nogososro sabukinten (20)

I.

Kemudian kepada Wulungan ia berkata, “Memang. Maksudku adalah kembali ke Banyubiru. Disetujui atau tidak oleh Paman Lembu Sora. Karena itu pertempuran bisa saja berkobar setiap saat. Nah, sebelum aku dibunuh atau membunuh, aku ingin menghadap Eyang Sora Dipayana untuk menyampaikan baktiku sebagai seorang cucu, serta mohon restu sebelum aku mulai dengan tugas beratku ini.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menahan napasnya mendengar jawaban Arya Salaka. Agak terlalu keras. Namun mereka cukup mengerti, bahwa Arya berbicara dengan Wulungan, pimpinan laskar pengawal pribadi Lembu Sora, tidak lagi kepada Srengga. Dengan demikian Arya tidak perlu terlalu banyak merendahkan dirinya. Terhadap orang seperti Wulungan, Arya memang harus mempertegas maksudnya.

Tetapi berbeda dengan dugaan Arya Salaka, Wulungan tidak mendesaknya lagi seperti semula. Di dalam dada orang itu, timbullah kembali rasa hormatnya. Memang Arya Salaka sejak kecil menunjukkan sifat jantannya. Dengan demikian maka Wulungan menjadi percaya, bahwa Arya Salaka itu benar-benar Arya Salaka yang dikenalnya pada masa kecilnya.

Karena itulah, maka ia menjadi lunak. Permintaan Arya untuk bertemu dengan eyangnya bukanlah permintaan yang berlebih-lebihan. Apakah yang akan dilakukan, kalau ia hanya datang berenam? Di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana yang sakti, Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, mereka pasti tidak akan dapat berbuat sesuatu kecuali benar-benar seperti apa yang dikatakan, mohon restu dan menyampaikan bakti seorang cucu.

“Angger Arya Salaka…” jawab Wulungan, “Permintaan Angger akan kami sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Terserah keputusan yang akan diambilnya. Menerima atau tidak menerima kehadiran Angger.”

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, dan Wanamerta menarik nafas panjang mendengar keputusan Wulungan. Terdengar Arya Salaka perlahan-lahan berkata, “Terimakasih Paman Wulungan.”

Tetapi ketika Wulungan memanggil seseorang untuk menyampaikan pesan itu kepada Ki Ageng Sora Dipayana, terdengarlah suara tertawa nyaring, meskipun tidak terlalu keras. Kemudian dari dalam regol halaman terdengar suara, “Agaknya kau mempunyai pimpinan baru Paman Wulungan.”

Wulungan terkejut seperti juga Arya Salaka, Wanamerta, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Karena itu tiba-tiba Wulungan terhenti di tempatnya seperti patung. Perlahan-lahan ia menoleh dan mencoba melihat, siapakah yang berkata itu, meskipun dengan mendengar suaranya ia sudah dapat menebaknya.

Sesaat kemudian muncullah seorang anak muda dengan pedang yang besar di pinggangnya. Sawung Sariti.

Wulungan mengangguk hormat kepadanya, dan bertanya, “Apakah maksud Angger?

Akulah yang berhak memberikan perintah, mengubah dan mencabut perintah, selain ayah Lembu Sora,” katanya. “Apa perintahku yang aku ulangi sore tadi?”

Wulungan menarik nafas panjang, sebab tiba-tiba nafasnya terasa berhenti di kerongkongan. Terhadap Sawung Sariti sebenