam tingkatan yang tidak dapat kami capai. Meskipun ia masih tetap segar dan bahkan sekarang iblis itu sedang dikejarnya,”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia terkejut ketika tiba-tiba didengarnya kemersik daun didalam semak-semak. Kemudian muncullah dari dalam semak itu, seorang laki-laki yang berjalan perlahan-lahan ke arahnya.

“Mahesa Jenar…” sapa Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya, Kakang.

“Bagaimana dengan Pasingsingan?” tanya Kebo Kanigara.

Sambil menggeleng Mahesa Jenar menjawab, “Aku tak berhasil menangkapnya.

Kembali Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Tak apalah, bukankah ia tidak berhasil menimbulkan bencana?”

“Pangestu Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

“Baiklah…” kata Kebo Kanigara seterusnya, “Sekarang cobalah, bangunkan orang-orang yang terkena sirep itu. Mungkin pengaruhnya sudah jauh berkurang. Apalagi sumbernya telah pergi pula.”

Jaladri, Bantaran dan Penjawi tidak menunggu perintah itu diulangi. Segera mereka pergi berpencaran untuk membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak karena syarafnya dipengaruhi sirep yang disebarkan oleh Lawa Ijo.

Sementara itu malam telah sampai di ujungnya. Di kejauhan sudah terdengar ayam hutan berkokok bersahutan. Sedang langit telah diwarnai oleh cahaya perak pagi.

Cahaya lintang-lintang telah mulai pudar. Satu-satu mulailah mereka menghilang dari wajah langit yang biru bersih. Angin pagi yang berhembus lemah, menggoncang-goncang daun-daun pepohonan rimba.

“Marilah kita beristirahat,” kata Kebo Kanigara, “Bukankah kaliah lelah?”

“Semalam aku tidak tidur,” sahut Widuri, “Karena itu aku akan tidur sehari penuh.”

“Aku tidak percaya,” jawab ayahnya.

“Kenapa?” tanya Widuri.

“Belum lagi matahari sepenggalah, kau pasti sudah bangun dan bertanya apakah sudah ada makan pagi,” jawab ayahnya.

Widuri tidak menjawab. Ia hanya mencibirkan bibirnya. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan ke pondok yang disediakan baginya. Yang lainpun kemudian berlalu pula ke tempat masing-masing. Mantingan berjalan dengan langkah gontai, sedang Wirasaba seolah-olah tinggal mampu menjerat tubuhnya dengan lemah. Meskipun sebenarnya ia tidak sedemikian parah tenaganya, namun peristiwa yang baru saja dilihatnya merupakan suatu peristiwa yang membekas dalam sekali di dalam hatinya. Rara Wilis yang masih sangat pucat pun berjalan menyusul Endang Widuri untuk beristirahat.

Ternyata para anggota laskar Banyu Biru yang tertidur, sudah tidak lagi dipengaruhi oleh sirep Lawa Ijo. Meskipun masih ada diantara mereka yang merasa betapa nikmat mimpi yang diperoleh, namun merekapun kemudian berloncatan bangun ketika tubuh mereka digoncang-goncang oleh pemimpin-pemimpin mereka. Beberapa orang malahan menjadi bingung, sedang beberapa orang lain menjadi cemas dan malu. Lebih-lebih para petugas yang pada malam itu sedang mendapat giliran jaga. Ketika mereka meninggalkan gardu pimpinan, mereka mendapat pesan untuk berhati-hati. Sebab mereka mendapat tanda-tanda buruk pada siang harinya. Apalagi firasat para pemimpin laskar Banyubiru itupun telah memberi mereka peringatan. Tetapi tiba-tiba pemimpin mereka itu terpaksa membangunkan mereka di saat fajar hampir pecah. Meskipun demikian, tersangkut pula di dalam dada mereka sebuah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab sendiri, “Kenapa mereka telah melakukan suatu perbuatan yang belum pernah mereka lakukan, dan bahkan belum pernah terjadi didalam perkemahan itu, dimana seorang yang diserahi tanggungjawab melalaikan tanggungjawab…? Apalagi tidur di saat-saat penjagaan.”

Tetapi, mMereka menjadi agak terhibur ketika mereka mendengar penjelasan dari pemimpin-pemimpin mereka, bahwa meskipun mereka tertidur dalam tugas mereka, namun itu bukanlah kesalahan mereka seluruhnya. Sebab memang pengaruh sirep Lawa Ijo itu sedemikian tajamnya, sehingga sulitlah untuk melepaskan darinya.

Ketika para pemimpin Banyu Biru itu kemudian menempatkan petugas-petugas baru pada titik-titik yang dianggap perlu untuk mendapat pengawasan, mereka pun berpesan wanti-wanti kepada para petugas itu, bahwa mereka harus benar-benar waspada. Mereka diwajibkan segera memberikan tanda-tanda apabila ditemuinya sesuatu yang mencurigakan, apalagi membahayakan.

Sesaat setelah mereka berangkat, di dalam gardu pimpinan itu duduklah beberapa orang yang bercakap-cakap dengan asyiknya. Diantara mereka adalah Jaladri, Bantaran, Penjawi dan Wanamerta. Dengan penuh semangat Jaladri berceritera tentang apa yang baru saja dilihatnya. Sesuatu yang belum pernah dibayangkan, meskipun hanya di dalam mimpi. Meskipun Jaladri sendiri pada saat itu harus bertempur, tetapi setiap kali ia sempat melirik ke arah lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain. Ia melihat Rara Wilis itu bertempur seperti sikatan menyambar belalang. Sigap, cepat dan lincah. Endang Widuri benar-benar seperti burung camar yang bermain-main di atas gelombang. Meskipun lawannya adalah seorang yang gemuk dan bersenjata di keduabelah tangannya, namun gadis itu sama sekali tidak dapat digetarkan.

Yang menggemparkan dada Jaladri kemudian adalah Arya Salaka. Ketika ia telah kehilangan lawannya, melarikan diri, ia sempat untuk menyaksikan sepenuhnya pertempuran antara Arya Salaka melawan Lawa Ijo. Tak pernah ia membayangkan bahwa Arya Salaka mampu mengimbangi kekuatan Lawa Ijo dari Mentaok itu. Apalagi Lawa Ijo telah berhasil menyerang anak muda itu dengan udara panas, meskipun tidak sedahsyat Pasingsingan, namun seakan-akan tak terasa sama sekali oleh Arya Salaka.

Bantaran dan Penjawi mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Ia kecewa tidak dapat menyaksikan sendiri tingkat ilmu Arya Salaka. Sebab ia ingin membandingkan dengan tingkat ilmu Sawung Sariti, yang menurut pendengarannya telah meningkat sedemikian, bahkan ia telah memiliki ilmu sakti Lebur Seketi.

Di sebuah pondok yang lain, tampaklah Mahesa Jenar duduk, bersama Kebo Kanigara. Di sudut yang lain dari ruangan itu pula, Arya Salaka berbaring di atas sebuah bale-bale bambu. Ia pun ternyata lelah. Meskipun demikian ia tidak tertidur. Lamat-lamat ia masih mendengar gurunya itu bercakap-cakap dengan Kebo Kanigara.

“Aku dengar dari Widuri, Pasingsingan itu berhasil mendorongmu jatuh…?” tanya Kebo Kanigara.

“Ya, Kakang,” jawab Mahesa Jenar. “Semula aku tidak tahu bagaimana aku melawan udara panas yang dilontarkan berdasarkan ajinya Alas Kobar.”

“Tetapi bukankah kau akhirnya dapat mengatasi aji Alas Kobar itu?” tanya Kanigara pula.

“Ya, tanpa aku ketahui, bagaimana terjadinya. Tetapi pada saat aku membulatkan tekad untuk melawan panas yang melibat seluruh tubuhku itu, tiba-tiba terasalah dari dalam dadaku getaran-getaran yang aku kenal sebagai sumber kekuatan Sasra Birawa mengalir ke segenap tubuhku. Dan dengan demikian aku kemudian terbebas dari pengaruh udara panas itu. Pada saat aku mengerahkan getaran-getaran itulah aku dapat dikenai oleh Pasingsingan, di pundakku, sehingga aku terdorong jatuh. Karena aku memang tidak mengadakan perlawanan pada daya dorong itu, sebab aku tidak mau kehilangan kesempatan, sehingga getaran-getaran itu terganggu.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia merasa bangga pula, bahwa Mahesa Jenar, meskipun tanpa disadarinya sendiri telah meningkat pula pada penguasaan ilmunya lebih sempurna lagi dengan mengalirkan ilmu Sasra Birawa ke segenap tubuhnya dalam bentuk perlawanan dan pertahanan. Kemudian ia bertanya pula, “Tidakkah iblis itu kau lumpuhkan dengan Sasra Birawa itu pula? Aku kira ia mempunyai cukup daya tahan sehingga ia tidak akan mati karenanya. Dengan demikian kau akan dapat menangkapnya hidup-hidup.”

Mahesa Jenar ragu sebentar. Kemudian ia menjawab, “Kakang, semula aku pun bermaksud demikian. Tetapi ketika aku sadar bahwa getaran-getaran ilmuku sedang mengalir ke segenap tubuhku, aku takut kalau-kalau dengan demikian getaran-getaran itu harus terhisap kembali untuk kemudian aku salurkan ke sisi telapak tanganku. Dengan demikian aku akan hangus oleh aji Alas Kobar itu.”

Kebo Kanigara kini tidak hanya tersenyum.Tetapi ia tertawa. Katanya, “Itulah keistimewaanmu Mahesa Jenar. Kau berhasil menekuni ilmu perguruan Pengging sehingga hampir sempurna, tanpa tuntunan dari siapapun. Karena itu di dalam perkembangan yang terjadi pada dirimu, ada beberapa unsur yang tak kau kenal sendiri. Kau berhasil meragakan sukmamu pada saat kau capai kesempurnaan ilmu Sasra Birawa. Tetapi dalam penerapan yang pernah kau kenal sebelumnya. Sedangkan sebenarnya engkau dapat menerapkan dalam keperluan lain, karena kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhmu itu adalah kelengkapan darimu sendiri yang tunduk pada kehendakmu. Dengan demikian, Mahesa Jenar, aku yakin sekarang, bahwa kau benar-benar akan dapat mengalahkan iblis itu apabila pertempuran diteruskan. Sebab ilmu Sasra Birawa adalah seperti mata air yang agung yang tak akan kering meskipun airnya mengalir siang dan malam ke segenap penjuru.”

Mendengar uraian Kebo Kanigara itu, alangkah besarnya hati Mahesa Jenar. Ia merasa bahwa dadanya bergetar karena bangga. Ah, seandainya saja ia tahu sebelumnya, bahwa ilmu Sasra Birawa yang bersumber di pusat dadanya itu seperti mata air yang tak akan kering di segala musim. Seandainya ia tahu bahwa ia dapat mempergunakan ilmu itu sekaligus untuk berbagai kemungkinan. Sebagai manusia, Mahesa Jenar merasa bahwa ia kini memiliki senjata yang dahsyat tiada taranya. Bukankah dengan demikian ia menjadi seorang yang dapat membebaskan diri dari perasaan sakit yang disebabkan oleh rangsang dari luar tubuhnya apabila ia menghendaki dengan matek aji Sasra Birawa? Meskipun ia tidak menjadi kebal karenanya, namun ia memiliki ketahanan yang mirip dengan ilmu kekebalan.

Tetapi, sebenarnya pada saat-saat yang demikian itulah saat-saat yang paling berbahaya bagi manusia. Pada saat ia menyadari kelebihan diri dari orang lain. Pada saat ia dengan penuh kesadaran merasa tak akan mudah orang mengalahkannya.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki bekal yang cukup untuk menerima kurnia dari Tuhan Yang Maha Esa atas usahanya yang tak kenal lelah dalam pembajaan diri. Itulah sebabnya, pada saat ia sadar akan dirinya, meskipun mengembang pula perasaan bangga sebagaimana perasaan manusia biasa, namun di dalam relung hatinya, Mahesa Jenar dengan penuh kerendahan diri, mengucapkan syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Pengasih atas karunia itu. Bahkan diam-diam ia berjanji untuk mempergunakan ilmunya dalam kebaktian dan pengabdian pada titahnya, sesama manusia, dengan penuh rasa cinta kasih.

Kebo Kanigara menyaksikan wajah Mahesa Jenar dengan seksama, seolah-olah ia sedang membaca apakah yang tersirat dari wajah itu. Sebagai seorang yang penuh dengan bermacam-macam pengalaman, tahulah Kebo Kanigara bahwa pada saat-saat yang paling berbahaya itu, Mahesa Jenar tidak tergelincir ke dalam sikap yang tercela. Ia tahu bahwa Mahesa Jenar tidak menjadi sombong karenanya sehingga kehilangan pengamatan atas tingkah laku dan perbuatan-perbuatannya pada masa-masa yang akan datang. Sebagai seorang yang berpandangan luas, Kebo Kanigara mengerti bahwa Mahesa Jenar itu sampai tergelincir karena kesombongannya atas keperkasaan diri, atas ilmu yang dimilikinya, maka akibatnya akan sangat berbahaya. Ia akan mampu menggoncangkan kerajaan Demak. Tidak menggoncangkan keamanan dan ketertiban, namun seandainya ia mau, ia akan dapat menghimpun kekuatannya untuk menghancurkan Demak. Tetapi ia yakini kemudian, bahwa Mahesa Jenar akan tetap dapat memelihara kemurnian dari tujuannya. Mengabdikan diri setulus-tulusnya pada keyakinannya, pada kebenaran dan keadilan.

Beberapa saat setelah pondok itu dicekam oleh keheningan, terdengarlah Mahesa Jenar berkata perlahan-lahan, “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, serta berterima kasih kepada Kakang Kebo Kanigara yang telah memberi aku kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dalam pengabdian diri. Mudah-mudahan aku dapat mrantasi, dapat memanfaatkan ilmuku ini sebaik-baiknya.”

Kebo Kanigara mengangguk-angguk puas. Ia tidak menjawab, tetapi hatinya berkata, “Berbahagialah kau Mahesa Jenar. Berbahagialah atas kurnia yang kau terima, dan berbahagia atas keluhuran hatimu.”

Namun yang terucapkan adalah, “Meskipun demikian Mahesa Jenar, aku atas nama gurumu, ayah Penging Sepuh almarhum ingin memperingatkan bahwa ilmu perguruan Pengging janganlah kau pergunakan pada setiap saat, pada setiap kesempatan sebagai pameran kekuatan yang tak berarti. Ilmu itu hanya akan kau pergunakan pada saat-saat dimana kau harus dapat mempertanggung-jawabkan akibatnya. Tidak kepada sesama manusia, tidak kepada para pemimpin di Demak, bahkan tidak kepada Sultan Demak saja. Tetapi lebih daripada itu, kau akan mempertanggungjawabkan kepada Yang Maha Ada di atas segala pertanggunjawaban yang lain. Sebab kau menjadi lantaran, tidak dari para pemimpin dan tidak siapapun. Tetapi ilmumu kau terima dari Yang Maha Tinggi.”

Meskipun apa yang didengarnya dari Kebo Kanigara itu seperti apa yang didengarnya dari suara hati nuraninya, namun Mahesa Jenar dengan penuh minat mendengarkan nasihat dari orang yang dianggapnya pengganti gurunya. Sebab ia tahu benar bahwa Kebo Kanigara tidak hanya mampu berkata, tetapi apa yang dilakukannya pun sesuai benar dengan kata-katanya itu. Mempergunakan-ilmunya pada kesempatan yang tepat, untuk keperluan yang tepat pula.

Kecuali Mahesa Jenar, di salah satu sudut ruangan itu berbaring Arya Salaka. Ia mendengar semua pembicaraan gurunya dengan Kebo Kanigara itu. Ia mengetahui pula, betapa gurunya kini benar-benar menjadi manusia yang luar biasa, yang tidak akan dapat dikalahkan oleh Pasingsingan. Dengan demikian gurunya sudah tidak akan lagi silau seandainya ia duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, kakeknya, dan orang-orang lain yang setingkat dengan mereka itu. Namun disamping itu, ia mendengar pula nasihat-nasihat Kebo Kanigara kepada gurunya.

Dengan demikian, di dalam hati Arya Salaka timbul pula harapan, bahwa apabila ia bekerja dengan tekun, iapun akan mampu pula menerima kekuatan seperti gurunya itu. Meskipun demikian, di dalam hatinya tumbuh pula janji kepada dirinya sendiri bahwa ia pun akan berbuat seperti gurunya, seperti apa yang dinasihatkan oleh Kebo Kanigara. Karena angan-angannya itu, maka tiba-tiba merasa badan Arya Salaka bergetar. Bergetar karena harapan pada masa yang akan datang, pada kesulitan-kesulitan yang masih harus diatasi.

Ketika kemudian Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar itu bangkit dari tempat duduknya masing-masing untuk beristirahat, dan membaringkan diri mereka masing-masing, Arya Salaka masih tetap berangan-angan.

Tiba-tiba meloncatlah perasaan rindunya kepada masa depan itu. Kepada masa dimana ia dapat menikmati cerahnya sinar matahari, tanpa perasaan was-was dan gelisah, tanpa perasaan cemas pada hari kemudian. Dan tiba-tiba saja ia merasa rindu pula kepada keluarganya, kepada ibunya yang mengasuhnya pada masa kanak-kanaknya dengan penuh kasih sayang, kepada ayahnya, yang meskipun terkadang-kadang marah kepadanya, namun dengan penuh keikhlasan seorang ayah telah mendidiknya menghadapi masa kemudian. Arya Salaka ingat benar betapa ayahnya berkata kepadanya, bahwa kelak ia akan menjadi seorang pahlawan. Semula ia mengira bahwa seorang pahlawan adalah seorang yang hebat berkelahi, yang tak terkalahkan oleh siapapun juga. Tetapi sekarang ia berpendapat lain. Karena pergaulannya dengan gurunya, dan karena umurnya yang semakin dewasa tahulah ia apa yang dimaksud dengan kata pahlawan.

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, malah hilir-mudiklah bayangan-bayangan masa lampaunya, masa kini dan harapan-harapan bagi masa mendatang. Meskipun ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba melenyapkan bayang bayang itu, namun semakin ia berusaha, semakin jelaslah bayangan-bayangan itu mengganggu.

Ketika ia membuka matanya kembali, dilihatnya sinar matahari yang masih sangat condong menembus dinding-dinding pondoknya, membuat lingkaran-lingkaran cahaya di lantai. Di kejauhan terdengar riuh burung-burung liar berkicau bersahutan. Suaranya terdengar betapa merdunya, semerdu lagu puji-pujian terhadap Tuhan, yang memperkenankan mereka masih menikmati indahnya pagi ini.

Sekali-kali di tengah-tengah rimba, melengkinglah kokok ayam hutan bersambutan, di sela-sela angin pagi yang berdesir lemah.

Di luar pondok itu, Arya Salaka mendengar orang berjalan hilir-mudik dalam kewajiban masing-masing, diantar oleh suara gerit timba serta debur air orang mandi.

Tetapi bayangan di dalam rongga matanya masih saja mengganggu otak Arya Salaka. Bahkan kemudian ia ikut pula dalam barisan-barisan angan-angan itu seorang gadis yang nakal, namun cukup memiliki daya hidup yang menyala-nyala di dalam dadanya. Mula-mula ia mencoba mengenal gadis itu baik-baik di dalam angan-angannya. Bentuk tubuhnya, senyum serta tawanya yang renyah, seolah tingkahnya yang penuh kejujuran.

Ah…” desah Arya Salaka. Sekali lagi ia mencoba melenyapkan bayang-bayang yang aneh-aneh itu sambil menarik nafas panjang. Tetapi bayang-bayang itu tetap tegak di dalam angan-angannya.

Arya Salaka kemudian bangkit dari tempat pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah ke arah pintu. Ketika ia berdiri di atas tlundhak pintu itu, ia melihat kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat lewat di mukanya. Kedua kakak-beradik itu dengan hormat membukuk kepadanya. Arya Salaka pun membungkuk sambil tersenyum bangga. Ia bangga kepada anak-anak Banyubiru yang gigih itu. Mereka ternyata tidak sekadar berbuat untuk mendapat pujian atau gelar-gelar yang menyenangkan, atau hadiah yang berharga. Tetapi mereka melakukan semua itu dengan penuh kesadaran. Sadar akan kewajibannya terhadap kampung halaman, sadar akan kesetiaannya kepada tumpah darah.

Dari ruang di sebelah, Arya mendengar nafas gurunya mengalir dengan irama teratur. Agaknya Mahesa Jenar itu telah tertidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba Arya Salaka pun menguap. Perlahan-lahan ia menutup pintu pondok itu dan perlahan-lahan ia berjalan ke tempat pembaringannya, untuk kemudian merebahkan diri. Karena lelah dan kantuk, akhirnya iapun tertidur pula.

Apa yang terjadi di perkemahan itu, ternyata telah memberikan keyakinan yang lebih tebal lagi bagi Mahesa Jenar maupun Arya Salaka, bahwa golongan hitam benar-benar telah meningkatkan kegiatannya. Mereka untuk sementara memang dapat bekerja bersama, diantara mereka menghanyutkan Banyubiru dengan harapan untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, dan mempergunakan Banyubiru sebagai sasaran pertama dalam usaha mereka membentuk pemerintahan yang akan dapat menjadi tandingan dari pemerintah di Demak. Bahkan dengan tujuan terakhirnya, melenyapkan kekuasaan Demak.

Dengan demikian, jelaslah kemudian, siapakah yang mula-mula membuat rencana itu. Dengan desas desus serta berbagai macam dalih dan alasan, akhirnya tergeraklah golongan hitam seluruhnya untuk berusaha mendapatkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, mereka mengadakan semacam perjanjian, siapa yang memiliki keris sipat kandel Kraton Demak itu akan diangkat menjadi pemimpin dari segenap gerombolan hitam yang terserak-serak hampir di segenap sudut Demak. Dalam himpunan itu, mereka mengharap dapat menguasai sebagian wilayah Demak dan mempergunakan wilayah itu sebagai daerah pancatan untuk menandingi kekuasaan Demak. Dalam penelahan Mahesa Jenar, rencana itu pasti timbul dari Pasingsingan. Apalagi ia telah menyuruh Lawa Ijo untuk mengambil pusaka-pusaka dari perbendaharaan Istana, yang sebenarnya perbuatan itu hanya sekedar usaha darinya untuk membuktikan apakah kedua pusaka yang diperebutkan itu bukan sekadar turunannya saja.

Meskipun dalam ilmu mereka, Pasingsingan merasa tidak lebih tinggi dari Sima Rodra, Bugel Kaliki, dan sebagainya, namun ia merasa bahwa ia memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir lebih daripada mereka itu. Sehingga bagi Pasingsingan, apabila keris-keris itu sudah berada di dalam salah seorang anggota gerombolan hitam, baginya akan lebih mudah untuk mendapatkannya daripada apabila pusaka-pusaka itu berada di istana atau di tangan golongan lain. Karena itu, demikian Pasingsingan mendengar Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jengkar dari Istana, demikian ia menyusun rencananya. Tetapi rencana yang disusunnya itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik. Sebab tiba-tiba muncullah Lembu Sora yang meskipun tidak termasuk di dalam golongan hitam, bahkan yang sebenarnya mempunyai pertentangan kepentingan, namun dalam beberapa hal mereka menunjukkan adanya persamaan perbuatan dan tingkah laku. Mereka sama-sama menaruh minat yang besar terhadap Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak untuk diserahkan kembali kepada yang berhak, tetapi mereka ingin kedua pusaka itu untuk diri mereka sendiri.

Sehingga, dengan demikian jelaslah bagi Mahesa Jenar, bahwa meskipun dalam gerak mereka dapat mewujudkan irama yang senada, namun di dalam tubuh mereka itu, seperti api di dalam sekam, setiap kali berkobarlah api pertentangan yang maha dahsyat untuk memuaskan nafsu kekuasaan mereka masing-masing. Meskipun demikian Mahesa Jenar yakin, bahwa mereka tak akan mampu untuk menyusun pemerintahan tandingan, namun apabila mereka mulai melaksanakan rencana mereka, berarti akan terjadi kekacauan dan keributan. Pembunuhan, perkosaan terhadap sendi perikemanusiaan dan banyak lagi hal-hal yang akan terjadi.

Rencana Pasingsingan menjadi semakin terpecah belah, ketika kemudian Gajah Sora telah bertindak jauh mendahului perhitungannya disusul dengan munculnya orang yang bernama Mahesa Jenar. Yang ternyata adalah orang itulah yang menentukan kegagalannya. Karena itu, tak ada jalan lain bagi Pasingsingan, kecuali membunuh Mahesa Jenar. Dalam keadaan yang terakhir, muncullah rencana Pasingsingan yang mahahebat menurut perasaannya. Mengarahkan segenap kekuatan golongan hitam untuk menghancurkan Banyubiru, memusnahkan orang-orang seperti Mahesa Jenar, Lembu Sora, Sora Dipayana, laskar Banyubiru kedua belah pihak, serta tunas-tunas masa depan, yaitu Arya Salaka dan Sawung Sariti sekaligus.

Mahesa Jenar dapat merasakan betapa dendam yang tersimpan di dalam tubuh golongan hitam itu kepadanya. Tetapi adalah menjadi tanggungjawabnya untuk menanggulanginya.

Rombongan dari Nusakambangan yang datang ke Banyubiru, serta rombongan Alas Mentaok yang datang di perkemahan ini, memperjelas keadaan. Ternyata ketajaman otak Mahesa Jenar cukup mampu untuk mengurai segala sesuatu yang mungkin bakal terjadi, serta yang telah direncanakan oleh golongan hitam itu.

Demikian lelahnya Arya Salaka pada saat itu sehingga ia tertidur demikian nyenyaknya. Ketika matahari telah lewat puncak langit, ia terkejut karena gurunya membangunkannya. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya Kebo Kanigara duduk menghadap hidangan makan siang. Nasi jagung dengan lauk daging binatang buruan dan sayur-sayuran.

Tidakkah kau lapar?” tanya Mahesa Jenar.

Arya Salaka menggeliat. Kemudian iapun segera bangkit dan pergi mencuci mukanya, untuk kemudian bersama-sama dengan Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar, menikmati makan siang dengan lahapnya.

Ketika mereka telah selesai makan, serta sisa-sisa makannya telah disingkirkan oleh Endang Widuri, tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata seperti kepada diri sendiri, “Itulah yang aku cemaskan, Kakang.

Arya Salaka tidak tahu maksud kata-kata itu. Agaknya gurunya telah lama membicarakan sesuatu masalah dengan Kebo Kanigara.

Kebo Kanigara mengangguk kecil. Tampaknya iapun sedang berpikir. Sesaat kemudian iapun menjawab, “Kita dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan.”

Arya memandang kedua laki-laki itu tanpa berkedip. Sebenarnya ingin juga ia mengetahui persoalannya, namun ia tidak berani bertanya. Ia menjadi semakin tertarik pada persoalan itu, ketika dilihatnya wajah gurunya menjadi bersungguh-sungguh.

Beberapa saat mereka kemudian berdiam diri. Seakan-akan masing-masing terbenam dalam persoalan yang kurang menyenangkan.

Di luar terik matahari seperti membakar daun-daun rerumputan yang menjadi kering karenanya. Tidak seberapa jauh dari pondok itu terdengar orang menumbuk padi dan jagung. Suaranya beruntun seperti suara orang berlagu dengan irama yang tetap. Di arah lain terdengar suara tempaan besi gemerinting bersahut-sahutan. Beberapa orang pandai besi sudah bekerja keras untuk membuat atau memperbaiki alat-alat pertanian dan bahkan ada diantara mereka yang membuat senjata.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Kakang, aku kira, aku perlu memberikan keterangan keterangan mengenai tugas kita kepada Arya Salaka.

Kebo Kanigara mengangguk mengiyakan, jawabnya, “Berilah ia gambaran apa yang sudah terjadi dan apa yang kira-kira akan terjadi.”

Arya Salaka mengingsar duduknya. Ia menjadi bergembira. Dengan demikian ia mengharap akan dapat mengetahui kesulitan-kesulitan apakah yang sedang membebani perasaan gurunya serta Kebo Kanigara.

Arya…” kata Mahesa Jenar, “Aku akan menceritakan perjalanan kami sebagai utusanmu ke Banyubiru. Aku akan mengatakan apa adanya, supaya kau mendapat gambaran yang benar terhadap daerahmu, serta orang-orang yang sedang berada di sana.

Arya Salaka mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar dengan penuh minat. Ketika kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang telah dialami selama ini, maka kata demi kata diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan seolah-olah ia sendiri ikut serta mengalami perjalanan yang kurang menyenangkan itu.

Meskipun Mahesa Jenar menceriterakan apa yang telah terjadi, namun ia mencoba untuk tidak menimbulkan kecemasan, apalagi ketakutan pada Arya Salaka. Ia mencoba untuk menyingkirkan sentuhan-sentuhan pada perasaan anak itu. Sebab ia tahu benar, betapa halusnya perasaan Arya Salaka sebagai seorang anak yang sejak belasan tahun harus sudah berpisah dari ikatan kasih sayang ayah bundanya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut mendengar pertanyaan Arya Salaka yang pertama. Ia tidak bertanya tentang kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya sendiri. Ia tidak bertanya, apakah dirinya masih mempunyai kemungkinan untuk kembali ke tanah pusakanya yang telah lama terlepas dari tangannya. Ia tidak bertanya apakah masih ada kemungkinan baginya untuk kembali ke Banyu Biru sebagaimana ayahnya. Tetapi pertanyaan yang pertama-tama diucapkan oleh anak muda itu adalah, “Paman, tidakkah Paman bertemu dengan Bunda?

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat ia berpandangan saja dengan Kebo Kanigara. Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu. Memang dalam saat yang gawat, seperti yang dihadapinya pada saat itu, terlupakanlah kepentingan-kepentingan lain, sehingga pada saat itu ia tidak bertanya dan berusaha menemui Nyai Ageng Gajah Sora. Karena itulah maka ia tidak berceritera tentang orang itu. Arya Salaka yang mendengarkan setiap kata demi kata, menjadi kecewa ketika ceritera Mahesa Jenar itu berakhir tanpa menyebut ibunya, justru ibunya itu bagi Arya Salaka adalah suatu kepentingan yang tak kalah artinya dari segenap kepentingan-kepentingan yang lain.

Akhirnya Mahesa Jenar menjawab, “Arya, aku minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat lebih banyak dari yang sudah aku lakukan. Sehingga dengan demikian aku tidak dapat menemui Nyai Ageng Gajah Sora. Tetapi karena kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana tidak mengatakan sesuatu, aku kira ibumu itu pun tidak mengalami sesuatu.

Mendengar jawaban itu Arya Salaka menundukkan wajahnya. Ia benar-benar kecewa. Demikian rindunya ia kepada ibunya, sehingga rasa-rasanya ia meloncat langsung ke Banyu Biru saat itu juga.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menyelami perasaan anak itu sedalam-dalamnya. Mereka merasa juga bahwa Arya telah menyalahkan mereka, kenapa mereka sama sekali tidak ingat kepada orang yang telah melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Maka berkatalah Mahesa Jenar perlahan-lahan dan hati-hati untuk menentramkan hati anak itu, “Arya, tenangkanlah hatimu. Berbanggalah kau, karena kau telah menjauhkan kepentingan pribadimu, terpisah dari ayah bunda, tetapi dengan menjunjung tinggi pengabdian diri terhadap sesama, terhadap rakyatmu dan terhadap Tuhanmu, sebagai sumber dari pengabdianmu menegakkan kebenaran dan keadilan.

Arya Salaka masih saja menundukkan wajahnya. Namun kata gurunya itu meresap pula di dalam kalbunya. Akhirnya ia mencoba untuk menghadapi kenyataan itu sebagai seorang laki-laki. Bagaimanapun kerinduan itu bergolak di dalam dadanya, namun ia mencoba untuk menekannya kuat-kuat. Bukankah kepentingan rakyatnya jauh lebih berharga dari kepentingan diri? Seandainya ia kemudian tenggelam dalam duka karena perasaan rindunya kepada bunda, apakah yang akan dapat disumbangkan kepada tanah perdikan Banyu Biru, tanah pusakanya? Karena itu maka kemudian ia mengangkat wajahnya. Dengan penuh tekad ia berkata, “Paman, biarlah aku lupakan perasaan rinduku kepada bunda. Lalu apakah yang harus aku kerjakan?”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bangga. Katanya, “Demikianlah putra Ki Ageng Gajah Sora….Tengadahkanlah dadamu, besarkanlah hatimu. Sebab di depanmu ternganga jurang kewajiban yang maha besar. Nah anakku, bersiaplah untuk dapat beberapa hari ini bersama-sama dengan segenap laskarmu, datang ke Banyu Biru.

Tiba-tiba wajah Arya Salaka jadi berseri. Dengan demikian ia akan bertemu kembali dengan tanah tercinta, dengan sawah ladang kampung halaman, meskipun mungkin harus ditebusnya dengan darah.

Beberapa saat kemudian, berjalanlah Arya Salaka meninggalkan pertemuan itu. Ia tidak tahu, kenapa yang mula-mula dilakukan adalah pergi kepada Endang Widuri dan mengabarkan rencana pamannya itu kepadanya.

Kita akan bersama-sama ke Banyu Biru?” tanya Endang Widuri yang tiba-tiba menjadi bergembira pula.

“Ya,” jawab Arya Salaka.

“Aku akan dapat melihat rumahmu yang pernah kau ceriterakan kepadaku dahulu di lereng pegunungan Telamaya,” sahut Widuri dengan mata yang berkiliat-kiliat.“Bukankah begitu?”

“Ya,” jawab Arya Salaka singkat.

“Dari halaman rumahmu dapat kita lihat wajah Rawa Pening yang berkilau…?”Widuri meluruskan.

“Bukan dari halaman rumahku, tetapi dari alun-alun di muka rumahku.” Arya Salaka membetulkan.

Ya. Dari alun-alun di muka rumahmu. Jadi rumahmu itu mempunyai alun-alun?” tanya Endang Widuri.

“Hem…” Widuri meneruskan, “Kalau begitu kau adalah anak seorang yang kaya dan terhormat. Menurut ayahku, di muka istana Demak pun ada alun-alun.”

“Tidak selalu,” potong Arya, “Ayahku bukanlah orang yang kaya. Tetapi adalah lazim bahwa di muka rumah kepala daerah perdikan terdapat alun-alun. Di Pamingit juga ada alun-alun. Di Pangrantunan, bekas rumah kakek dahulu juga terdapat alun-alun. Bahkan di muka rumah kademangan Paman Sarayuda di Gunungkidul, katanya ada alun-alun juga.

“Kapan kita berangkat?” Tiba-tiba Endang Widuri bertanya seolah-olah tidak sabar lagi menunggu sampai esok.

Arya Salaka menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya.

Sebulan… dua bulan… atau setahun lagi…?” tanya Endang pula.

“Seharusnya Arya Salaka-lah yang paling tidak bersabar.” Tiba-tiba terdengar suara Rara Wilis dari belakang mereka.

Segera mereka itu pun menoleh. Dan tiba-tiba terbersitlah perasaan malu di dalam dada Endang Widuri. Perasan yang selama ini belum pernah dirasakannya. Karena itu pipinya pun kemudian menjadi merah. Tetapi perasaan itu hanya sebentar menjalar di dalam dirinya, kemudian kembali terdengar suaranya renyah, “Kakang Arya Salaka pun sebenarnya tidak bersabar pula. Tetapi ia tidak mau mengatakannya. Sedang aku menjadi sangat ingin melihat kehidupan bukit Telamaya dan kecerahan wajah Rawa Pening di pagi yang bening.”

Rara Wilis tersenyum. Sebenarnya di dalam hatinya sendiripun tersimpan pula harapan, agar segala sesuatunya menjadi lekas terselesaikan. Sebagai seorang gadis ia lebih mudah tersentuh oleh perasaan rindu kepada keluarga. Kepada hidup kekeluargaan yang lumrah. Meskipun di dalam tubuhnya mengalir juga darah pengembara dari kakeknya, Pandan Alas, namun baginya lebih baik hidup tentram damai dalam pelukan keluarga yang bahagia. Bermain-main dengan anak dan suami serta bergurau dengan tetangga.

Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun ikut duduk bersama dengan Arya dan Endang Widuri. Ikut bercakap-cakap dengan mereka itu, untuk melupakan kerinduannya pada masa yang diimpikan. Namun ia pun sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia harus mengutamakan membantu orang yang dicintainya dalam mengemban kewajiban. Ia harus dapat menekan diri, dalam pergolakan masa kini.

Tetapi agaknya Mahesa Jenar tidak menunda-nunda waktu lebih lama. Ketika matahari pada sore hari itu terbenam, mulailah ia mengumpulkan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru, di gardu pimpinan. Kebo Kanigara, Rara Wilis bahkan Endang Widuri pun hadir pula. Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sedang Papat, Sendang Parapat, dan beberapa orang lagi.

Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar membeberkan segala sesuatu mengenai persoalan yang rumit yang menyangkut diri Arya Salaka. Karena itu ia ingin membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Tetapi tidak dalam rombongan kecil, tetapi mereka bersama-sama akan berangkat, sebagai suatu pernyataan bahwa apabila terpaksa, laskar Banyubiru yang setia itupun memiliki kekuatan yang tak dapat diabaikan.

Dalam keriuhan sambutan yang bergelora, disertai dengan keikhlasan berkorban dari para pemimpin laskar, terdengar Mahesa Jenar berkata, “Laskar Banyubiru yang setia, kalian harus ingat akan tujuan kalian. Sekali lagi aku katakan, kita kembali ke Banyubiru tidak akan membalas dendam. Kita datang ke Banyubiru untuk kepentingan kebenaran dan keadilan, untuk kepentingan kemanusiaan. Karena itu jangan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Bertentangan dengan perasaan keadilan dan bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan.”

Pertemuan itu menjadi hening. Suatu pertanda bahwa kata-kata Mahesa Jenar itu benar-benar meresap ke dalam dada setiap orang yang mendengarkan. Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, “Ingatlah bahwa kalian berada dalam satu pimpinan. Jangan berbuat sendiri-sendiri yang dapat merugikan nama baik kalian sebagai pejuang. Nah, sejak besok pagi, bersiagalah untuk setiap saat berangkat ke Banyubiru.”

Laskar Banyubiru yang setia itu menyambut pernyataan Mahesa Jenar dengan penuh tekad. Mereka menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga karena mereka sama sekali tidak mau menerima keadaan yang menyedihkan di tanah mereka. Karena itu ketika mereka mendapat kesempatan untuk kembali ke Banyubiru, mongkoklah hati mereka. Mereka tidak mengharap hal yang berlebih-lebihan. Mereka tidak mengharap untuk kemudian menjadi Demang, Lurah atau Bahu. Tetapi mereka sekedar mengharap pemerintahan yang adil dan jujur, berlandaskan pada sendi-sendi yang telah diletakkan sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipajana. Sebagai seorang yang patuh kepada agamanya, Ki Ageng Sora Dipajana mendasarkan pemerintahannya kepada ketaatannya, pengagungan dan kebaktiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tindak tanduk dan tingkah lakunya di dalam menjalankan pemerintahan, cinta kasih kepada sesama, kepada manusia sebagaimana Tuhan menjadikan manusia dengan penuh Cinta kasih, kepada tumpah darah, kampung halaman serta lingkungan yang dikurniakan Tuhan kepada manusia. Mendasarkan pemerintahan pada kepentingan rakyatnya serta mendengarkan dan melaksanakan pendapat mereka untuk kesejahteraan mereka lahir dan batin.

Tidak hanya dalam ucapan penghias bibir, tetapi benar-benar dalam pengamalan dan perbuatan.

Sendi-sendi itu pulalah yang kemudian diterapkan dalam pemerintahan Ki Ageng Gajah Sora di Banyubiru. Tetapi sejak masih berada di Pamingit, adiknya Ki Ageng Lembu Sora agaknya sedikit demi sedikit tersesat dari jalan itu. Sedikit demi sedikit ia tenggelam dalam kepentingan diri sendiri, nafsu lahiriah yang kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan sendi-sendi dasar yang menurut pengakuannya juga dianutya. Tetapi apakah artinya pernyataan, pengakuan dan kesediaan yang diteriakkan sampai menyentuh langit, namun dalam tindak tanduk dan tingkah lakunya bertentangan dengan kata-katanya…? Apakah artinya janji yang tidak pernah ditepati…? Apakah artinya pengabdian diri yang hanya berupa pameran lahiriah tanpa satunya kata dan perbuatan…? Beberapa orang yang pernah mengalami penderitaan lahir batin dapat menjadi saksi. Lapangan-lapangan yang pernah dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan tayub, mabuk-mabukan dan adu jago merupakan saksi-saksi bisu pula. Sedang tempat ibadah yang semakin hari semakin susut dikunjungi orang dapat merupakan saksi-saksi yang tak dapat dibantah. Penganiayaan dan tindak sewenang-wenang betapapun alasannya. Sebab sebenarnya bahwa pelanggaran atas azas-azas kemanusiaan adalah pelanggaran pula dari azas-azas ke-Tuhan-an.

Itulah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang Banyubiru yang setia. Setia kepada sendi-sendi dasar pemerintahan itu.

Dengan demikian, ketika matahari mulai menjengukkan wajahnya di keesokan harinya, sibuklah laskar Banyubiru mempersiapkan diri. Mereka mempertinggi irama latihan mereka, mempertajam pedang serta tombak mereka. Meskipun senjata-senjata itu bukan mutlak harus dipergunakan, namun terhadap orang yang bernama Lembu Sora dan Sawung Sariti, hal yang demikian itu tak dapat dikesampingkan.

Hari itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sendiri memerlukan menyaksikan latihan-latihan yang diselenggarakan tanpa mengenal lelah. Beberapa kali kedua orang sakti itu langsung memberikan nasehat-nasehat serta petunjuk-petunjuk. Bahkan beberapa orang yang cukup kuat, langsung mendapat latihan-latihan khusus dari Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara disamping usaha-usaha yang terus-menerus yang dilakukan oleh Mantingan, Wirasaba dan pimpinan laskar mereka sendiri.

———-oOo———-

II

Pada hari ketiga, ketika Mahesa Jenar menganggap bahwa waktunya telah masak, dipersiapkannya laskar Banyubiru itu. Dan pada suatu pagi yang cerah, didahului oleh pengantar kata dari setiap pimpinan kelompok, untuk memperteguh jiwa anak-anakBanyubiru itu, menjalarlah sebuah iringan yang seperti ular menelusuri jalan-jalan perbukitan. Di ujung barisan itu berjalanlah Mahesa Jenar di samping Arya Salaka. Kemudian di belakangnya berjalan seenaknya Endang Widuri di samping ayahnya. Perhatiannya sama sekali tidak tersangkut pada perjalanan yang penting ini, tetapi ia lebih senang memberhatikan lembah yang berwarna hijau kekuning-kuningan, diantara batu-batu padas yang merah tembaga menjorok seakan-akan menghadang perjalanan itu. Sinar matahari pagi yang dilemparkan ke lembah-lembah itu menari dengan lincahnya mempermainkan titik-titik embun yang masih tersangkut di ujung-ujung daun.

Ketika Arya Salaka muncul dari balik sebuah bukit kecil, tiba-tiba dadanya berdesir. Tanpa sesadarnya ia berhenti. Mahesa Jenar cepat dapat mengetahui perasaan apakah yang bergolak di dalam dada anak itu. Cepat Mahesa Jenar menariknya ke tepi dan memberi isyarat kepada pasukannya untuk berjalan terus. Ketika Endang Widuri lewat beberapa langkah di depan Arya Salaka, ia menoleh kepadanya dengan heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sebab kemudian kembali ia tertarik pada dataran yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang sudah cukup tinggi.

“Ai…” teriak gadis kecil itu, “Apakah itu?”

Ayahnya tertawa, dijawabnya, “Seharusnya aku mengajak kau merantau supaya kau tidak menjadi anak yang heran melihat matahari terbit.

Endang Widuri sama sekali tidak memperhatikan kata-kata ayahnya, bahkan kemudian ia berteriak gembira sekali, “Rawa Pening? Bukankah itu Rawa Pening?

“Ada apa dengan Rawa Pening?” tanya ayahnya.

Sejak lama aku ingin melihatnya. Kalau demikian, bukankah kita sudah tidak jauh lagi dari rumah Kakang Arya Salaka?” tanya Widuri pula.

Pertanyaan itu terdengar aneh bagi Kebo Kanigara. Tetapi sebagai seorang ayah dari seorang gadis yang sedang menjelang mekar, ia hanya menarik nafas. Tetapi kemudian terdengar jawabannya, “Widuri, Banyubiru masih jauh. Jalan lembah itu akan berkelok-kelok seperti ular yang sedang berenang. Meskipun demikian kau sudah dapat melihat arahnya dari tempat ini. Itulah Bukit Telamaya.”

Endang Widuri tidak tahu pengaruh apakah yang menjalar di hatinya, namun ketika ia mendengar nama itu, ia menjadi berdebar-debar.

Telamaya dalam pendengaran Endang Widuri, merupakan daerah yang sejuk, tenteram dan damai. Tiba-tiba angan-angannya memanjat tinggi ke alam cita. Meskipun ia belum pernah melihat daerah Bukit Telamaya, namun ia tiba-tiba menjadi sedemikian besar keinginan untuk pergi ke daerah itu, sebagai daerah yang menyenangkan.

Tanpa sesadarnya pula kemudian ia menoleh ke arah Arya Salaka. Anak muda itu ternyata masih berdiri tegak di samping Mahesa Jenar, memandang jauh ke arah lambung Bukit Telamaya yang membujur di hadapannya seperti raksasa yang tidur dengan nyenyaknya. Di balik bukit itu membayanglah warna biru kehijauan disaput oleh awan yang tipis, Gunung Merbabu. Kemudian Endang Widuri meneruskan perjalanannya dengan penuh angan-angan di kepalanya. Sebagai seorang gadis ia senang pada keindahan. Juga keindahan alam yang terbentang di hadapannya. Lembah, ngarai, jurang-jurang terjal dan dinding-dinding padas yang menjulang tinggi, ditelusuri oleh jalur-jalur putih, jalan setapak yang selalu dipergunakan oleh orang-orang yang mencari kayu di hutan-hutan. Di sana-sini jalur-jalur itu hilang terputus ditelah oleh hutan-hutan yang berserakan di lembah itu. Agak jauh di sebelah Rawa Pening, terbentanglah sawah yang luas. Setingkat demi setingkat pematang-pematang sawah itu seperti memanjat tebing pada sisinya. Tetapi daerah itu masih jauh.

Arya Salaka yang berdiri di samping Mahesa Jenar merasa betapa hatinya berdebar-debar menyaksikan semuanya itu. Seperti seorang akan menjelang kekasih yang telah bertahun-tahun tak bertemu. Sawah, ladang, kampung halaman rumahnya dengan pohon jambu yang lebat berbuah. Semuanya itu seperti hilir mudik di depan matanya. Dan dibalik kehijauan lambung Bukit Telamaya itulah tinggal seorang yang paling dicintai, serta dirindukannya, yaitu ibunya.

Mahesa Jenar ikut merasakan betapa perasaan rindu itu mengusik hati muridnya. Tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebab ia tahu pula bahwa kata-katanya akan dapat menambah gelora perasaan rindu itu.

Untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri. Di samping mereka berjalanlah iringan laskar Banyubiru. Di pundak merekalah terletak masa depan Bukit Telamaya itu, dan kepada merekalah bukit itu menggantungkan nasibnya.

Tiba-Tiba Arya Salaka menjadi semakin terharu ketika ia melihat keserasian yang mengetuk dadanya. Di hadapannya terbentang lembah yang hijau dibatasi oleh lereng bukit Telamaya, sedang di sampingnya menjalarlah laskar yang setia. Betapa kemudian tergambar di dalam otaknya itu seolah-olah merupakan seekor naga raksasa yang sedang berjuang untuk merebut kembali sebutir telur raksasanya yang teronggok di hadapannya. Arya menarik nafas. Bukit Telamaya itu seolah-olah sebuah permata yang berkilauan ditimpa cahaya matahari. Sinarnya memancarkan ke segenap penjuru, memerangi seluruh langit dan bumi.

Kemudian teringatlah anak muda itu akan sebuah kisah terjadinya Rawa Pening. Seekor naga yang rindu kepada ayahnya. Sedang ayah itu bersedia untuk menerimanya apabila ular itu sanggup melingkari gunung Merbabu. Tetapi sayang, bahwa panjang tubuhnya tidak memungkinkan, meskipun hanya kurang sejengkal. Karena itu ular raksasa itu tidak menyenangkan ayahnya. Dengan serta merta, lidah ular raksasa itu segera dipotongnya. Maka matilah ular itu. Tetapi jiwa ular itu kemudian berubah menjadi seorang kerdil yang menancapkan lidi di lembah bukit sebelah utara Gunung Merbabu. Tak seorang pun dapat menarik lidi itu. Karena itu kemudian orang kerdil itu sendirilah yang menariknya. Dari lubang bekas lidi itu memancarlah mata air yang semakin lama semakin besar dan besar. Akhirnya terjadilah di lembah itu sebuah Rawa. Rawa Pening.

Sekarang, Arya Salaka pun sedang melakukan tugas yang seolah-olah dibebankan oleh ayahnya. Melingkari bukit Telamaya. Pasukannya itulah ibarat tubuh ular yang harus mampu melilit bukit itu. Tetapi kalau kemudian panjang tubuh itu tidak memungkinkan, ia tidak akan menyambung hanya dengan lidahnya. Tidak dengan janji dan prasetya. Tetapi ia akan menyambung kekurangan itu dengan darahnya. Dengan nyawanya.

Arya Salaka terkejut ketika terasa setetes air menyentuh tangannya. Cepat ia mengusap matanya yang sedang mengaca. Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar pun agak terpaku juga pada kebesaran alam yang tergelar di hadapannya. Memang demikianlah tabiatnya. Setiap kali ia berhadapan dengan kebesaran alam, setiap kali ia menyebut nama Yang Maha Besar. Kalau ciptaan-Nya saja sedemikian agungnya, betapa Agung Yang Menciptakannya.

Ketika Mahesa Jenar menoleh kepadanya, Arya Salaka mencoba untuk tersenyum. Senyum yang diwarnai oleh gelora hatinya. Meskipun demikian, Mahesa Jenar melihat juga warna merah yang menyaput mata muridnya. Tetapi ia pura-pura tidak melihatnya dan malah ia bertanya kepada anak muda itu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan Banyubiru, sambil menengadahkan mukanya. “Arya, udara cerah. Sebentar lagi matahari akan sampai di atas kepala kita. Mudah-mudahan kita dapat beristirahat sebentar di hutan di depan kita.

Arya Salaka mengangguk. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, Paman. Hutan itu sudah tidak begitu jauh.”

“Kita perlu istirahat sebentar, Arya. Kemudian kita meneruskan perjalanan. Kita akan bermalam satu malam sebelum esok paginya kita sampai ke hadapan Bukit Telamaya itu.”

“Tidakkah hari ini kita lanjutkan perjalanan, Paman?” tanya Arya Salaka sekenanya.

“Tidak perlu,” jawab Mahesa Jenar, “Sebab menurut pertimbanganku, sebelum kita memasuki daerah itu, biarlah dua tiga orang mendahului menyaksikan keadaan. Sebab apabila terpaksa terjadi perselisihan, maka kita dapat mengetahui siapakah yang berada di pihak kita, dan siapakah yang berbeda pendapat dengan kita. Dengan demikian kita akan mendapat gambaran yang tegas, apakah yang perlu kita lakukan.”

Arya Salaka yang telah dapat menguasai perasaanya, sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata pertimbangan gurunya itu adalah benar-benar merupakan suatu tindakan yang berhati-hati dan penuh kewaspadaan. Karena itu ia menjawab, “Agaknya demikianlah yang seharusnya, Paman.”

Sekali lagi Mahesa Jenar melemparkan pandangannya ke Bukit Telamaya yang melintang di hadapannya, lembah, ngarai serta jurang-jurang yang terjal. Sekali lagi ia memandang cahaya matahari yang terpantul dari wajah Rawa Pening.

Maka kemudian katanya, “Marilah Arya, ujung pasukanmu telah berjalan agak jauh mendahului kita.

Arya tersadar dari perasaan rindu, haru serta gambaran-gambaran masa datang. Ketika ia menoleh ke belakang, dilihatnya laskarnya yang berjalan berjajar dua di jalan sempit itu telah hampir sampai ke pangkalnya. Di belakang pasukan itu dilihatnya Mantingan dan Wirasaba berjalan beriringan dengan Bantaran dan Penjawi.

Melihat Arya Salaka dan Mahesa Jenar yang seolah-olah sengaja menyaksikan seluruh isi laskarnya, Mantingan tersenyum. Kemudian setelah sampai di hadapan anak muda itu ia berkata, “Adakah yang kurang dalam barisan ini?”

Sambil berjalan di samping mereka itu Arya menjawab, “Tidak, Paman. Namun demikian aku mengharap bahwa barisan kita menjadi semakin lengkap. Apabila kita besok mulai memasuki Banyubiru, aku harap bahwa di samping Sang Saka Gula Kelapa, berkibar pula Panji-panji Dirada Sakti, sebagai lambang kebesaran tanah Perdikan Banyubiru, di dalam pelukan persatuan dan kesatuan Demak.”

Mantingan dan Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya, apalagi Bantaran dan Penjawi. Sehingga terdengarlah Penjawi menjawab, “Hebat. Kita pasang pula umbul-umbul dan tanda-tanda kebesaran lainnya. Bukankah dengan demikian pasukan kita akan bertambah megah?”

“Demikianlah hendaknya,” jawab Arya Salaka, “Asal hati kita bertambah megah dan besar.

Mahesa Jenar kagum akan kecepatan berpikir Arya. Dengan demikian ia benar-benar seperti menanti laskarnya berjalan dahulu untuk berbicara dengan Mantingan. Hilanglah kesan keharuan dari wajahnya. Hilanglah sikap kekanak-kanakannya yang rindu pada orang tua. Yang kemudian menjadi sikap seorang putra kepala daerah perdikan yang rindu pada kebesaran tanah perdikannya.

Kemudian untuk beberapa lama pasukan itu berjalan dalam keheningan. Tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata, namun di dalam dada masing-masing bergeloralah berbagai macam persoalan yang hilir-mudik, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi silih berganti. Wajah-wajah mereka kadang-kadang tampak cerah seperti cerahnya matahari, kadang-kadang menjadi suram oleh kenyataan yang mereka hadapi. Bahwa mereka harus melampaui banyak persoalan, untuk kembali kekampung halaman sendiri. Bahwa mereka merasa, seolah-olah mereka adalah orang buruan yang dikejar-kejar dan terasing karena mereka adalah perampok-perampok dan penjahat-penjahat. Bahwa mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang tak tahu diri dan membuat kadang-kadang diluar perikemanusiaan, hanya karena ia berkata, “Aku tetap setia kepada Banyubiru.” Apakah salah mereka dengan kesetiaannya itu? Kesetiaan yang dilandasi oleh kesadaran, bahwa dalam keadaan yang sedemikian ini, hanya pemerintahan yang berlandaskan kebenaran dan keadilanlah yang akan dapat menjamin ketentraman Banyubiru. Bahkan pulihnya hubungan yang wajar antara Banyubiru dan Pamingit, diantara segala sesuatu dapat dikembalikan kepada tempatnya yang sebenarnya. Sebab menurut keyakinan mereka, hanya dengan cara-cara yang demikian, Banyubiru akan dapat berkembang atas perkenaan Yang Maha Kuasa, serta sejahtera lahir dan batin. Akan bergemalah kembali kesibukan serta keriuhan para penjual dan pembali di pasar-pasar. Serta akan berkembanglah kembali usaha-usaha pendidikan, sebagai taburan benih buat masa depan. Hanya dari benih-benih yang baik serta pemeliharaan yang baiklah akan dapat tumbuh bibit-bibit serta pohon-pohon yang baik pula. Tetapi apabila pada bibit-bibit yang baik itu tidak pernah mendapat rabuk yang baik, bahkan kemudian disiram dengan racun, akan kerdillah pohon-pohon yang akan menjadi tempat bernaung di masa depan, serta akan muncul pulalah buah yang dihasilkan.

Demikianlah tanpa dirasa, oleh karena tekad yang memang sudah membaja, matahari telah berada di atas kepala. Sesaat kemudian pasukan itu memasuki sebuah hutan perdu yang tak begitu lebat. Ketika seluruh barisan itu telah ditelan oleh kesejukan rimba, terdengarlah suara sangkalala. Suatu pertanda bahwa pasukan itu harus berhenti beristirahat. Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar, Arya Salaka, Kebo Kanigara, Mantingan serta beberapa orang penting lainnya mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mereka memilih beberapa orang untuk mendahului laskar Banyubiru, melihat-lihat suasana. Di pundak merekalah diletakkan kepercayaan untuk mengabarkan kedatangan laskar mereka kepada rakyat Banyubiru. Laskar yang akan menempatkan mereka ke dalam wadah yang sewajarnya. Serta kepada mereka diletakkan tanggungjawab untuk memberikan warna kepada rakyat Banyubiru dalam menghadapi kehadiran laskar mereka. Mereka harus sadar, bahwa kedatangan laskar itu bukan berarti bencana seperti yang mereka sangka, yang ditimbulkan oleh berita-berita yang sengaja ditiup-tiupkan oleh berbagai pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.

Golongan hitam yang takut berhadapan dengan rakyat Banyubiru dan Pamingit yang bersatu bulat selalu berusaha untuk memperbesar perselisihan antara rakyat Banyubiru dan Pamingit, antara rakyat Banyubiru dan rakyat Banyubiru sendiri. Bahkan kadang-kadang mereka dapat menjadikan diri mereka seolah-olah laskar Banyubiru yang menyingkir ke Gedong Sanga untuk mengadakan pengacauan dan bahkan kadang-kadang perampokan atas rakyat Banyubiru sendiri. Namun kadang-kadang mereka dapat merubah dirinya untuk menjadi orang-orang Pamingit atau laskar Banyubiru yang menerima pemerintahan Lembu Sora untuk mengadakan penganiayaan atas orang Banyubiru yang dianggapnya setia kepada kampung halaman. Dengan demikian mereka telah menggali lubang yang semakin dalam antara dua keluarga sedarah itu.

Disamping itu, mereka yang telah disilaukan oleh kedudukan serta harta benda pun menjadi mata gelap. Mereka pun melakukan perbuatan yang serupa, yang tidak mereka sengaja telah membantu memperdalam jurang antara keluarga sendiri. Dari mulut mereka selalu timbul berbagai celaan dan hinaan terhadap laskar Banyubiru. Seolah-olah mereka tidak lebih dari gerombolan penjahat yang sama sekali tidak berbeda dengan penjahat-penjahat yang lain.

Tugas itu bukanlah tugas yang ringan. Karena itu dipilihlah diantara laskar Banyubiru itu beberapa orang yang dianggap akan dapat menunaikan tugas dengan baik. Pilihan itu jatuh kepada kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat dibantu oleh beberapa orang. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih agak kurang tenang dengan anak-anak muda itu. Karena itu akhirnya ia minta kepada tetua tanah perdikan Banyubiru, Wanamerta, untuk mengawasi pelaksanaan tugas itu.

Dengan senang hati mereka menerima kehormatan itu. Dengan penuh tekad mereka berjanji akan melaksanakan sebaik-baiknya, apapun yang akan terjadi dengan mereka.

“Sendang Papat dan Sendang Parapat…” pesan Mahesa Jenar, “Kalian datang ke Banyubiru bukan untuk menambah keributan, bukan untuk menakut-nakuti dan bukan untuk mengancam. Kalian datang ke Banyubiru untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang sewajarnya. Karena itu jangan menuruti darah muda kalian. Kita memilih kalian, karena kalian dalam wawasan kami dapat mempergunakan otak kalian dengan baik. Nah, seterusnya Paman Wanamerta ada di antara kalian. Jagalah keselamatannya. Turutilah nasehatnya. Kemudian datanglah kembali kepada kami dengan kawan yang lebih banyak, bukan lawan.”

Maka setelah beristirahat beberapa saat, rombongan kecil itu pun berangkat mendahului. Mereka mengharap bahwa menjelang malam, mereka sudah akan memasuki kota.

Sepeninggal rombongan itu, Mahesa Jenar menyusun rombongan yang kedua, untuk memenuhi anjuran Ki Ageng Sora Dipayana, membawa Arya Salaka menghadap. Tugas ini tak dapat dibebankan kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri bersama Kebo Kanigara.

Bantaran, Penjawi dan bahkan hampir segenap pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengerti, kenapa Mahesa Jenar masih saja melakukan hal-hal yang menurut pertimbangan mereka tidak akan berguna. Mereka menjadi tidak bersabar, bahwa mereka masih harus menunggu dan menunggu. Perjalanan dari Candi Gedong Sang ke Banyubiru itu terasa betapa panjangnya. Mereka menjadi gelisah karena dengan rombongan-rombongan itu mereka masih harus bersabar. Mereka harus menanti rombongan pertama itu kembali, seterusnya mereka pun harus menunggu Mahesa Jenar membawa Arya Salaka kepada kakeknya. Bukankah hal itu tidak akan banyak berarti?

Mahesa Jenar melihat kegelisahan itu. Karena itu ia berkata dengan sareh, “Para pemimpin laskar Banyubiru… aku masih mengharap kalian bersabar. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang penting bagi kita bukanlah menghantam Banyubiru dengan kekerasan, tetapi yang penting adalah penempatan kembali segala sesuatunya pada tempat yang seharusnya. Kita ingin melihat Ki Ageng Lembu Sora sudi meninggalkan Banyubiru. Nah, dengan mempergunakan pengaruh yang masih ada, dari hubungan darah yang rapat antara Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Arya Salaka, mudah-mudahan usaha kita tercapai tanpa setetes darah pun yang mengalir dari tubuh kita. Kita mengharap bahwa apabila Arya Salaka telah benar-benar berada di hadapan Lembu Sora, akan berubahlah pendirian pamannya itu. Sebab bagaimanapun juga anak ini adalah kemanakannya.”

Tiba-tiba dari antara para pimpinan laskar Banyubiru itu terdengar sebuah pertanyaan yang menggambarkan betapa kesal hati mereka “Tuan, kalau begitu apakah artinya kita berarak-arak kemari, kalau kita tidak menggilas Lembu Sora sampai ke anak cucunya? Sebab selama orang itu masih hidup beserta segenap pengikutnya, maka keadaan Banyubiru masih akan selalu ribut dibuatnya.

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Ia dapat mengerti sepenuhnya perasaan itu. Sejak semula mereka sudah bersiap untuk bertempur, seperti mereka siap pula bertempur melawan golongan hitam. Karena itu Mahesa Jenar menjawab dengan sareh, “Kedatangan kalian kemari adalah bukti dari kesetiaan kalian terhadap Banyubiru. Sebagai suatu kenyataan yang harus diperhitungkan oleh Ki Ageng Lembu Sora dalam keputusannya. Nah, para pimpinan laskar Banyubiru, aku berjanji untuk yang terakhir kalinya mengecewakan kalian. Kalau usahaku kali ini gagal, maka akulah yang akan memerintahkan kalian untuk menggempur Banyubiru, dan akulah yang akan berdiri di barisan yang paling depan bersama-sama dengan Arya Salaka. Sebab Arya Salaka-lah yang berwewenang atas tanah Perdikan Banyubiru, mengemban kewajiban memegang pimpinan. Kecuali ia adalah putra Ki Ageng Gajah Sora, suatu kenyataan yang tak dapat disangkal, bahwa Arya Salaka-lah yang menerima Tombak Kyai Bancak sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.”

Meskipun keterangan Mahesa Jenar itu belum memuaskan mereka, namun para pimpinan laskar Banyubiru itu mencoba untuk mengertinya. Tetapi mereka sadar bahwa untuk beberapa saat mereka akan melampaui masa-masa yang menjemukan. Menunggu dan menunggu. Sedangkan menunggu bagi seorang prajurit yang sudah bersiap untuk bertempur, adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Namun mereka adalah laskar yang mempunyai ikatan yang kuat, sehingga setiap perintah akan dilaksanakan dengan baik. Demikian juga perintah untuk menunggu itupun akan mereka laksanakan pula.

Ketika mereka sudah cukup beristirahat, kembali laskar Banyubiru itu melanjutkan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai ke perbatasan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai perbatasan menjelang senja. Di sanalah mereka akan berkemah, dan menghabiskan waktu-waktu mereka dengan sebal dan gelisah.

Di langit, matahari yang menyala-nyala berputar demikian cepatnya. Maka ketika sorotnya yang kemerahan di langit sebelah barat tenggelam di balik bukit-bukit, laskar Banyubiru itu telah sampai ke tujuannya. Mereka segera menempatkan diri sebaik-baiknya. Meskipun mereka tidak dalam gelar perang, namun mereka harus selalu bersiaga, kalau-kalau laskar Lembu Sora mendahului menyerang mereka. Sebagian dari para laskar itupun segera beristirahat, sebab besok mereka harus membangun perkemahan untuk beberapa hari lamanya.

Dalam pada itu Wanamerta, Sendang Papat dan Sendang Parapat telah pula memasuki kota Banyubiru. Untuk menjaga keamanan diri, mereka sengaja memilih jalan-jalan yang sepi. Satu-dua mereka bertemu juga dengan penduduk yang memandang mereka dengan curiga. Namun karena malam telah gelap, tak seorangpun yang dapat mengenalinya.

Karena itu, Wanamerta bersama kawan-kawannya dapat mencapai pusat kota dengan selamat.

Di sepanjang jalan mereka sempat membicarakan apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka pasti tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menemui orang-seorang, memasuki rumah yang satu ke rumah yang lain. Karena itu mereka mencoba untuk bertemu dengan penduduk Banyubiru dalam jumlah yang besar sekaligus.

Dari Bantaran mereka pernah mendengar bahwa orang-orang Banyubiru sekarang mempunyai kebiasaan yang menyedihkan. Menyabung ayam, judi dan tayub di lapangan di ujung kota. Maka ketika Wanamerta teringat pada ceritera Bantaran itu, ia berkata, “Sendang berdua, bukankah sebaiknya kita pergi ke tanah lapang itu?

Kakak-beradik itu ragu sejenak. Jawab Sendang Papat, “Paman, tidakkah perbuatan itu terlalu berbahaya?

Wanamerta tersenyum. Jawabnya, “Aku kira tidak, Sendang Papat, aku kira lebih mudah berbicara dengan orang banyak daripada berbicara dengan mereka satu demi satu, apabila kita dapat menempatkan diri kita. Tetapi kalau kita gagal, bahayanya menjadi lebih besar. Nah, biarlah kita mencoba mengail ikan yang besar sekaligus, meskipun umpannya pun harus besar.”

“Baiklah Paman,” jawab Sendang Papat. Meskipun dengan demikian mereka harus bersiap menghadapi bahaya.

Tiga orang yang pergi bersama mereka, berjalan agak jauh di belakang. Ketika Wanamerta sudah mengambil keputusan, maka segera Sendang Parapat menemui mereka, dan memberi mereka pesan-pesan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka ketika mereka mendengar suara gamelan tidak demikian jauh di hadapan mereka mulai dibunyikan, berkatalah Wanamerta, “Nah, itulah, mereka segera akan mulai dengan acara gila-gilaan itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Marilah kita mulai dengan permainan kita,” sambung Wanamerta, “Kita ambil jalan yang berbeda-beda, supaya kedatangan kita tidak menarik perhatian.

Maka Wanamerta pun kemudian berjalan sendiri, Sendang Papat dan Sendang Parapat beserta ketiga orang yang lainpun kemudian berpisah-pisah untuk seterusnya pergi ke tanah lapang yang memancarkan kemaksiatan yang memuakkan itu.

Ketika mereka sampai ke tempat itu lewat jalan-jalan berbeda dan berdiri ditempat yang berserak-serak dan gelap, segera mereka melihat kebenaran ceritera Bantaran itu. Mereka melihat beberapa orang tledek menari-nari di tengah arena dengan gerak-gerak yang menggairahkan. Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah penari yang baik pula. Tetapi mereka belum pernah mempelajari bentuk-bentuk tarian seperti yang ditarikan oleh tledek-tledek itu. Apalagi ketika mereka kemudian mengenal siapakah yang kemudian bersedia merendahkan diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan itu, tanpa sengaja. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta, tanpa berjanji, di tempat masing-masing menggeleng-gelengkan kepala mereka. Gadis-gadis itu ternyata beberapa tahun yang lalu adalah gadis-gadis yang baik, bahkan mereka adalah penari-penari yang baik pula. Tetapi tiba-tiba mereka sekarang menari dengan gaya yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Bahkan menurut penilaian mereka, gadis-gadis itu sama sekali tidak menari, tetapi mereka benar-benar mencoba untuk memancing-mancing nafsu jasmaniah yang rendah, dalam irama gelap yang gila-gilaan pula. Diantara nada-nada yang berirama panas itu terdengar suara pesinden yang tidak kalah gilanya dari tari-tarian itu sendiri. Pesinden yang telah kehilangan patokan-patokan seni suara.

Maka di lapangan itu terdapatlah suatu perpaduan antara tari-tarian, lagu dan irama yang benar-benar dapat membakar hangus dada yang berisi hati yang lemah. Namun sayang, terlalu sayang, bahwa justru tari-tarian, lagu dan irama yang demikian itulah yang kini mendapat penggemar-penggemar yang cukup banyak. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta melihat, betapa pemuda-pemuda sebaya dengan kakak-beradik Sendang itu, bahkan diantaranya masih sangat muda. Mereka telah benar-benar tenggelam dalam lagu-lagu yang sama sekali telah kehilangan bentuknya sebagai lagu, tari-tarian yang hanya memantulkan gairah tanpa keindahan dan watak. Apalagi harus dipanaskan dengan suasana yang benar-benar telah berubah seperti panasnya api neraka, telah menelan seluruh tanah lapang itu ke dalam suasana yang mengerikan.

Ketika Wanamerta dengan beberapa orangnya masih saja berdiri di dalam bayang-bayang yang gelap, mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama telah menyaksikan dua kali perkelahian diantara para penonton. Perkelahian orang-orang yang mabuk tuak, dibelai oleh suara tertawa beberapa orang perempuan dengan gembira sekali menyaksikan perkelahian itu. Namun di samping itu, Wanamerta dan kawan-kawannya, masih juga melhat beberapa orang laki-laki yang hanya berjongkok-jongkok saja menonton suasana itu dari kejauhan. Dari wajah-wajah mereka, Wanamerta menangkap beberapa kesan yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang kecewa karena kehabisan uang. Ada yang kecewa karena mereka menyaksikan tingkah laku yang seolah-olah kehilangan kesadaran. Ada yang kecewa karena sejak akhir-akhir ini mereka tidak dapat menyaksikan lagi bentuk-bentuk kesenian seperti yang pernah mereka nikmati dahulu.

Wanamerta tidak menunggu suasana menjadi bertambah ribut dan gila. Ia ingin menjumpai sesuatu pada orang-orang Banyubiru itu. Karena itu, ia tidak berlindung di bawah bayang-bayang yang gelap lagi. Dengan sengaja ia berjalan maju diantara orang-orang yang berserak-serak di tanah lapang itu. Di dalam hatinya bergolaklah berbagai macam perasaan sehingga terasa jantungnya berdebar-debar. Tiba-tiba Wanamerta merasa seperti seorang bekel Bayangkari pada masa pemerintahan Baginda Jayanegara yang bernama Gajah Mada. Setelah ia berhasil menyingkirkan Baginda Jayanegara dari pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti, kemudian ia kembali ke Majapahit mengabarkan kepada rakyatnya bahwa Baginda telah wafat. Ketika ia mengetahui bahwa rakyat Majapahit dan para pembesar berduka cita atas berita itu, tahulah ia bahwa rakyat masih cinta kepada Baginda Jayanegara. Demikianlah kali ini, ia harus berhadapan dengan rakyat Banyubiru, membawa kabar tentang laskar mereka.

Mula-mula tak seorangpun memperhatikan kehadirannya. Tetapi beberapa saat kemudian seorang demi seorang memandangnya dengan penuh perhatian. Mula-mula mereka ragu, apakah benar yang berdiri di antara mereka dengan sikap acuh tak acuh itu Kiai Wanamerta.

Ki Wanamerta pura-pura sama sekali tak merasakan perhatian orang kepadanya. Dengan berdiam diri, ia semakin maju, melihat pertunjukan di arena. Pertunjukan yang telah menjadi semakin gila dan panas.

Dalam pada itu terdengarlah bisik-bisik di antara para penonton. Seorang perlahan-lahan berkata kepada kawan yang berdiri di sebelahnya, “He Kakang, bukankah itu Kiai Wanamerta?

Dengan mengedipkan matanya, kawannya itu menjawab, “Kalau aku tidak salah lihat, beliaulah Kiai Wanamerta”

Mereka jadi berdiam diri. Tetapi karena keinginan mereka untuk mendapatkan kebenaran atas sangkaan itu, mereka berjalan perlahan-lahan mengikutinya. Ternyata bukan hanya kedua orang itu sajalah yang ingin melihat, apakah orang itu benar-benar Kiai Wanamerta. Dengan demikian para penonton di tanah lapang itupun berdesakan maju. Kali ini bukan karena tledeknya yang semakin membuat tingkah yang aneh-aneh, tetapi karena mereka ingin memandang wajah orang yang mereka sangka Kiai Wanamerta itu dengan lebih seksama lagi.

Diam-diam Kiai Wanamerta merasa, bahwa sedikit demi sedikit ia telah dapat menarik perhatian. Tinggal kemudian apakah ia dapat melakukannya dengan baik. Sekali dua kali ia menarik nafas untuk mengatur perasaannya, dan menenangkan debar jantungnya.

Ketika ia telah merasa yakin, bahwa hatinya tidak akan bergetar lagi, maka perlahan-lahan ia berjalan ke samping pertunjukan itu, untuk kemudian menjauhinya.

Orang-orang yang mengikutinya, masih saja berjalan beriring-iring di belakangnya. Bahkan semakin lama semakin banyak. Orang-orang yang semula tenggelam dalam lagu dan tarian yang sudah semakin bubrah itu, kemudian satu demi satu meninggalkan gelanggang. Sebab dalam pandangan mereka, kehadiran Kiai Wanamerta adalah sesuatu yang aneh dalam suasana yang demikian itu.

Para tledek, merasakan suatu keadaan yang berbeda dengan hari-hari yang telah mereka lewati. Mereka kali ini merasa seolah-oleh tidak mendapat perhatian dari para pengunjungnya. Malahan satu demi satu mereka meninggalkan arena. Karena itu, para tledek itu berusaha habis-habisan untuk mengikat penggemarnya. Mula-mula mereka memperpanas suasana dengan gerak-gerak yang semakin gairah. Tetapi ketika para penonton masih saja satu demi satu melangkah pergi, tledek-tledek itu benar-benar kehilangan akal. Mereka bernyanyi dan menari semakin liar, dan bahkan kemudian mereka lupa diri, bahwa mereka adalah manusia yang memiliki ikatan-ikatan susila, meskipun telah sejak lama dilanggarnya, namun tidaklah sehebat kali ini, dimana mereka menjerit-jerit dengan lagunya yang merangsang. Tertawa-tawa tak menentu, meskipun hatinya menangis, sebab apabila para penggemarnya sudah meninggalkannya, berarti tak ada makan di esok hari.

———-oOo———-

III

Kiai Wanamerta pun kemudian berhenti di tengah-tengah lapangan itu. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya menghadap kepada orang-orang yang mengikutinya. Ketika mata orang tua yang sejuk itu memandang mereka yang berderet-deret di hadapannya, maka tiba-tiba terasalah suatu tusukan yang tajam ke dalam setiap dada orang-orang Banyubiru itu. Meskipun Wanamerta belum mengucapkan sepatah katapun, namun cahaya matanya telah berkata banyak sekali. Bahkan setiap hati di dalam dada penduduk Banyubiru itupun ikut serta berkata-kata. Ikut serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, “Kenapa hal-hal semacam ini bisa terjadi…?”

Teringatlah mereka peristiwa beberapa bulan berselang. Ketika di tanah lapang ini pula, mereka menyaksikan perkelahian yang sengit antara Suraban dan Bantaran. Pada saat itu, mereka seolah-oleh telah berjanji untuk tidak akan mengulangi kelakuan-kelakuan mereka yang gila ini. Namun karena pengaruh keadaan, sedikit demi sedikit, tanah lapang yang penuh dengan kemaksiatan ini menariknya kembali. Dan sekarang yang berdiri di hadapannya bukan sekedar Bantaran, tetapi orang yang pernah menjadi kepercayaan Ki Ageng Sora Dipayana sejak Pangrantunan lama. Tetua tanah perdikan Banyubiru, Kiai Wanamerta.

Karena itulah maka beberapa orang diantara mereka menundukkan wajahnya, bahkan ada yang berusaha bersembunyi di punggung kawan-kawannya, supaya mukanya tidak terlihat oleh Kiai Wanamerta yang mereka hormati itu. Tetapi disamping perasaan yang demikian, disamping perasaan sesal dan malu, ada pula yang merasa betapa akibat yang akan ditimbulkan oleh kehadiran Wanamerta itu. Seperti pada saat Bantaran mengacau di tanah lapang itu, maka Wanamerta pun akan melakukan hal yang sama. Karena itu wajah orang-orang yang berpendirian demikian segera menjadi gelap dan tegang. Mereka memandang Wanamerta dengan perasaan benci.

Meskipun tanggapan mereka atas kehadiran Wanamerta itu berbeda-beda, namun tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata. Sementara itu para niyaga dan penarinyapun akhirnya mengetahui pula, apa sebabnya para penontonnya meninggalkan arena. Bahkan beberapa orang diantaranya segera meninggalkan pekerjaan mereka, dan ikut pula berderet-deret melihat tetua tanah perdikan mereka, yang dengan tiba-tiba ada diantara mereka.

Karena itu, maka untuk beberapa lama tanah lapang itu tenggelam dalam kesepian. Suara riuh gamelan dengan irama yang gila, suara perempuan tertawa, seperti iblis betina, segera lenyap dalam keheningan yang tegang.

Sesaat kemudian terdengarlah suara Wanamerta perlahan-lahan, namun merata ke segenap telinga, “Kenapa kalian berhenti bersuka ria?

Bergetarlah setiap jantung mereka yang mendengarnya. Namun tak seorang pun dapat menjawab.

“Kalian benar-benar telah menjadikan tanah kalian makmur. Ternyata dengan perbuatan kalian, siang-malam bersuka ria, bergembira atas kemakmuran kalian, seperti apa yang sering kalian lakukan dahulu hanya setahun sekali, sesudah kalian menuai padi musim basah. Itu saja kalian lakukan dalam batas-batas yang jauh lebih sempit daripada batas-batas yang kalian buat sekarang ini. Dalam batas-batas yang dibenarkan oleh kepribadian kita, dan lebih dari itu dalam batas-batas yang diperkenankan oleh agama kita.”

Tanah lapang itu menjadi bertambah hening. Dengan demikian gemersik daun yang disibakkan oleh angin, terdengarlah betapa kerasnya.

Ketika tak ada akibat apapun dari kata-katanya, Wanamerta meneruskan, “Aku datang untuk melihat kalian bersuka ria. Nah, teruskanlah.

Tak seorang pun beranjak dari tempatnya. Tetapi bagi mereka yang sejak semula merasa terganggu oleh kehadiran Wanamerta, menjadi semakin tersinggung oleh kata-kata ejekan itu.

Ketika untuk beberapa lama masih saja orang-orang Banyubiru itu berdiri seperti patung, Wanamerta meneruskan, “Kenapa kalian memandang aku seperti memandang hantu? Adakah kalian tidak mengenal aku lagi?”

Masih belum terdengar suara dari antara mereka.

He Berdapa, Uda, Saripan, berbicaralah,” sambung Wanamerta.

Yang disebut namanya menjadi semakin bingung. Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Tiba-tiba dalam ketegangan terdengarlah sebuah suara yang berat dan parau, “Kiai, apakah yang sebenarnya akan Kiai lakukan di sini?”

Pandang Wanamerta segera beredar ke arah suara itu. Suara yang keluar dari mulut seorang yang bertubuh jangkung, berkumis pendek seperti lalat yang hinggap di bawah hidungnya, dengan bibir yang tebal dan hidung yang melengkung seperti paruh burung.

“Ha, kau itu agaknya Sontani?” tanya Wanamerta.

“Ya, akulah,” sahut orang jangkung itu. Matanya memancarkan perasaan yang kurang senang atas kehadiran Wanamerta. Sebagai seorang yang pernah mendapat hadiah pangkat dari Lembu Sora, ia merasa berkewajiban untuk mengamankan daerahnya.

Ah, hampir aku tak mengenalmu lagi,” sambung Wanamerta, “Kau sekarang nampak begitu gagah.

Sontani adalah seorang yang sombong. Yang merasa dirinya mempunyai banyak kelebihan daripada orang-orang lain. Karena itulah maka sudah sewajarnya kalau ia diangkat menjadi bahu dan mengepalai pedukuhan Lemah Abang. Juga terhadap Wanamerta, ia ingin menunjukkan jabatannya, sebagai suatu kewajaran. “Kiai, aku berbicara sebagai kepala pedukuhan Lemah Abang. Karena itu jangan Kiai merajuk seperti anak-anak.”

Wanamerta terkejut. Lemah Abang, daerah pinggiran kota Banyubiru, semula berada di bawah pimpinan sorang tua yang saleh, Kiai Bakung. Tetapi ia sama sekali tidak mengesankan keheranannya, bahkan dengan tersenyum Kiai Wanamerta menjawab, “Aku mengucapkan selamat kepadamu Sontani. Tetapi lalu bagaimana dengan Kiai Bakung?”

“Huh,” jawab Sontani sambil mencibirkan bibirnya, “Orang tua yang tak tahu diri. Seharusnya ia lebih baik mengeram saja di rumahnya. Tak ada yang dapat dilakukan.”

Wanamerta mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Maka terdengarlah kembali suara Sontani, “Nah Kiai… aku ulangi pertanyaanku. Apakah yang akan kau lakukan di sini?”

Sekali lagi Wanamerta tertawa, jawabnya, “Sudah aku katakan, aku ingin melihat kalian bersuka ria.”

“Bohong!” bentak Sontani. Selangkah ia maju. Katanya kemudian, “Telah sekian lamanya kau menghilang. Sekarang tiba-tiba muncul seperti hantu bangkit dari kuburnya.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ia kurang senang mendengar kata-kata itu. Tetapi ia ingin bahwa suasana tidak rusak karenanya. Maka iapun menjawab, “Sontani, pertama, memang kedatanganku ini tertarik oleh suara gamelan yang demikian hangatnya. Kedua, aku memang sudah rindu kepada kampung halaman. Aku telah memutuskan untuk pulang dan hidup diantara kalian seperti sediakala.”

“Kiai, kau sudah tidak punya hak untuk kembali ke Banyubiru,” bantah Sontani.

“Kenapa?” sahut Wanamerta.

“Kau telah meninggalkan kampung halamanmu terlalu lama. Kau telah meninggalkan nama yang kotor. Bahkan sepantasnya kau sekarang ditangkap dan diserahkan kepada Ki Ageng Lembu Sora,” ancam Sontani.

“O….” jawab Wanamerta sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Ketahuilah Sontani, dan ketahuilah anak-anakku rakyat Banyubiru. Bukan saja aku yang berhasrat untuk kembali pulang kampung halaman, tetapi juga orang-orang lain seperti Bantaran, Penjawi, Sendang Papat dan Sendang Parapat, Wiraga dan yang lain-lain. Bahkan, dengarlah sebaik-baiknya, Cucunda Arya Salaka pun akan kembali ke Banyubiru.”

Oleh karena itu, tiba-tiba terdengarlah gumam yang merata di seluruh tanah lapang itu seperti beribu-ribu lebah sedang terbang berputaran. Mereka menjadi terkejut untuk sesaat, namun yang kemudian menjadikan mereka bertanya-tanya, kepada diri sendiri, kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, “Apakah berita itu benar…?

Gumam itu terhenti ketika Wanamerta melanjutkan kata-katanya, “Nah, apakah salahnya kalau kami pulang ke tanah kelahiran, setelah beberapa lama kami merantau menambah pengalaman?”

Sebagian besar dari mereka yang berdiri di tanah lapang itu, tiba-tiba dengan penuh kegembiraan mengharap kebenaran dari berita itu. Maka kembali terdengar mereka bergumam, “Mudah-mudahan berita itu benar.

Tetapi tiba-tiba disela-sela gumam yang bergetar di lapangan itu, terdengarlah suara Sontani lantang, “Bohong…!”

Kembali suara yang merata itu mendadak berhenti. Disusul dengan suara Sontani melanjutkan, “Apakah keuntungan kita dengan kedatangan anak itu?”

“Bukankah ia putra Ki Ageng Gajah Sora?” jawab Wanamerta.

“Tidak peduli anak siapa dia. Anak setan, hantu, thethekan. Anak itu melarikan diri pada saat Banyubiru mengalami bencana. Pada saat golongan hitam menyerang daerah ini. Untunglah bahwa pada saat itu seluruh rakyat Banyubiru bangkit melawannya bersama-sama dengan rakyat Pamingit. Kalau tidak, musnahlah tanah perdikan ini. Sekarang anak itu akan kembali dan masih menyebut-nyebut sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ketika ia akan menjawab, Sontani sudah berteriak pula, “Ia masih merasa berhak pula atas kedudukan ayahnya. Omong kosong. Aku yakin bahwa kedatangannya hanya akan menambah bencana saja. Setiap masa peralihan sama sekali tidak akan menguntungkan. Kiai, katakan kepada anak itu, supaya ia mengurungkan niatnya sebelum ia menyesal!”

Kata-kata Sontani itu agaknya mempengaruhi beberapa orang, lebih-lebih yang sejak semula memandang kehadiran Wanamerta itu sebagai bencana. Maka terdengarlah seseorang berteriak, “Jangan tambah kesulitan kami dan hal-hal yang tetek bengek. Biarlah kami hidup seperti apa yang kami alami sekarang ini.”

Mendengar teriakan-teriakan itu, Wanamerta tidak jadi menjawab kata-kata Sontani, bahkan ia berdiam diri untuk memberi kesempatan kepada mereka berteriak-teriak sepuas-puasnya. Sebab apabila keinginan mereka berteriak itu terhalang, maka semakin bernafsulah mereka. Sehingga suaranya sendiri tidak akan dapat didengar orang. Agaknya kesempatan itupun dipergunakan sebaik-baiknya oleh orang-orang yang tidak menghendaki kehadirannya. Maka terdengarlah bersautan, “He, Wanamerta. Jangan bikin ribut di tanah yang kau anggap tanah kelahiranmu ini.”Disusul oleh yang lain, “Kami tidak perlukan anak itu. Juga tidak kami perlukan kau, Wanamerta.”

Orang-orang yang semula mengharap kebenaran berita tentang kehadiran Arya Salaka, lambat laun menjadi ragu pula. Apakah untungnya? Pergeseran-pergeseran kekuasaan hanya akan menambah keributan. Satu demi satu merekapun terpengaruh oleh teriakan-teriakan yang semakin ribut. Bahkan akhirnya seorang berteriak, “Pergilah kau Wanamerta, keledai tua yang tak tahu diri. Pergi…. Pergi….”Disaut oleh suara gemuruh, “Pergi…. Pergi…. Biarlah kami menikmati malam-malam yang indah ini tanpa gangguan. He, Nyi Gadung Sari, menarilah, biar Kiai Wanamerta tergila-gila kepadamu.” Terdengarlah kemudian suara tertawa seperti meledak di tengah-tengah tanah lapang itu.

Sendang Papat dan Sendang Parapat yang berdiri di bawah bayang-bayang yang gelap, hampir-hampir tak dapat menguasai diri mereka. Peluh dingin mengalir di segenap bagian tubuhnya. Tangan mereka sudah bergetar di hulu keris mereka. Namun ketika mereka masih melihat Kiai Wanamerta berdiri dengan tenangnya, merekapun menahan diri mereka sekuat-kuatnya. Memang pada saat itu Wanamerta masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak. Ia memandang setiap wajah orang-orang Banyubiru yang seakan-akan telah kehilangan akal itu. Dibiarkannya mereka berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan.

Teriakan-teriakan itupun semakin lama menjadi semakin keras dan ribut. Tetapi mereka tak berbuat lain daripada berteriak-teriak. Ketika mereka masih melihat Wanamerta berdiri saja seperti patung, mereka menjadi heran. Dengan demikian teriakan-teriakan itupun menjadi semakin berkurang. Apalagi ketika mereka melihat ketenangan yang membayang di wajah orang tua itu, seolah-oleh teriakan-teriakan mereka itu seperti suara angin yang berdesir, menyegarkan tubuhnya.

Wanamerta mengamati keadaan secermat-cermatnya. Ia berusaha untuk memperhitungkan waktu sebaik-baiknya. Ketika suara teriakan-teriakan itu sudah susut, berkatalah ia dengan lantangnya, “He, Nyi Gadung Sari kenapa kau belum juga menari? Marilah kita menari bersama-sama. Bukankah Wanamerta juga seorang penari yang baik? Lebih baik dari kalian yang berada di tanah lapang ini?”

Suara Wanamerta itu benar-benar mengejutkan. Apalagi Nyi Gadung Sari sendiri. Tetapi yang lebih terkejut adalah mereka yang mengharapkan Wanamerta menjadi marah. Dengan demikian mereka punya alasan untuk mengusirnya. Tetapi ternyata orang tua itu sama sekali tidak marah.

“Saudara-saudaraku serta anak-anakku, bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan kembali ke kampung halaman? Bukankah dengan demikian aku harus menyesuaikan diri dengan cara hidup kalian?”

Teriakan-teriakan dari orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu telah benar-benar berhenti. Ada diantaranya yang sudah puas, ada yang karena suaranya telah menjadi serak parau. Tetapi ada juga yang karena terkejut mendengar kata-kata Wanamerta yang sama sekali tak mereka duga sebelumnya.

“Bukankah kalian menghendaki agar aku tidak mengganggu kalian?” tanya Wanamerta.

Sementara suasana menjadi hening. Namun sesaat kemudian terdengar beberapa orang menjawab, “Ia benar, jangan ganggu kami.

Aku berjanji untuk tidak mengganggu kalian.” Wanamerta meneruskan, “Bahkan aku ingin menyesuaikan diri dengan kalian. Bukankah apa yang kalian lakukan itu sangat menarik? Menari-nari menyanyi dan bergembira sepanjang hari. Bukankah dengan demikian kalian akan awet muda?” Wanamerta diam sesaat. Maka kembali tanah lapang itu ditelan kesepian. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas yang saling memburu. Ketika tak seorang pun yang memotong kata-kata itu, Wanamerta meneruskan, “Inilah kelebihan kalian dari masa-masa lampau. Dari jaman nenek moyang nenek moyang kita. Apa yang kalian lakukan sekarang belum pernah terjadi di tanah perdikan ini sejak masa tanah ini masih bernama Pangrantunan. Kita sekarang tidak perlu bekerja keras, tidak perlu membanting tulang untuk tanah kita yang sudah melimpah ruah ini. Sawah ladang, parit-parit dan jalan-jalan. Begitu?”

Tanah lapang itu menjadi semakin sunyi. Namun dada orang-orang Banyubiru menjadi semakin riuh. Benarkah mereka sekarang tidak perlu lagi bekerja keras? Benarkah sawah ladang mereka telah melimpah ruah? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelora di setiap dada. Dan perlahan-lahan mereka menggelengkan kepala mereka.

“Nah…” sambung Wanamerta, “Sekarang kita tidak usah bersusah payah, berpikir tentang tetek bengek. Kita sekarang tidak usah bersusah payah berpikir tentang kesejahteraan kampung halaman lahir maupun batin. Begitu?”

Tak satu suara pun yang terdengar, sehingga Wanamerta berkata terus, “Jadi bagaimana? Atau kita memang menghendaki hal-hal seperti ini berlangsung terus? Kita biarkan masjid-masjid, banjar-banjar desa dan balai-balai kita menjadi sarang labah-labah dan runtuh sedikit demi sedikit seperti keruntuhan akal kita…? Bagus-bagus. Demikian agaknya yang kalian kehendaki. Mari, mari anak-anakku. Marilah kita berpikir tentang diri kita sendiri. Tidak perlu tentang tanah pusaka kita yang tercinta. Karena itulah maka aku sependapat dengan kalian. Menyabung ayam di siang hari, judi, tuak dan tayub di malam hari seperti sekarang ini. Hem….”

Wanamerta berhenti untuk menelan ludahnya. Wajahnya telah basah oleh peluh yang mengalir dari keningnya. Kata-katanya seakan-akan menghunjam ke dalam dada orang-orang Banyu Biru yang berdiri tegak berhimpit-himpitan di sekitarnya. Ketika tak seorang pun menjawab ia meneruskan lagi, “Dan sekarang semua itu ada pada kita. Menyabung ayam, judi, perempuan, dan apalagi…?”

Kata-kata itu tajamnya seperti sembilu. Mereka yang semula terseret oleh arus kebencian kepada orang tua itu, sekali lagi menundukkan wajah mereka. Mereka menjadi sangat malu kepada diri sendiri. Seterusnya Wanamerta berkata, “Nah, sekarang kalian boleh memilih. Tenggelam dalam lumpur kemaksiatan atau tegak kembali lewat jalan kebenaran. Atau kita menunggu masanya kita menjadi hancur dengan sendirinya, kemudian orang-orang dari kalangan hitam akan menari-nari di atas bangkai kita bersama. Sadar atau tidak sadar apa yang kalian lakukan adalah sangat menguntungkan dan mempercepat keruntuhan kita. Lahir dan batin. Sekarang kita dapat tertawa, menari dan menyanyi. Tetapi besok kita akan mati dengan bau tuak menghambur dari mulut kita. Dan kita telah kehilangan jalan untuk menghadap kembali kepada Tuhan kita.”

Tanah lapang itu benar-benar seperti padang luas yang kosong. Sepi hening. Yang terdengar kemudian adalah Wanamerta kembali, “Sekarang kalian tinggal memilih.Aku berada di pihak kalian. Dan apakah kalian pernah melihat wayang? Apakah kalian pernah mendengar ceritera Baratayuda? Pada saat Pendawa menuntut haknya kembali dari para Kurawa…?”

Juga tidak seorangpun yang memotong kata-kata Wanamerta, sehingga ia dapat meneruskan, “Dalam ceritera pewayangan, wayang beber atau wayang kulit, diceriterakan bahwa akhir dari Baratayuda itu, yang sayang tidak memuaskan kita semua. Kenapa akhir dari Baratayuda itu menunjukkan kemenangan pihak Pendawa? Tidak Kurawa?” Wanamerta melihat kegelisahan rakyat Banyubiru yang berdiri mengelilinginya. Pada wajah-wajah mereka tampak ketegangan yang mencekam. Tetapi masih belum seorang yang berkata sepatah katapun. Yang terdengar kemudian adalah suara Wanamerta kembali, “Nah, baiklah lain kali kita mengadakan pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam. Sejak Kresna Duta sampai Karna Tanding, lalu seterusnya kita ubah, Arjuna lah yang mati oleh Adipati Karna dari Awangga. Dan seterusnya berturut-turut habislah Pandawa setelah para putra gugur lebih dahulu. Juga Parikesit kita bunuh.”

Meskipun Wanamerta bercakap terus, namun perhatiannya tidak terlepas dari setiap wajah yang dengan tenang dan gelisah mendengar kata-katanya. Ceritera wayang, apalagi Baratayuda dianggap keramat oleh penduduk Banyubiru. Tiba-tiba secara tepat Wanamerta mengungkapkan sindirannya dengan mempergunakan ceritera itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah seseorang berkata, meskipun perlahan-lahan, “Tidak bisa Kiai, Baratayuda tidak bisa diubah demikian.

Wanamerta pura-pura terkejut mendengar perkataan itu. Dengan mengerutkan keningnya ia menjawab, “Kenapa tidak bisa? Bukankah Prabu Astina, Prabu Kurapati dapat memberi kepada rakyatnya keleluasaan seperti yang kita kehendaki. Sabung ayam, judi, tayub, tuak dan sebagainya, sedang orang-orang Pendawa sepanjang hidupnya hanya prihatin saja?”

“Tidak, Kiai,” terdengar suara yang lain, “Kita tidak menghendaki demikian. Kita tidak menghendaki seperti orang-orang Astina di Banyubiru.”

“He…?” kembali Wanamerta pura-pura terkejut. “Apakah yang kau katakan?”

“Kami tidak menghendaki hal itu terjadi di Banyubiru,” ulang suara itu.

“Yang mana tidak kau kehendaki? Bukankah raja Astina Ratu Gung Binatara, Raja yang kaya? Bukankah adinda baginda yang berjumlah 99 orang itu semuanya pandai berjudi, tayub dan tuak? Bukankah di Astina ada seorang pendeta yang putus saliring ilmu, agal alus, yang kasat mata, yang tidak kasatmata? Yang bernama Dorna?”

“Tidak… tidak…” terdengar beberapa orang memotong kata-kata Wanamerta, “Kami tidak menghendaki itu.”

“Itu yang mana…?” Wanamerta memancing ketegasan mereka.

“Judi. Kami tidak mau judi,” jawab yang lain.

“O, hanya itu saja?” desak Wanamerta.

“Tidak. Tidak hanya itu. Kami tidak mau tuak,” jawab beberapa suara berbareng.

“Judi dan tuak itu saja?” Wanamerta merasa bahwa ia hampir mencapai maksudnya.

Dan ada yang didengarnya kemudian sangat menyenangkannya. Orang-orang Banyubiru itu kemudian berteriak, “Tidak. Kami tidak mau judi, tuak, tayub dan sabung ayam. Kami bukan orang-orang Astina. Kami adalah orang-orang Banyubiru.”

“Tunggu dulu,” potong Wanamerta, “Bukankah putra-putra Astina berada dalam asuhan Maha Pendeta Dorna yang bijaksana, yang dapat memberikan kepada mereka kenikmatan jasmaniah, rohaniah dalam kekuasaan mereka atas Astina?”

“Kami tidak mau pendeta itu. Kami tidak mau orang semacam Dorna.” Terdengar mereka berteriak-teriak, “Pendeta degleng, pendeta bermulut ular.

“Jadi bagaimana seterusnya? Bagaimana dengan akhir dari Baratayuda itu?” tanya Wanamerta.

Prabu Kurupati terbunuh. Semua adik-adik terbunuh. Pendeta Dorna mati di tangan Drestajumena yang berhasil memancung lehernya,” sahut mereka bersama.

“Tetapi dengan demikian masyarakat yang kita cita-citakan. Jadi, kemenangan Pendawa berarti kemenangan keprihatinan dari kemenangan lahiriah, tetapi juga berarti kemenangan dari jiwa rohaniah yang tawakal, percaya kepada keadilan Yang Maha Pencipta. Dengan demikian kita tidak akan dapat membayangkan masyarakat seperti masarakat kita malam ini. Tetapi masyarakat yang bekerja keras menuju tata kehidupan yang tenteram damai tata tentrem karta raharja, gemah ripah lohjinawi”.

Semua terdiam. Hening. Sepi. Seandainya sepotong lidi jatuh di tengah lapang itu, suaranya pasti akan sangat mengejutkan. Angin malam yang lembut mengusap wajah-wajah yang terbanting-banting.

 Dalam keheningan itu tiba-tiba terdengar suara Wanamerta gemuruh seperti guruh yang membelah langit-langit lapis, “Hei rakyat Banyubiru, katakan kepadaku sekarang, adakah kalian masih tetap pada pendirian kalian? Supaya aku membiarkan kalian hanyut dalam arus kesenangan lahiriah, yang berpangkal melulu pada nafsu yang tak terkendali seperti sekarang ini?” Tak ada suara yang terdengar. Karena itu Wanamerta meneruskan, “Jawablah pertanyaanku. Adakah kalian masih akan meneruskan cara hidup kalian sekarang ini? Judi, tuak, tayub dan berkelahi sesama kita karena kita sudah mabuk…?”

Mula-mula yang terdengar hanyalah suara-suara bergumam. Namun kemudian terdengarlah suara mereka saur manuk, “Tidak…tidak… tidak….” Wanamerta kemudian meneruskan, “Nah, dengarlah baik-baik. Aku ingin bertanya sekali lagi, apakah cara hirup kita ini akan kita akhiri?”

“Ya, Kiai, ya, ya, kita akhiri sampai di sini,” sahut mereka berebut keras.

“Bagus. Itulah yang aku harapkan. Rakyat Banyubiru yang sejati. Kalian harus melupakan racun yang dengan perlahan-lahan membunuh kalian, membunuh semangat kalian, sehingga kalian lupa pada masyarakat yang kalian cita-citakan, lupa kepada kampung halaman, lupa kepada pribadi kalian. Nah, dengarlah baik-baik. Arya Salaka itu akan datang. Benar-benar akan datang.”

Tiba-tiba meledaklah suara mereka gemuruh. “Kita sambut anak muda itu diantara kita. Kita sudah sampai pada ceritera Lahirnya Parikesit. Dan Parikesit itu akan datang membebaskan kita.”

Teriakan-teriakan yang gemuruh itu mengumandang sampai beberapa saat. Tiba-tiba diantara suara gemuruh itu terdengar sebuah teriakan, “Belum. Kita belum sampai ke sana. Kita masih harus menyelesaikan Baratayuda dahulu.”

“Marilah kita tuntut hak kita, hak atas tanah dan kampung halaman sendiri,” teriak yang lain.

Dalam keriuhan itu terdengarlah suara Sontani menggelegak menggetarkan tanah lapang itu, “Omong kosong! Omong kosong semuanya. Apakah yang akan kalian tuntut? Tak seorangpun merasa kehilangan hak atas tanah ini sekarang.”

Tiba-tiba suara riuh itu mereda. Karena itu Sontani meneruskan, “Apakah yang hilang dari milik kalian. Tanah, sawah, halaman dan rumah kalian. Bukankah barang-barang itu masih tetap di tanganmu. Dan bukankah tak ada seorangpun yang merampasnya?”

Suara riuh itu kini menjadi diam. Memang mereka yang berdiri di tanah lapang itu masih memiliki tanah mereka, sawah mereka dan rumah mereka. Tetapi kemudian terdengarlah suara Wanamerta tenang, “Kau benar Sontani, tetapi aku dan kalian harus membayar upeti lebih dari dua kali lipat dari upeti yang harus kalian bayar dulu.”

“Benar, benar….” Kembali mereka berteriak-teriak.

Muka Sontani menjadi merah padam. Ia merasa terdesak. Tetapi ia tidak akan membiarkan keributan itu terjadi. Kalau rakyat Banyubiru itu menerima Arya Salaka, belum pasti ia akan tetap menjabat pangkatnya yang sekarang. Ia tidak peduli apakah dengan demikian ia berkhianat atau tidak. Yang penting ia menjadi kepala pedukuhan Lemah Abang. Karena itu Sontani harus berusaha keras untuk melawan Wanamerta. “Upeti adalah kewajiban setiap tanah perdikan untuk membiayai tanahnya. Kalau upeti tanah ini terpaksa berlipat dua, itu adalah karena kebutuhan-kebutuhan kamipun meningkat pula,” katanya.

Wanamerta tersenyum, jawabnya, “Apakah yang pernah dihasilkan oleh upeti itu? Adakah kau dapat membangun rumah-rumah pendidikan? Banjar-banjar desa…? Bukankah selama ini tak satu pun rumah baru berdiri di Banyubiru? Yang sudah adapun tak terpelihara lagi. Bahkan tempat-tempat ibadahpun tidak ada. Dan bukankah upeti itu mengalir ke Pamingit?”

“Benar, benar….!” Teriakan itu semakin mengumandang.

Sontani tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ia melompat menembus lingkaran manusia yang berdiri di sekeliling Wanamerta, sambil berteriak, “Persetan dengan sesorahmu. Kau hanya akan mengacau saja di sini. Pergi atau aku tangkap kau.”

Wanamerta masih tegak di tempatnya seperti tugu. Dengan masih setenang tadi ia menjawab, “Jangan marah Sontani. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa? Bukankah semula akupun telah mengatakan semuanya itu? Bahkan semula akupun telah mengatakan bahwa aku berada di pihak kalian, apapun yang kalian kehendaki. Dan sekarang kalian menghendaki meletakkan segala sesuatunya pada tempat-tempat yang sewajarnya, yang seharusnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan judi, tuak, nafsu dan kekuasaan. Inilah suatu usaha untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya.”

“Jangan berkicau, menco tua. Aku perintahkan kau meninggalkan tempat ini sebelum aku sumbat mulutmu dengan tanganku.” Sontani sudah tidak dapat menyabarkan diri lagi.

“Jangan Sontani,” jawab Wanamerta masih setenang tadi, “Akibatnya tidak akan menjadi lebih baik.”

Tetapi Sontani telah kehilangan akalnya. Ia melangkah semakin dekat. Wajahnya yang keras dan matanya yang hitam kelam, menunjukkan betapa kerasnya hatinya.

Sementara itu Sendang Papat dan Sendang Parapat telah meninggalkan tempat mereka. Dengan tanpa menarik perhatian, mereka telah berada diantara rakyat Banyubiru yang berdesak-desakan itu. Mereka melihat betapa Sontani dengan marah menghampiri Wanamerta. Tetapi karena Sontani agaknya seorang diri, maka Sendang Papat dan Sendang Parapat pun menyabarkan diri mereka dan melihat saja apa yang akan terjadi.

“Wanamerta…” kata Sontani dengan suara yang bergetar oleh kemarahannya.“Jangan menjawab pertanyaanku. Tetapi kau hanya bisa melaksanakan. Tinggalkan tempat ini.”

Wanamerta masih belum bergerak. Tetapi orang-orang yang berdiri melingkar itu menjadi cemas. Sontani adalah seorang yang benar-benar keras hati. Ia benar-benar dapat melakukan apa saja yang ia katakan. Tetapi Wanamerta belum juga beranjak dari tempatnya. Maka ketika ia melihat Sontani semakin dekat di hadapannya, ia mencoba untuk sekali lagi menjawab. Tetapi demikian Wanamerta menggerakkan mulutnya, Sontani sudah membentaknya, “Jangan menjawab dengan kata-kata, pergi!” Wanamerta memandanginya dengan seksama. Dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya. Maka ketika ia sudah mendapat ketetapan hati, sengaja ia berkata, “Kenapa tidak boleh?”

Sontani telah benar-benar marah. Ketika ia mendengar Wanamerta masih berkata lagi, ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Dengan satu loncatan ia telah berhasil menangkap baju Wanamerta dan mengguncangnya sambil membentak, “Jangan menjawab. Kau hanya bisa pergi dari sini.”

Gerakan Sontani itu tiba-tiba telah menggerakkan semua orang yang berdiri di sekeliling mereka berdua. Tiba-tiba mereka menjadi sedemikian benci terhadapnya. Terhadap orang yang gila pangkat dan gila hormat itu. Ketika Sontani sekali lagi mengguncang baju Wanamerta, terdengarlah sebuah teriakan, “Lepaskan dia Sontani, lepaskan.”

Sontani melirik ke arah suara itu. Namun ia tidak mau mendengarkan. Sehingga tiba-tiba dari arah lain terdengar pula suara, “Sontani, jangan main kekerasan.”

“Diam kalian!” bentak Sontani, “Aku dapat berbuat apa yang aku kehandaki. Jangan turut campur.”

“Jangan keras kepala Sontani.” Terdengar suara yang lain, “Supaya kami tidak berkeras kepala pula.”

Sontani menjadi gemetar. Tetapi suara-suara itu terus saling menyusul. “Lepaskan dia….. Lepaskan dia…. Atau kami harus melepaskannya?” Disusul pula dengan suara-suara yang mulai bernada kemarahan. “Pergi kau Sontani. Pergi kau. Atau kami harus memaksa?”

Tetapi diantara teriakan-teriakan itu terdengar pula jerit pengikut-pengikut Sontani,“Hantam dia. Hantam kambing tua itu.”

Sontani melihat pengikut-pengikutnya. Dengan demikian ia menjadi semakin sombong. Sekali lagi ia menggoncang-goncangkan baju Wanamerta itu sambil menggeram, “Babi tua, jangan banyak tingkah.”

Pada saat itulah maka keadaan hampir tak dapat dikuasai lagi. Kedua belah pihak hampir saja bertindak, dan apabila demikian, di tanah lapang itu akan terjadi medan pertempuran kecil-kecilan. Tetapi, tiba-tiba Wanamerta berteriak tanpa memperdulikan Sontani, “He, orang-orang Banyubiru. Sadarlah pada diri kalian masing-masing. Jangan dibiarkan perasaan kalian menjerat kalian ke dalam suatu perbuatan yang tolol.”

Teriakan Wanamerta itu ternyata berpengaruh juga. Beberapa orang mengurungkan niatnya dan memandangnya dengan heran. Sementara itu, orang tua yang telah dipenuhi oleh pengalaman dalam pemerintahan dan pengendalian terhadap orang-orang Banyubiru itu memandang Sontani langsung ke dalam matanya. Mata yang memancarkan kemarahan, ketamakan dan nafsu yang tak habis-habisnya. Ketika Sontani melihat mata orang tua itu, ia terkejut. Seolah-olah dari dalam mata itu memancarkan pengaruh yang aneh. Sehingga tiba-tiba Sontani membuang matanya ke arah orang-orang Banyubiru yang berdiri, dengan tenang, namun masing-masing telah bersiap untuk memukul dan berkelahi.

Lepaskan Sontani,” kata Wanamerta lirih. Lirih saja. Tetapi bagi Sontani terdengar seperti guruh yang meledak di atas kepalanya. Ia mencoba untuk melawan pengaruh kata-kata itu dengan menggenggam baju itu lebih erat dan mencoba menarik Wanamerta ke dadanya, namun Wanamerta itu menjadi seperti tugu yang tegak dan tak tergerakkan. Bahkan sekali lagi ia berkata lirih, “Lepaskan Sontani, lepaskan.”

Tangan Sontani bergetar. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia melepaskan tangannya perlahan-lahan. Ia tidak dapat melawan pengaruh perbawa orang tua yang dahulu sangat dihormatinya itu. Tetapi demikian tangannya terlepas, demikian ia sadar, bahwa Bahu Lemah Abang akan lepas dari tangannya apabila Arya Salaka benar-benar akan datang. Karena itu, didorong pula oleh kesombongannya, serta untuk menutupi kelemahannya, ia berteriak, “Aku lepaskan kau kelinci tua, tetapi pergilah dari sini.”

Wanamerta tidak mendengarkan lagi kata-kata itu, tetapi ia berkata kepada orang-orang Banyubiru, “Apa yang kalian lakukan? Aku lihat kalian akan berkelahi satu sama lain”. Mereka yang membenarkan kata-kata sebagian besar dari kalian, melawan mereka yang berpihak kepada Sontani. Kenapa kalian…? Bukankah kalian sama-sama orang Banyubiru? Aku berterima kasih kepada kalian yang berusaha untuk menyelamatkan aku. Aku tahu itu. Dan aku berbangga pula melihat pengikut-pengikut Sontani yang berani, meskipun jumlah mereka tidak sebanyak yang lain. Tetapi aku sedih melihat pertentangan kalian. Aku sedih melihat kalian akan bertempur satu sama lain, sesama orang Banyubiru.

Keadaan menjadi hening. Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata itu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Bagaimanakah seharusnya mereka berbuat? Bukankah mereka harus merebut hak atas tanah ini? Tetapi mereka tidak boleh berbuat apa-apa.

Wanamerta melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan, “Anak-anakku, jangan berbuat sendiri-sendiri. Hal itu sama sekali tidak akan menguntungkan. Tidak bagiku dan tidak bagi Sontani. Yang harus kalian lakukan hanyalah menempa tekad untuk melebarluaskan berita itu. Kalian hanya akan menyambut kedatangannya dua tiga hari lagi di tanah ini dengan tombak Kyai Bancak di tangannya. Pembicaraan seterusnya biarlah dilakukan oleh yang berhak membicarakannya. Yaitu Arya Salaka dan yang mengembaninya, yaitu Mahesa Jenar. Selebihnya tunggu perintahnya.

Wanamerta masih melihat keheranan terbayang di wajah mereka. Keheranan seperti yang terbayang di wajah-wajah laskar Banyubiru di Gedong Sanga ketika mendengar keputusan Mahesa Jenar bahwa mereka masih harus menunggu. Tetapi disamping itu Wanamerta merasa berbangga bahwa ia dapat langsung berbicara dengan mereka dan memberikan kepada mereka jalan lurus yang harus mereka tempuh. Meskipun ia yakin bahwa apa yang sudah dicapainya itu tidak boleh terlepas lagi.

Tetapi sementara itu Sontani menjadi bermata gelap. Ia tidak dapat mendengar, otaknya tak dapat menahannya. Karena itu dengan suara yang mengguruh ia berkata, “Wanamerta, baiklah kalau kau tidak mau pergi. Dan baiklah kalau kau masih akan berteriak-teriak terus. Karena aku sudah cukup memberi kau kesempatan, aku sekarang terpaksa bertindak terhadapmu. Menyumbat mulutmu.”

Wanamerta melihat mata Sontani telah menyala-nyala. Ia tidak mungkin lagi menghindari bentrokan dengannya. Tetapi ia tidak mau orang-orang Banyubiru terlibat ke dalam bentrokan itu. Orang-orang yang sebenarnya tidak banyak menentukan penyelesaian masalah hanya karena berkelahi sesamanya. Karena itu ia menjawab, “Baiklah Sontani. Kau ingin aku diam, tetapi aku ingin berbicara terus. Kita berlawanan kehendak. Karena itu terserah apa yang akan kau lakukan dan biarlah aku mencoba untuk berbuat atas kehendakku pula. Tetapi satu hal yang akan aku katakan kepada orang-orang Banyubiru dan termasuk pengikut-pengikutmu. Tenaga mereka masih sangat diperlukan buat masa depan. Buat ketentraman terakhir. Karena itu kalau ada perbedaan pendapat diantara kau dan aku, janganlah menyangkut mereka.”

Sontani mendengar kata-kata itu. Ia sadar bahwa kata-kata itu berarti suatu tantangan tanding seorang lawan seorang. Ia menjadi bergembira, sebab iapun tahu bahwa pengikutnya tidak sedemikian banyak berada di tanah lapang itu. Maka ia menjawab lantang, “Suatu kehormatan bagiku orang tua yang sombong. Dahulu aku mengagumimu. Tetapi waktu itu aku adalah seekor anak ayam yang kagum melihat ayam jantan berkokok di atas pagar. Tetapi sekarang tidak. Akulah ayam jantan itu.”

Wanamerta menarik nafas. Ia adalah seorang yang mempunyai cukup pengalaman. Ia adalah emban kepala daerah perdikan ini. Sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana, ia telah menjabatnya. Karena itu iapun cukup tajam untuk menilai seseorang. Terhadap Sontani, iapun dapat menilai pula dengan tepat. Ia tidak lebih dari seorang yang besar kepala, sombong dan keras hati.

Kau benar,” jawab Wanamerta, “Kau adalah ayam jantan itu. Hanya saja kau adalah ayam jantan yang berkokok setelah matahari hampir terbenam.”

Sontani menggeram. Sekali dua kali ia melihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat Sendang Papat dan Sendang Parapat yang tersenyum melihat kesombongannya.

Dengan sombongnya seolah-olah berkata kepada rakyat Banyubiru, “Inilah aku, Sontani Bahu dari Pedukuhan Tanah Abang.”

Kemudian kepada Wanamerta ia berkata, “Wanamerta, bukan salahku kalau kemudian tanganmu patah, atau lehermu terpuntir. Sebab kau adalah orang tua yang tak tahu diri.”

Wanamerta tersenyum. Senyum yang sangat menjemukan bagi Sontani. Karena itu ia menggeram sekali lagi dan berkata, “Bersedialah. Lihatlah bintang-bintang di langit dengan seksama, barangkali ini untuk yang terakhir.”

“Yang terakhir?” tanya Wanamerta heran.

Ya, sebab ada suatu kemungkinan, bahwa dengan tersentuh tanganku kau akan mati,” jawab Sontani dengan sombongnya.

Wanamerta mengangguk-angguk. Sontani benar-benar sombong. Dan kesombongan itu menjengkelkan sekali. Maka jawab Wanamerta, “Gemintang yang bercahaya-cahaya itu. Jadi aku tidak akan memandangnya untuk yang terakhir kalinya. Tetapi kalau kau yang mati, mungkin karena pokalmu sendiri, kau akan berdiam menjadi ampas Rawa Pening.”

Hati Sontani menjadi semakin menyala. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, “Jagalah mulutmu baik-baik Wanamerta, sebab aku ingin sekali meremasmu.

Wanamerta segera bersiaga, dan dengan suatu loncatan yang cepat, Sontani mulai menerjang. Beberapa orang yang berdiri disekitarnya berdesakan mundur. Dada mereka tergoncang. Sontani adalah seorang yang kasar dan keras hati. Karena itu serangannya pun kasar pula. Beberapa orang menjadi cemas apakah Wanamerta dapat menjaga dirinya menghadapi Bahu Pedukuhan Lemah Abang yang sedang gila untuk mempertahankan kedudukannya itu.

Wanamerta heran melihat serangan Sontani yang dapat demikian cepat. Ia mengenal Sontani lima tahun yang lalu, sebagai seorang yang selalu merasa tidak puas. Dan sekarang orang itu berjuang untuk mempertahankan kepuasan-kepuasan yang pernah dicapainya. Kepuasan-kepuasan lahiriah yang tak berharga sama sekali.

Wanamerta segera menghindarkan diri dengan satu gerakan yang sederhana. Dan itu menambah kemarahan Sontani. Meskipun beberapa tahun yang lampau ia benar-benar mengagumi orang tua itu, tetapi sementara ini ia merasa bahwa ia telah bertambah dewasa dalam ilmu tata perkelahian. Dengan gerakan-gerakan yang keras, ia bertempur dengan penuh nafsu. Tangannya bergerak berputar-putar, seolah-olah roda yang berputar-putar hendak menggilas lumat orang tua yang memuakkan itu. Mengalami serangan yang datang bertubi-tubi itu, Wanamerta menarik dirinya beberapa langkah surut. Ia baru dalam taraf mempelajari gerakan-gerakan lawannya yang cukup cepat dan berbahaya itu. Tetapi Sontani yang sedang marah itu tidak memberinya kesempatan. Sebagai seekor harimau yang gila, ia meloncat menerkam, menghantam, bertubi-tubi. Tetapi Wanamerta cukup berpengalaman. Karena ia merasa lebih tua, maka ia menjaga agar ia tidak kehabisan nafas di tengah jalan. Karena itu ia bertempur dengan sangat menghemat tenaga. Meskipun demikian, setiap gerakan Wanamerta cukup memberi perlawanan yang gigih. Sehingga setelah beberapa saat mereka bertempur, Sontani sama sekali tak berhasil menyentuhnya. Karena itulah maka hatinya menjadi semakin membara. Dengan demikian ia menjadi semakin buas dan liar. Sontani mengerahkan segenap tenaganya untuk secepatnya menghancurkan orang tua yang akan menjadikan sebab hilangnya kekuasaan yang sudah berada di tangannya atas pedukuhan Lemah Abang yang subur di pinggiran kota Banyubiru itu. Menghadapi serigala yang marah itu, Wanamerta harus berhati-hati pula. Sebab segala gerakan Sontani selalu dilambari oleh segenap kekuatannya. Dan ia adalah orang yang cukup mempunyai tenaga. Hanya sayang bahwa tenaganya tidak disalurkannya dengan tepat. Bahkan seperti terhambat tak berarti. Tetapi meskipun demikian, apabila serangannya itu dapat mengenai sasarannya, agaknya akan berbahaya juga. Karena Wanamerta masih selalu menghindari serangan-serangan Sontani, maka seolah-olah Wanamerta menjadi terdesak. Rakyat yang berdiri di sekitar perkelahian itu menjadi cemas, sebab mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Sontani pun berpendapat demikian pula, meskipun ia hampir tidak sabar karena serangan-serangannya tak pernah mengenai sasarannya.

Diantara para penonton itu tampak Sendang Papat dan Sendang Parapat tersenyum-senyum. Lima tahun yang lampau, memang agaknya Sendang Papat dan Sendang Parapat itu tidak lebih dari Sontani. Tetapi setelah mereka menggembleng diri di bawah asuhan Ki Dalang Mantingan, Wirasaba, bahkan kemudian mereka itupun mendapat petunjuk-petunjuk dari Mahesa Jenar sendiri. Maka ia melihat betapa lemahnya serangan-serangan Sontani. Mereka dengan tersenyum melihat betapa Wanamerta dengan sabarnya melayani permainan Sontani yang menjemukan dan sama sekali tidak bermutu. Wanamerta tidak ingin melihat keadaan semakin keruh. Agaknya Wanamerta berusaha untuk mengalahkan Sontani tanpa melukainya.

Tetapi Sontani agaknya benar-benar orang yang tidak berotak. Ia sama sekali tidak menyadari keadaan. Karena itu ia malahan menjadi semakin berbesar hati dan sombong. Bahkan kemudian ia berteriak-teriak, “Jangan berlari-lari seperti kelinci menghadapi serigala, Wanamerta yang malang. Agaknya kau telah terjerumus karena kesombonganmu ke dalam sudut yang celaka. Tetapi janganlah kau ingkar pada kejantananmu. Kepada sesumbarmu yang seolah-olah membelah langit.”

Wanamerta menggeleng lemah. Sambil menghindar terus ia menjawab, ”Sontani, seingatku, seumur hidupku aku tidak pernah sesumbar. Karena itu, aku tidak malu seandainya aku kalah dalam pertempuran. Kekalahan bukan berarti kehilangan kejantanan. Seorang jantan pun dapat kalah pula. Kalah dalam kejantanannya sebagai suatu kenyataan.”

Sontani tertawa. Karena tertawa, ia memperlemah serangannya. Katanya, “Ha, kau sudah semakin ketakutan. Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Berjongkoklah dan minta maaf kepada Bahu Pedukuhan Lemah Abang agar kau kuampuni karena kesalahanmu. Setelah itu kau harus meninggalkan lapangan ini dengan merangkak sampai ke batas tanah lapang.”

“Sejak umur setahun aku sudah tidak biasa lagi merangkak, Sontani. Maafkan kalau aku tidak dapat memenuhi permintaanmu,” jawab Wanamerta.

Sontani membelalakkan matanya. Ia mengharap Wanamerta benar-benar minta maaf kepadanya, meskipun seandainya ia tidak dapat memenuhi perintahnya itu seluruhnya. Tetapi tiba-tiba Wanamerta menjawab sedemikian menyakitkan hati. Karena itu sekali lagi Sontani berkata untuk menghina orang tua itu, “Aku beri kesempatan dalam hitungan lima kali. Setelah itu tak ada kesempatan lagi bagimu. Kalau akan aku tangkap, aku cukur gundul dan aku arak berkeliling kota besok pagi.”

Wanamerta tidak menjawab. Ia membiarkan saja Sontani menghitung untuk memuaskan hatinya. Tetapi ketika Sontani sampai ke hitungan yang ketiga, tiba-tiba Wanamerta mulai dengan melontarkan beberapa serangan balasan. Sontani terkejut. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wanamerta yang tua itu masih mampu bergerak sedemikian cepat dan berturut-turut. Karena itu ia sama sekali kurang bersiaga, sehingga beberapa serangan Wanamerta itu berturut-turut mengenai tubuhnya. Tidak hanya sekali, tetapi dua-tiga kali, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut. Mengalami perisitwa itu tiba-tiba mata Sontani yang hitam kelam itu menjadi memerah darah, seolah-olah dari sana menyembur api yang menyala-nyala. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit oleh serangan lawannya, tetapi karena perasaan yang bercampur baur. Marah, malu, muak dan segala macam. Tetapi dalam pada itu, ia menjadi semakin bernafsu untuk menghancurkan musuhnya itu. Dalam tanggapannya, serangan Wanamerta itu adalah karena kelengahannya. Meskipun demikian ia sama sekali tidak menjadi jera, sebab pukulan Wanamerta, meskipun mengenainya tetapi tidak menyakitkan. Namun dengan perasaan itu ia telah membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya. Ia tidak menyadari bahwa Wanamerta sebenarnya tidak menggunakan seluruh tenaganya. Ia hanya mempergunakan kecepatan dan mendorong dada Sontani, menyentuh pundaknya dan dengan kaki ia menyinggung lambungnya.

Tetapi kemarahan Sontani telah benar-benar menggelapkan pikirannya. Ia benar-benar sudah tidak dapat menimbang untuk rugi dari perbuatannya itu. Dengan demikian ia menjadi semakin membabi buta. Menerjang, menghantam, memukul dengan penuh nafsu. Ia berkelahi seperti serigala gila sedang kelaparan. Dari mulutnya terdengarlah nafasnya memburu dan geramnya yang seram.

Wanamerta membiarkan Sontani bertempur dengan cara yang demikian. Ia mengharap Sontani akan kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Dengan demikian ia tidak mengalahkannya dengan menyinggung kehormatannya beserta pengikut-pengikutnya.

Tetapi Sontani berpendirian lain. Karena pikirannya yang gelap itulah ia tidak dapat menimbang apa yang akan dilakukan. Apakah akibat yang bakal timbul, dan apakah itu akan menimbulkan korban ataukah tidak. Ketika ia merasa bahwa tenaganya sudah mulai berkurang karena peluh yang sudah membasahi tubuhnya seperti orang mandi, ia menjadi tidak bersabar lagi. Ia ingin dengan segera menangkap dan menghinakan lawannya di hadapan umum. Sedangkan Wanamerta benar-benar licin seperti belut. Sebenarnya heranlah Sontani, bahwa orang setua itu masih mampu menghindarkan diri dari serangan-serangannya yang mengalir seperti banjir. Tetapi bagi Wanamerta, Sendang Papat dan Parapat, gerakan-gerakan itu sama sekali tidak seperti banjir sungai yang paling kecil sekalipun. Gerakan-gerakan itu tidak lebih dari gerakan-gerakan yang hanya dikendalikan oleh nafsu dan kesombongan. Kepercayaan yang berlebih-lebihan terhadap diri sendiri, sehingga tidak mampu lagi untuk melihat kenyataan. Perasaan yang demikian itulah yang mendorong seseorang ke dalam sudut kekalahan. Sebab kesombongan dan sikap menghina lawan adalah unsur utama dari kekalahan itu sendiri.

Demikian juga Sontani. Ia merasa dirinya berlebihan. Tetapi sekali waktu ia mengalami peristiwa yang ia takut mengakuinya. Ia takut berpikir bahwa sebenarnya Wanamerta adalah lawan yang tak dapat dikalahkan.

Oleh karena itu, oleh perasaan yang bercampur baur itulah kemudian ia menjadi bermata gelap. Dengan penuh kemarahan ia berteriak nyaring, “He Wanamerta, bertempurlah dengan laku seorang jantan. Jangan hanya mampu berlari dan menghindar. Bertahanlah, dan marilah kita sama-sama mengangkat dada.”

“Hem…” gumam Wanamerta. Di dalam hati ia mulai menyesali sikap Sontani yang keras kepala itu. Tetapi ia menyabarkan diri.

Ketika beberapa saat kemudian Wanamerta masih belum menjawab, sekali lagi Sontani berteriak, “Hai, kelinci betina. Bertempurlah dengan dada tengadah. Jangan lari berputar-putar seperti ayam disembelih. Kalau kau takut mati dalam pertempuran ini, bertobatlah dan mintalah ampun.”

Wanamerta menggeleng lemah. Tetapi ia tetap menunggu sampai Sontani kehabisan tenaga. Karena itu perlahan-lahan ia menjawab, “Kau belum sampai ke hitungan yang kelima, Sontani.”

Alangkah sakitnya hati Sontani. Ia sendiri sudah lupa pada hitungan itu karena serangan Wanamerta yang tiba-tiba. Sekarang dari lawannya itu ia mendapat peringatan akan kelalaiannya. Karena itu ia menjadi bertambah marah dan tiba-tiba terjadilah apa yang dicemaskan oleh Wanamerta. Apa yang sejak semula dihindari, sehigga ia lebih senang menghindari serangan Sontani itu terus menerus tanpa menjatuhkannya. Dengan penuh kemarahan, Sontani berteriak, “Hei orang-orang Lemah Abang yang setia. Tangkap kelinci tua ini.”

Perintah itu benar-benar menggetarkan hati Wanamerta. Bukan karena ia takut seandainya ia terpaksa melawan seluruh pengikut Sontani, bahkan seandainya ia terpaksa mati karenanya. Tetapi dengan menggerakkan pengikutnya, Sontani harus menghadapi akibat yang barangkali tak pernah dipikirkan. Karena itu Wanamerta mencoba mencegahnya. Dengan nyaring ia berteriak, “Tunggulah Sontani.

Tetapi, Sontani benar-benar telah kesurupan setan. Ia tidak mendengar seruan itu, bahkan beberapa orang pengikutnya yang mendengarnya menganggap bahwa Wanamerta telah menjadi ketakutan. Dengan demikian mereka semakin bernafsu dan berloncatan maju, mendesak orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Bahkan beberapa orang mereka dorong jatuh tanpa peringatan apapun.

Gelang raksasa yang terdiri dari manusia yang berjejal-jejal itu tampak bergerak-gerak. Beberapa orang masih belum sadar apa yang akan terjadi. Baru ketika beberapa orang berloncatan memasuki arena, tahulah mereka bahwa Sontani bersama-sama dengan pengikutnya akan menangkap Wanamerta itu beramai-ramai.

———-oOo———-

IV

Itulah permulaan dari bencana yang menimpa diri Sontani. Sebab orang-orang yang telah terbuka hatinya, melihat kebenaran keadilan, tidak rela Wanamerta menjadi makanan pesta dari orang-orang yang hanya dapat menghitung kebenaran dari kepentingan mereka sendiri. Karena itulah maka merekapun serentak, tanpa perintah dari siapapun, bergerak melawan orang-orang Sontani. Sehingga di lapangan terbuka itu terjadilah semacam perang kecil-kecilan antara para pengikut Sontani melawan orang-orang Banyubiru yang lain.

Sendang Papat, Sendang Parapat dan beberapa orang kawannya telah berdiri di sekitar Wanamerta. Mereka harus menjaga keselamatan orang tua itu. Orang tua yang telah menjadi emban kepala daerah perdikan Banyubiru sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.

“Apa yang akan kita lakukan, Kiai?” tanya Sendang Papat.

Wanamerta tegak seperti patung, mulutnya komat-kumit, namun belum terdengar ia berkata. Tetapi dari matanya telah terlontar betapa ia menyesal melihat hal ini terjadi. Tawuran antara rakyat dan rakyat yang sebenarnya sama-sama menanti masa depan yang lebih menyenangkan.

Sontani sendiri tiba-tiba didorong oleh hiruk-pikuk menjauhi Wanamerta. Dengan penuh kemarahan ia berkelahi. Namun lawannya terlalu banyak. Karena itu ia terpaksa mundur dan mundur. Demikian pula agaknya para pengikutnya. Mereka ternyata korban lawan. Lawan yang dengan penuh kemarahan melawan mereka. Bagaimanapun kuatnya Sontani, dan bagaimanapun para pengikutnya berkelahi membabi buta, namun akhirnya mereka terpaksa mengalami perlakuan yang sama sekali tak mereka harapkan. Demikian pula Sontani. Meski ia telah berkelahi mati-matian namun akhirnya ia tidak berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang yang semula dianggapnya tak akan menghalangi tindakannya. Beberapa orang menangkapnya dan memegangi tangan serta kakinya. Beberapa orang mencoba memukulnya pada bagian-bagian tubuhnya sekenanya. Sontani meronta-ronta sejadi-jadinya. Tetapi tangan orang-orang itu terlalu keras, dan ia tak mampu melepaskan diri dari mereka yang tak terkendali lagi itu.

Wanamerta melihat bahaya itu. Bagaimanapun juga ia tak menghendaki adanya korban. Karena itu hampir tak terdengar dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata, “Sendang, selamatkanlah Sontani itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah orang muda yang selama ini ikut merasakan betapa tekanan-tekanan yang telah dialami oleh orang-orang Banyubiru dari orang-orang semacam Sontani itu. Di hadapan hidungnya ia melihat Sontani telah berusaha untuk menghina Wanamerta, sesepuh tanah perdikan ini. Karena itu, ketika ia mendengar perintah Wanamerta, mereka menjadi heran dan ragu, sehingga Wanamerta terpaksa mengulangi, “Sendang…” suaranya perlahan-lahan, “Selamatkan Sontani.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat sadar dari keragu-raguannya. Bagaimanapun perasaannya bergolak di dalam dadanya, namun mereka adalah orang-orang yang patuh. Karena itu mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka meloncat diantara orang yang bergolak seperti gabah diinteri itu, menyusup langsung ke arah Sontani.

Dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman serta kelebihan-kelebihan mereka, mereka pun segera berhasil berdiri di samping Sontani yang sedang meronta-ronta itu. Dengan penuh tenaga, Sendang Papat berteriak mengatasi keriuhan suara orang-orang Banyubiru yang marah itu, “Hai, kawan-kawan yang baik. Aku harap kerelaan kalian. Serahkanlah orang ini kepadaku.”

Beberapa orang yang dekat berdiri dengan Sendang Papat itu terkejut, ketika mereka memandanginya, dalam samar-samar sinar obor yang jauh. “Bukankah yang berteriak itu Sendang Papat...?”

Tiba-tiba seorang diantara mereka berkata, “He, adakah kau Adi Sendang Papat?”

“Ya,” jawabnya singkat.

Dari arah lain terdengar suara, “Dan inilah adiknya, Sendang Parapat.”

Bagus, bagus,” teriak yang lain, “Bukankah kau datang untuk membunuhnya?”

“Lepaskan dia,” kata Sendang Papat keras-keras.

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Tetapi Sendang Papat mendesakkan kata-katanya pula, “Lepaskan dia. Berhentilah berkelahi. He, yang di sana, berhentilah berkelahi.”

Suara itu disahut oleh Sendang Parapat dan oleh beberapa kawan-kawan yang datang bersamanya. Karena suara-suara itulah maka perkelahian itu terpengaruh pula. Semakin lama menjadi mereda, dan akhirnya berhenti, meskipun masing-masing wajah masih diliputi oleh ketegangan dan kemarahan.

Serahkan orang itu kepadaku,” kata Sendang Papat dengan kewibawaan yang mengagumkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Namun meskipun demikian tampak mereka ragu, seperti Sendang Papat mula-mula juga ragu. Di sebelah lain berdiri dengan kaki renggang, adiknya Sendang Parapat.

“Apakah kalian keberatan?” desak Sendang Papat. Matanya beredar berkeliling. Memandang wajah-wajah yang penuh mengandung pertanyaan. Sedang Sontani sendiri, yang berdiri di hadapan Sendang Papat, tidak pula kalah herannya. Ia tahu benar bahwa Sendang Papat adalah salah seorang yang dikejar-kejarnya selama ini seperti juga Bantaran, Penjawi, Jaladri dan yang lain-lainnya lagi.

Tiba-tiba dari antara mereka, yang berdiri berkeliling itu terdengar sebuah pertanyaan, “Akan kau apakan dia, Sendang Papat?”

Sendang Papat sendiri untuk sesaat bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menjawab, “Serahkanlah kepada kebijaksanaan Kiai Wanamerta.”

“Apa yang akan dilakukan?” bertanya yang lain.

“Ia tahu apa yang akan dilakukan,” jawab Sendang Papat.

Keadaan menjadi sepi. Sepi namun penuh keraguan. Masing-masing mencoba mengangan-angankan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wanamerta.

Tetapi kesepian itu tiba-tiba dipecahkan oleh suatu peristiwa yang tak terduga-duga, yang merusak suasana yang hampir baik kembali itu. Tiba-tiba dari sela-sela orang yang mengerumuni yang pucat lesu itu meloncatlah seseorang yang dengan serta merta menyerang Sendang Parapat. Sebuah tusukan yang kuat mengenai lambung kirinya, sehingga terdengar ia mengaduh.

Tetapi Sendang Parapat adalah seorang yang terlatih. Karena itu sedemikian ia merasakan sebuah tusukan mengenai dirinya, selain tanpa sesadarnya ia mengaduh perlahan, namun dengan cepatnya ia bergerak dengan tenaganya yang terakhir, menangkap tubuh orang yang menusuknya itu, sehingga ketika orang itu akan melarikan diri, tubuh Sendang Parapat yang lemah terseret beberapa langkah. Tetapi dengan demikian orang itu tidak dapat segera melenyapkan dirinya ke dalam gerombolan orang-orang yang masih berdiri di sana sini. Ia terpaksa berhenti mendorong Sendang Parapat untuk melepaskan pegangannya yang seolah-oleh terkunci. Dalam saat itulah Sendang Papat, memandangi kejadian itu dengan mata terbelalak. Tusukan yang mengenai adiknya, pada saat ia sedang melindungi Sontani, yang dibencinya, adalah serasa tusukan pada dadanya, yang ditutupinya rapat-rapat, kini seolah-olah tersiram minyak. Seperti kawah gunung berapi yang tak menemukan jalan, tiba-tiba meledaklah kemarahan Sendang Papat. Ia sempat melihat adiknya berputar cepat sekali, dan menangkap pergelangan tangan orang yang menusuknya. Ia melihat tubuh adiknya yang telah lemah itu terseret beberapa langkah. Maka ia sendiri kemudian seperti thathit meloncat beberapa langkah ke arah orang yang mendorong adiknya, untuk melepaskan pegangannya. Demikian Sendang Parapat terlepas, dan tubuhnya terbanting di tanah, demikian Sendang Papat sampai kepada orang itu. Wajah Sendang Papat tiba-tiba berubah. Seolah-olah di dalamnya tersembunyi malaikat pencabut nyawa. Dengan tidak berkata sepatah katapun, ia menyerang orang yang menusuk adiknya itu. Orang itupun agaknya sadar pula. Karena itu iapun segera melawan serangan itu. Sendang Papat benar-benar marah. Tenaganya menjadi seakan-akan belipat-lipat. Seperti badai yang tak tertahan lagi ia menerkam orang yang menusuk lambung adiknya. Betapa orang itu mencoba melawannya, tetapi ternyata Sendang Papat bukanlah lawannya. Karena itu ia terdorong surut beberapa langkah, yang kemudian disusul sebuah pukulan dengan tenaga tergenggam pada dagunya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga orang itu seolah-olah terangkat beberapa jengkal dan terlempar ke belakang, untuk kemudian dengan kerasnya pula terbanting ke tanah. Sendang Papat sendiri mata gelap. Ia tidak ingat lagi kata Wanamerta, ia tidak ingat lagi pesan Mahesa Jenar dan pemimpin-pemimpin yang lain. Yang teringat hanyalah, seorang dengan licik dan curang telah menusuk adiknya. Seperti seekor harimau ia meloncat ke atas tubuh orang itu, dan dengan sekuat tenaga seperti hujan yang tercurah dari langit, ia menghantam bertubi-tubi wajah orang itu. Terdengarlah orang itu berteriak ngeri. Tetapi juga teriakan itu seolah-olah tak terdengar oleh Sendang Papat yang sedang marah.

Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, justru menjadi terdiam seperti patung. Dengan mata terbelalak pula mereka menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang berlangsung sedemikian cepatnya. Sehingga apa yang mereka ketahui kemudian adalah Sendang Papat yang marah itu duduk di atas tubuh lawannya yang terlentang di tanah sambil memukulnya habis-habisan untuk mencurahkan kemarahannya yang meluap-luap.

Tetapi kawan-kawan orang itu ternyata tidak tinggal diam. Ketika mereka melihat kawannya tak mampu lagi untuk bergerak, mereka pun kemudian mencoba untuk melepaskannya. Ternyata mereka adalah pengikut-pengikut Sontani.

Beberapa orang bersama-sama dengan mempergunakan senjata-senjata tajam yang kecil, semacam pisau-pisau runcing, menyerang Sendang Papat. Sendang Papat betapapun marahnya, namun naluri keprajuritannya segera memperingatkannya akan bahaya yang mengancam itu. Namun justru karena itulah dengan tangkasnya ia berdiri, menarik bagian dada baju orang yang menusuk adiknya itu sehingga berdiri dan dengan segenap tenaga yang ada, Sendang Papat memukul orang itu dengan tangan kanannya ke arah perutnya. Terdengarlah suaranya seperti tersumbat di kerongkongan. Tubuhnya terbungkuk dan terhuyung-huyung akan jatuh menelungkup. Pada saat itu Sendang Papat melepaskan pegangannya, dengan tangan kirinya, ia mengangkat muka orang itu menengadah, dan sekali lagi dengan tangan kanannya ia menghantam wajah itu. Ternyata orang itu sudah tidak mampu untuk mengaduh lagi. Tubuhnya demikian saja terlempar ke belakang, dan sekali lagi ia terbanting di tanah. Pada saat itu beberapa orang telah berada di sekeliling Sendang Papat dengan pisau-pisau di tangan. Tetapi Sendang Papat adalah seorang yang terlatih menghadapi bahaya. Meskipun ia sendiri tidak mempergunakan senjata, namun ia sama sekali tidak takut melawan orang-orang itu. Karena itulah maka segera berkobar kembali perkelahian. Sendang Papat melawan lebih dari empat lima orang yang menyerangnya dari segenap penjuru. Meskipun demikian belum terlintas di dalam otak Sendang Papat itu untuk mempergunakan keris yang terselip di lambung kirinya.

Demikian ia melompat kesana-kemari, seperti seekor kijang yang keriangan di padang rumput yang hijau. Tangannya menyambar-nyambar seperti berpuluh-puluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan yang ditekuninya selama ini, ternyata menempatkannya pada kedudukan yang menguntungkan. Apalagi kali ini orang yang bernama Sendang Papat itu benar-benar mengamuk tanpa terkendali.

Perkelahian itu ternyata telah memancing berkobarnya kembali pertempuran kecil di tanah lapangan itu. Ketika para pengikut Sontani mulai menyerang Sendang Papat, orang-orang yang memihak Wanamerta pun mulai bergerak pula. Tetapi orang-orang Sontani itu telah merasa bahwa mereka tidak akan mempu melawan kemarahan orang-orang yang jauh lebih banyak dari jumlah mereka. Karena itu sebagian besar dari mereka segera melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Yang tinggal kemudian hanyalah kelima orang yang bersama-sama bertempur melawan Sendang Papat itulah. Karena mereka bersenjata, mereka merasa bahwa mereka akan mampu mempertahankan diri mereka.

Wanamerta, yang tak jauh dari mereka, melihat keributan timbul kembali. Cepat ia berlari untuk mengetahui apakah yang terjadi. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring di tanah dengan darah yang mengalir dari lukanya. Ia melihat dua orang yang datang bersama dari Gedong Sanga berusaha untuk menahan darah yang mengalir itu. Sedang seorang lagi agaknya ikut serta berkelahi melawan orang Sontani. Wanamerta kemudian menekan dadanya, ketika ia melihat Sendang Papat mengamuk tanpa dapat mengendalikan dirinya sama sekali.

Beberapa saat Wanamerta berdiam diri dengan cemas. Perkembangan keadaan itu agaknya sama sekali tidak seperti yang dikehendaki Wanamerta, meskipun darinya ia dapat mengambil keuntungan-keuntungan. Dengan demikian ia telah dapat menempatkan beberapa bagian orang-orang Banyubiru itu kepada kesadarannya kembali. Tetapi peristiwa yang terjadi ini dapat membawa akibat yang buruk. Meskipun hanya sementara.

Pada saat itu Wanamerta sudah tidak melihat Sontani lagi. Orang itu lari terbirit-birit ketika terbuka kesempatan, tanpa mempedulikan lagi apakah orang-orangnya masih berkelahi terus, dan apakah ada diantara mereka yang menjadi korban. Yang penting baginya adalah menyelamatkan diri sendiri.

Yang mula-mula dilakukan oleh Wanamerta adalah menyuruh kedua orang yang berusaha untuk membendung darah yang keluar dari lambung kiri Sendang Parapat itu untuk membawanya ke tepi.

Kemudian kepada kedua orang itu, Wanamerta bertanya, “Bagaimana luka itu?”

“Berat Kiai,” jawab salah seorang diantaranya.

“Adakah kau kenal seorang yang dapat kau percaya di sekitar tempat ini?” tanya Wanamerta pula.

Kedua orang itu berpikir. Kemudian salah seorang menjawab, “Bagaimana dengan Kakang Prana?”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian ia mengangguk-angguk, katanya, “Aku kira ia baik. Bawalah Sendang Parapat kepadanya. Kami akan menyelesaikan beberapa persoalan di sini. Kami akan menyusul kau nanti ke sana. Aku sendiri masih harus mengawasi Sendang Papat yang kehilangan keseimbangan.”

“Tak dapat disalahkan,” gumam orang itu seperti kepada diri sendiri.

“Ya,” jawab Wanamerta singkat. Kemudian ia berkata, “Nah pergilah kepada Prana. Usahakan obat-obatan apapun buat luka itu. Barangkali daun metir, atau sarang labah-labah.”

“Baik Kiai,” sahut orang itu sambil berdiri dan mengangkat tubuh Sendang Parapat ke rumah Ki Prana yang tak jauh dari lapangan itu. Mereka mengharap akan dapat beristirahat dan menyembunyikan Sendang Parapat yang terluka itu.

Sepeninggal kedua orang itu, kembali Wanamerta mendekati Sendang Papat yang sedang ngamuk. Beberapa orang telah berdiri di sekitar tempat itu dan beberapa orang lagi berbondong-bondong berlari-lari ke titik perkelahian itu pula. Mereka itu datang kembali setelah mengejar-ngejar orang-orang Sontani.

Tiba-tiba salah seorang yang baru datang itu dengan nafas tersengal-sengal berteriak, “Bunuh saja mereka semua, bunuh saja.”

“Bunuh… bunuh….” sahut yang lain.

Wanamerta menjadi semakin cemas. Dengan demikian permusuhan antara orang-orang Banyubiru itu akan bertambah menjadi-jadi. Karena itu Wanamerta segera bertindak. Ia mengharapkan pertanggungan-jawab sepenuhnya terletak di bahunya, setidak-tidaknya pada Sendang Papat. Maka segera ia meloncat maju sambil berteriak, “Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bertempur dengan jujur.”

Beberapa orang menjadi heran mendengar kata-kata Wanamerta itu. Mereka benar-benar tidak tahu maksudnya. Mereka mengira bahwa Wanamerta pun akan sependapat dengan mereka. Bahkan seorang yang berdiri di deretan paling depan bertanya, “Bagaimanakah perkelahian itu dapat disebut jujur? Adi Sendang Papat hanya seorang diri tanpa senjata, harus melawan lima orang bersenjata.”

Wanamerta melangkah maju semakin dekat. Ia tidak melihat kesulitan pada Sendang Papat, karena itu ia menjawab, “Jangan takut. Malah kalian harus bangga bahwa Sendang Papat bertempur melawan lima orang sekaligus. Lihatlah apa yang akan terjadi.”

Tetapi Sendang Papat sendiri sama sekali tidak mendengar mereka merasa cemas, bahwa Sendang Papat akan mengalami bencana seperti adiknya.

Kemudian tak seorang pun berbicara lagi. Mereka dengan seksama memperhatikan perkelahian itu. Tetapi bagaimanapun juga pembicaraan itu. Ia sama sekali tidak melihat Wanamerta dan tidak tahu bahwa sekian banyak orang, perhatiannya tercurah kepadanya. Yang ia ketahui adalah gelora dadanya sendiri. Gelora kemarahan yang meluap-luap. Sendang Parapat adalah satu-satunya saudaranya. Sejak kecil keduanya tidak pernah berpisah. Seolah-olah mereka mampunyai ikatan batin yang sedemikian eratnya. Sakit bagi yang seorang adalah sakit pula bagi yang lain. Tiba-tiba sekarang di hadapan hidungnya ia melihat adiknya jatuh berlumurah darah. Karena itu otaknya menjadi terguncang dan karena itu ia kehilangan kesadaran. Sedang lima lawannya tiba-tiba menjadi cemas. Mereka melihat rakyat yang marah itu mengitarinya. Tetapi mereka merasa bahwa seolah-olah mereka telah terjebak di dalam kepungan. Karena itu mereka tidak mungkin lagi untuk melarikan diri. Dengan demikian maka merekapun mengamuk pula. Mereka harus bertempur mati-matian, sambil menunggu perkembangan keadaan. Mereka mengharap Sontani datang membantu, atau Sontani akan datang dengan kawan-kawan yang lebih banyak lagi, sukar kalau Sontani dapat menghubungi pasukan Pamingit. Apalagi ketika mereka mendengar kata-kata Wanamerta, mereka merasa bahwa orang-orang Banyubiru tidak akan berani bertindak terhadap mereka. Sebab dengan demikian pasti akan terjadi bencana bagi mereka itu.

Tetapi meskipun orang-orang Banyubiru itu tidak bertindak apa-apa terhadap mereka, namun akan sama sajalah akibatnya. Sebab Sendang Papat yang mata gelap itu, tendangannya jauh lebih menakutkan daripada seandainya orang-orang Banyubiru itu menyerang mereka beramai-ramai. Sekali-sekali mereka mencoba juga untuk mencari jalan melarikan diri, tetapi orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu sudah sedemikian tepatnya. Karena itu tidak ada pilihan lain, bertempur mati-matian.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung beberapa lama. Sendang Papat yang mata gelap terpengaruh oleh kemarahannya, melawan lima orang yang mata gelap karena putus asa. Sebab setelah sedemikian lama belum juga Sontani datang membantu, mereka tidak dapat mengharapkannya lagi.

Orang-orang yang ada di sekitar perkelahian itu, semakin lama menjadi semakin terpaku oleh perasaan kagum atas tandang Sendang Papat yang hanya seorang diri melawan lima orang yang bersenjata. Bahkan Wanamerta sendiri pun heran melihat Sendang Papat bertempur. Seolah-olah kekuatan serta kelincahannya bertambah-tambah.

Bahkan seolah-olah ia bergerak tidak atas kehendak dirinya. Demikianlah seorang yang sedang meluap-luap. Tanpa sesadarnya sendiri segala ilmu yang tersimpan tercurah seperti hujan yang melimpah.

Apa yang terjadi kemudian adalah sangat mengejutkan. Tiba-tiba Sendang Papat berhasil merampas sebuah belati dari salah seorang lawannya, dan sebelum seorang sempat melihatnya, terdengarlah sebuah teriakan nyaring, dan salah seorang dari lawan-lawannya itu rubuh di tanah. Darah yang merah menyembur dari dadanya.

“Sendang Papat…!” teriak Wanamerta cemas. Tetapi Sendang Papat sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan sesaat kemudian seorang lagi mengaduh keras dan menggelepar tak berdaya. Tiga orang yang lain, betapapun mereka tak mengenal takut pada mulanya, namun setelah mereka melihat kenyataan itu, hati mereka pun berdesir. Sekali lagi mereka mencoba melihat keadaan sekeliling mereka, dan tiba-tiba mereka berteriak sambil meloncat ke arah orang-orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu. Beberapa orang terkejut dan bergerak mundur. Dengan serta-merta, mereka mendesak menyusup ke dalam kepepatan orang-orang yang merubungnya. Tetapi agaknya salah seorang dari mereka mengalami nasib yang malang. Sendang Papat sempat menangkap lehernya dan tanpa ampun lagi, belati kecilnya menyusup diantara tulang-tulang iganya. Terdengar sekali ia memekik tinggi, kemudian terdiam untuk selama-lamanya. Tiga orang telah menggeletak berlumuran darah yang mengalir dari mulutnya. Namun agaknya Sendang Papat sama sekali belum puas. Dengan marahnya ia berteriak nyaring, “Tangkap iblis-iblis itu.

Orang-orang yang mengaguminya, tiba-tiba menjadi cemas pula melihat wajah anak muda yang menjadi liar itu. Mereka hanya dapat menyibak ketika Sendang Papat meloncat mengejar dua orang lagi yang mencoba menyelamatkan diri. Mereka, yang berdiri memagar lingkaran pertempuran itu, malahan terpaku diam, dan membiarkan kedua orang lawan Sendang Papat itu menyusup diantara mereka, dan membuat keributan bagian belakang lingkaran itu. Untunglah bahwa malam itu cukup gelap. Sinar obor yang menyala agak jauh dari tempat itu, sama sekali tertutup oleh bayangan-bayangan orang-orang yang bergerak-gerak di sekitar tempat itu. Dengan demikian maka Sendang Papat mendapat banyak kesulitan untuk menemukan kedua orang yang melarikan diri menyusup diantara sekian banyak orang yang kemudian dari ujung lapangan mereka meloncat ke dalam gerumbul-gerumbul di tepi tanah lapang itu.

Ketika Sendang Papat tidak berhasil menemukan kedua orang lawannya, menjadi semakin marah. Seperti orang yang hilang ingatan ia berteriak, “Hai, orang-orang Banyubiru… di mana kedua orang gila itu? Kenapa kalian hanya diam menonton seperti menonton tayub. He, di mana…? di mana…?”

Tak seorangpun menjawab. Sendang Papat dengan liar memandang ke segenap arah. Namun kedua orang itu tak dapat diketemukan.

Tiba-tiba mata Sendang Papat menyangkut pada seperangkat gamelan, obor-obor yang menyala-nyala, beberapa dingklik dasaran tuak dan minum-minuman semacamnya, air tape yang dikentalkan, badhek dan sebagainya. Hatinya yang marah itupun menjadi semakin menyala seperti obor-obor itu dibongkok bersama-sama.

Gamelan yang seperangkat itupun merupakan salah satu sumber kemunduran akhlak di Banyubiru, merupakan salah satu sebab rakyat Banyubiru kehilangan gairah pada perjuangannya. Sendang Papat adalah seorang penari yang mencintai gamelan seperti ia menyayangi pakaian-pakaiannya. Tetapi gamelan yang seperangkat ini, yang berada di tanah lapang untuk mengiring tayub dan mabuk-mabukan, adalah gamelan yang mengkhianati kemurnian seni, serta menerapkan seni dalam perjuangan yang tak terkendali. Tiba-tiba Sendang Papat meloncat sambil berteriak, “He, orang-orang Banyubiru, adakah kalian masih akan menyelenggarakan tari-tarian gila seperti malam-malam yang pernah kau lalui dengan gila-gilaan?”

Tak seorangpun yang menjawab.

“Dengar…!” teriak Sendang Papat, “Aku akan membakar gamelan yang telah menghantarkan kalian pada keadaan yang cemar ini. Kalau kalian keberatan, lawanlah aku. Tetapi kalau kalian sependapat, ikutlah aku.”

Juga tak seorangpun menjawabnya. Karena itu tiba-tiba dengan sigapnya Sendang Papat berlari ke arah gamelan yang dibencinya itu. Dengan tangkasnya pula tangannya menyambar sebuah obor di tangan kiri dan satu obor lagi di tangan kanan. Dilemparkannya kedua obor itu ke tengah-tengah jajaran gamelan itu. Tidak hanya dua obor, tetapi tiga, empat dan lampu-lampu minyak di dingklik-dingklik itu disepak-sepaknya. Bahkan kemudian orang-orang yang melihat perbuatannya itu menjadi terpengaruh pula. Dengan serta merekapun tiba-tiba sambil berteriak-teriak mencabut segala obor yang berada di tanah lapang itu dan dilemparkan bersama-sama ke arah seperangkat gamelan itu.

Bakar saja, bakar saja…!” teriak mereka bersama-sama.

Obor-obor itupun kemudian menyala berkobar-kobar. Minyak yang berada di dalam bumbung pun kemudian tumpah ruah dan membasahi gamelan-gamelan itu. Karena itulah maka sesaat kemudian, apipun menyala-nyala dengan garangnya, seolah-olah hendak menyentuh langit. Lidah api yang dihembus angin perlahan-lahan, bergoyang-goyang seperti penari-penari yang menari-nari dengan riangnya di atas gamelan yang sedikit demi sedikit hangus dimakannya.

Tanah lapang itu kemudian menjadi terang benderang. Beberapa orang berusaha menyelamatkan dagangan-dagangan mereka. Tuak, minuman-minuman biasa, makanan dan apa saja diatas dasaran mereka. Tetapi api mengamuk demikian hebatnya. Dingklik-dingklik, warung-warung kacang itupun dalam sekejap telah lenyap dalam pelukan penari maut yang menari-nari dengan iringan lagu derak-berderaknya gamelan dan bambu-bambu yang terbakar. Orang-orang Banyubiru itu seperti kelompok orang-orang yang kehilangan akal dan kesadaran. Mereka menghancurkan apa saja yang dapat mereka pegang di tanah lapang itu.

Kembali Wanamerta menekan dadanya. Keadaan berkembang sedemikian cepatnya. Tetapi ia tidak menyalahkan Sendang Papat. Sebab telah jatuh korban di pihaknya, karena kelicikan lawannya.

Yang dipikirkan kemudian, bagaimanakah tanggapan Mahesa Jenar atas kejadian ini. Kejadian yang terang tidak dikehendakinya. Tetapi kalau Mahesa Jenar mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ini, maka iapun akan dapat mengerti.

Api semakin lama semakin tinggi menggapai-gapai di udara. Asap yang hitam membubung tinggi ke langit.

Melihat api serta asap itu, Wanamerta dapat memperhitungkan keadaan. Mau tidak mau, cahaya merah yang mewarnai kehitaman malam itu pasti akan dapat dilihat oleh orang-orang Lembu Sora. Karena itulah maka mereka pasti akan datang. Dan dengan demikian keadaan akan bertambah buruk. Karena itu, selagi masih ada kesempatan Wanamerta ingin mencoba menghindarkan orang-orang Banyubiru dari bentrokan bentrokan yang lebih besar. Dengan demikian ia menyusup diantara orang banyak yang seperti anak anak bermain api mendekati Sendang Papat.

Ketika ia sudah berdiri di belakang anak muda itu ia menggamitnya, Sendang Papat menoleh kearahnya. Matanya masih merah diwarnai kemarahan yang meluap luap. Wanamerta beragu sejenak, tetapi akhirnya ia berkata; “Sendang, hentikan permainan ini.”

Sendang Papat memandang wajah Wanamerta dengan kecewa, bantahnya, “Aku harus membunuh semua orang yang telah bersetuju untuk membunuh adikku.

Baiklah Sendang, aku akan membantumu. Tetapi tidak sekarang dan tidak dalam kesempatan ini.” jawab Wanamerta lunak.

Kapan aku dapat melakukannya? mereka sudah mulai sekarang.” bantah Sendang Papat.

Bukan sekarang Sendang, bahkan telah lama. Dan selama ini kami masih mencari cari jalan untuk menyelesaikan masalah kita dengan orang orang yang telah keblinger itu,” Wanamerta mencoba memberikan penjelasan.

Aku tidak sabar lagi. Adikku telah terbunuh, dan masih adakah orang yang akan berusaha menyalahkan aku?” sahut Sendang Papat.

Tidak Sendang, tidak. Kau tidak bersalah. Kau berusaha membela adikmu, yang hanya merupakan salah seorang dari mereka yang menjadi korban peristiwa peristiwa semacam ini. Tetapi ketahuilah bagaimana sekiranya Lembu Sora datang ke tanah lapang ini?,” bertanya Wanamerta. “Bagaimanakah kalau terjadi bentrokan antara orang banyu Biru dengan pasukan Lembu Sora?.”

Aku akan berdiri paling depan. Akan aku bunuh mereka semua, atau aku yang terbunuh,” jawab Sendang Papat lantang.

Wanamerta menjadi kebingungan. Meskipun apabila Lembu Sora itu benar benar datang, ia tidak akan mengingkari tanggung jawab. Sebab ialah orang tertua dari rombongannya.

Sebelum Wanamerta dapat menguasai perasaan Sendang Papat yang meluap luap itu. Tiba-tiba terdengar dari kejauhan derap kaki kuda. Dada Wanamerta pun berdesir. Itulah pertanda bencana akan datang.

Sendang jangan biarkan korban menjadi semakin banyak,” berbisik Wanamerta.

 Tetapi Sendang papat ridak mendengarnya. Yang didengar adalah derap kuda yang mendatangi tanah lapang itu.

Tiba-tiba wajahnya menjadi terang. Tampaknya ia menjadi gembira sekali, seperti kanak kanak yang mendapat mainan. Sesekali ia meloncat dengan lincahnya. Untuk kemudian menghambur menyongsong derap kuda yang semakin lama semakin dekat. Beberapa orang yang yang melihatnya ikut berlari-lari dibelakangnya. Merekapun tiba tiba menjadi gembira pula.

Dari dalam gelap, dibalik tikungan jalan, muncullah beberapa orang berkuda. Mereka adalah orang Lembu Sora dari Pamingit. Wajah wajah mereka tampak betapa garangnya. Cahaya api yang kemerahan itu membuat kesan yang seram pada rombongan berkuda itu.

Pemimpin rombongan itu segera melihat api yang menyala-nyala. Merekapun kemudian melihat orang orang yang seolah olah mengamuk. Segera kemarahan menjalar di dada mereka. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong kedatangan mereka dengan senjata pemukul, bambu dan kayu dan apa saja yang mereka ketemukan.

Pemimpin laskar itu segera memberikan perintah, dan bertebaranlah orang orang berkuda itu ke segenap penjuru. Mereka memacu kuda mereka tanpa memperhitungkan banyak orang dilapangan itu. Beberapa orang terdorong jatuh dan bahkan ada diantaranya yang terlanggar dan terbanting di tanah. Beberapa orang berteriak teriak mengancam dan mengumpat umpat.

Sendang Papat menjadi kecewa ketika rombongan itu terpencar pencar seperti orang kesurupan ia berlari-lari mengejar kuda-kuda itu. Tetapi, kuda-kuda itu berputar-putar dan menginjak injak yang ada di jalannya. Melihat sikap itu Sendang Papat menjadi semakin marah. Bahkan Wanamertapun menjadi marah pula. Ia tidak pernah membayangkan, demikian orang Pamingit memperlakukan orang Banyubiru itu dianggapnya sapi gembalaan, yang dapat digiringnya dengan pecut dan tongkat pemukul. Tetapi bagaimanapun kepalanya msdih tetap dingin. Berbeda dengan Sendang Papat yang diikuti segenap orang yang berada di tanah lapang itu. Merekapun segera memberikan perlawanan. Orang banyak itupun mengamuk sejadi-jadinya. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan tidak banyak. Mereka adalah orang yang tidak begitu banyak mendapat didikan keprajuritan. Dengan demikian perlawanan merekapun tidak banyak berarti. Hanya Sendang Papat lah yang mampu menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Ketika seekor kuda dengan kencangnya berlari menerjangnya, dengan segala kekuatan ia mendesak orang di sekitarnya untuk menghindar. Namun demikian kuda itu lewat disampingnya demikian ia meloncat ke atas punggungnya. Sekali gerak, tangannya telah membenamkan kerisnya kepunggung orang itu yang kemudian terbanting jatuh. Dengan kuda itulah Sendang Papat melawan orang Pamingit. Tetapi Sendang Papat seorang diri itu pun tak banyak yang dapat dilakukan.

Wanamerta kemudian tidak mengingkari tanggung jawabnya. ia berusaha untuk mengurangi tekanan orang Pamingit itu. Namun akhirnya satu demi satu jatuhlah korban.

Sedang keributan di tanah lapang itupun semakin menjadi jadi pula.

Akhirnya Wanamerta menganggap bahwa bentrokan itu harus segera diakhiri. Ia tidak mau melihat orang kecil menjadi korban. Karena itu segera Wanamerta berteriak, “Hindarkan diri, hei orang Banyubiru. Hindarkan diri kalian.”

Sekali dua kali suara Wanamerta itu tenggelam saja dalam gemuruhnya teriakan rakyat yang marah serta teriakan orang Pamingit yang memaki maki. Tetapi ia tidak putus asa. Diulanginya lagi kata katanya sekali dua kali. Kemudian terdengar ia berteriak keras; “Hei orang Banyu Biru yang setia. Jangan terlalu bodoh melawan orang berkuda itu. Tinggalkan mereka. Hindarkan diri kalian dari injakan kuda-kuda itu.”

Beberapa orang mendengar teriakan Wanamerta, mereka mulai berfikir. Apakah mereka akan dapat melawan orang berkuda itu. Sedangkan dihadapan mereka korban jatuh bertambah lagi. Apalgi orang Pamingit yang juga menjadi gila itu menghunus pedang mereka. Meskipun demikian Sendang Papat bertempur seperti burung Sikatan. Ia menyambar dengan lincahnya diatas kudanya. Namun tidaklah banyak yang dapat dikerjakan.

Ketika Wanamerta berteriak sekali lagi, suaranya mulai dapat perhatian. meskipun beberapa orang yang meluap luap perasaannya, seolah olah tidak akan meninggalkan tanah lapang itu meskipun seandainya mereka harus terbunuh, tetapi terdengar Wanamerta berkata: “He, hindarkan diri kalian. Jangan mati tanpa arti. Tenaga kalian masih sangat diperlukan oleh tanah kelahiran ini. Tetapi nanti dalam kesempatan yang lebih baik, dimana kalian membawa senjata di tangan kalian.”

Demikianlah, kemudian orang Banyubiru itu sadar akan keadaan yang tidak berimbang. Karena itulah mereka mengikuti nasehat Wanamerta yang selalu diulang ulang. Beberapa orang meloncat dan berlari meninggalkan lapangan itu.

Kuda orang Pamingit itupun mejadi liar pula. Mereka berlari lari mengelilingi lapangan seperti serigala lapar. Diatas punggung mereka itupun duduk orang gila yang liar seperti beruang alasan.

Orang berada dilapangan semakin berkurang jua. Satu satu mereka mencoba menghindarkan diri mereka dengan janji di dalam dada apabila datang saatnya maka akan mereka serahkan jiwa raga mereka sebagai tebusan atas kekhilafan mereka selama ini. Tetapi kali ini, mereka tidak akan mati tanpa arti.

Beberapa orangberkuda mencoba mengejar mereka namun mereka itupun segera meloncati pagar batu dan menyusup pagar bambu, tenggelam dalam gerumbul yang gelap.

Sendang Papat masih saja bertempur terus. Ia sama sekali tidak memperhitungkan lagi keadaan yang dihadapinya. ia tidak mau melihat kenyataan bahwa akhirnya ia harus bertempur seorang diri.

 Demikianlah kemudian tiga orang berkuda bersama-sama menyerangnya. Sendang Papat memang tangkas. Tetapi ia tidak dapat melawan ketiga-tiganya sekaligus. Ia mencoba untuk memutar kudanya, menghindar kesamping. tetapi kuda lawannya itu akan melanggarnya. Disusul dengan yang seekor lagi dari arah lain. Sendang Papat segera menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu terhenti. Seekor kuda lawannya, berlari terus kedepan, tetapi seekor lagi benar benar membenturnya.

Tekanan itu ternyata terlalu berat bagi Sendang Papat sehingga iapun kemudian terlempar dari punggung kudanya bersama sama dengan penunggang kuda yang membenturnya. Keduanya jatuh bergulingan dan berusaha bangkit kembali. Demikian mereka berdiri, demikian mereka bertempur kembali. Tetapi dalam pada itu, kawan kawannyapun telah siap pula untuk membantu. Wanamerta yang masih berdiri di tanah lapang melihat kesulitan yang bakal terjadi atas Sendang Papat. Ia tidak mau mengorbankannya. Adiknya telah terluka berat sehingga ia harus berusaha supaya kakaknya dapat diselamatkan. tetapi lawan terlalu banyak. Untuk sesaat Wanamerta berbimbang hati. Ia menyesal bahwa Sendang Papat telah kehilangan kejernihan pikirnya sehingga seolah olah ia akan membunuh diri.

Tetapi ia tidak mempunyai banyak waktu. Bagaimanapun yang terjadi ia harus membantu anak itu. Karena itulah dengan secepat ia dapat, meloncatlah orang tua itu ke arah Sendang Papat, untuk membantunya. Ketika seekor kuda menyambarnya, Sendang Papat masih sempat mengelakkan dirinya bahkan ia masih dapat menyerang lawannya, yang berdiri diatas tanah. Dengan demikian, Wanamerta masih dapat menyapanya sebelum ia digilas oleh kaki kuda orang Pamingit itu.

Yang mula mula diucapkan Wanamerta adalah “Sendang,” suaranya perlahan sekali.“Adikmu mencarimu”

“He,” Sendang Papat terkejut “Prapat?

“Ya,” jawab Wanamerta. Sementara itu ia harus turut melawan lawan Sendang Papat. Sementara itu seekor kuda sekali lagi menyambar mereka. Dengan ikat kepala yang diuraikan, Wanamerta berhasil menakuti kuda itu, sehingga kuda itu meronta dan melonjak tinggi. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh sendang Papat. Dengan sigapnya ia meloncat, dan sekali lagi kerisnya membenam di tubuh orang itu.“Naiklah kiyai,” teriaknya. Tetapi Wanamerta tidak sempat naik. Orang yang semula berkelahi melawan Sendang papat menyerangnya. Ketika sebuah pedang menyambar lehernya, Wanamerta berjongkok merendahkan dirinya. Kemudian dengan kakinya ia menghantam lambung orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu terlempar. Malanglah baginya, ketika saat itu dua ekor kuda bersama sama berlari mendekati titik perkelahian. Kedua orang itu sudah siap untuk menusuk tubuh Wanamerta dari dua arah. Tiba-Tiba seseorang terlempar ke depan mereka. Terdengarlah jerit ngeri. Tubuh itupun dengan dahsyatnya terinjak oleh kaki-kaki kuda yang sedang berlari kencang. Wanamerta hanya melihat peristiwa itu sebentar saja. Iapun segera berlari, meloncat ke atas punggung kuda, yang semula dipakai oleh Sendang Papat. Kuda itu, yang masih berdiri di tengah lapangan, menjadi terkejut dan berlari melingkar-lingkar. Untunglah Wanamerta segera dapat menguasainya.

Dalam pada itu Sendang Papat sudah bimbang. Kalau semula ia sudah berketetapan hati untuk mati dengan membawa bela sebanyak-banyaknya, kini ia terpaksa berpikir kembali.

Adakah Parapat masih hidup?” pikirnya.

Dan tiba-tiba Sendang Papat ingin mendapat penjelasan tentang adiknya. Karena itu Sendang Papat segera mendekatkan diri kepada Wanamerta sambil bertanya, “Adakah Kiai tadi berkata tentang Parapat?”

Mata Wanamerta tidak terpelas dari para penunggang kuda yang telah siap menerjang mereka. Meskipun demikian ia menjawab, “Ya.

“Bagaimana dengan anak itu?” Sendang Papat minta penjelasan.

“Ia mengharap kedatanganmu. Mudah-mudahan ia masih tertolong,” Wanamerta mencoba untuk memancing anak itu meninggalkan tanah lapang yang terkutuk ini.

Sementara itu, ia melihat beberapa orang lain, yang semula mengejar-ngejar orang Banyubiru telah memasuki tanah lapang kembali. Bahkan mereka pun segera bersiap pula untuk menyerang. Wanamerta melihat bahaya yang bertambah-tambah, sementara itu harapannya mulai timbul kembali. Mudah-mudahan Sendang Papat bersedia meninggalkan tanah lapang ini untuk melihat adiknya.

“Tak cukup banyak waktu Sendang,” kata Wanamerta pula, “Adikmu cepat-cepat harus mendapat bantuan.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Sendang Papat.

“Ia disembunyikan di rumah Ki Prana,” jawab Wanamerta.

Sendang Papat merenung sejenak. Di hadapannya orang-orang Pamingit memacu kudanya ke arah mereka berdua.

“Mereka datang, Kiai,” kata Sendang Papat.

Wanamerta telah melihat mereka pula. Segera ia menarik kekang kudanya memutar sekali, lalu berlari ke samping. “Pikirkan adikmu itu,” katanya sebelum kudanya berlari.

Sendang Papat tidak sempat menjawab. Seekor kuda lawan menyerangnya dengan cepatnya. Ketika sebuah pedang menyambarnya, dengan cepatnya ia melekatkan tubuhnya pada punggung kudanya. Hatinya berdesir ketika Sendang Papat merasakan angin sambaran pedang menghembus tengkuknya. “Hampir saja,”desisnya. Karena itu Sendang Papat merasa bahwa lebih baik melawan orang-orang Pamingit itu, dengan pedang pula. Karena itu cepat-cepat ia meloncat turun memungut pedang dari seseorang yang telah tak berdaya untuk bangkit kembali. Dengan pedang itulah kemudian ia melawan setiap penyerangnya dengan kekuatan yang berimbang. Tetapi orang-orang Pamingit itu pun bertambah-tambah pula. Sendang Papat melihat Wanamerta yang tua itu pun dapat bergerak mengagumkan. Di tangannya tiba-tiba saja telah tergenggam sebuah telempak, tombak bertangkai pendek. Agaknya ia pun merasa perlu untuk memegang sebuah senjata yang tidak terlalu pendek dalam pertempuran berkuda.

Namun, meskipApat, ia mendorong kudanya ke arah Wanamerta, dan dengan suara yang parau dan perlahan-lahan ia berkata, “Apakah kita lebih baik meninggalkan lapangan ini, Kiai?”

“Demikianlah, untuk keselamatan adikmu. Ia membutuhkan perawatan,” jawab Wanamerta.

“Baiklah,” jawab Sendang Papat.

———-oOo———

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s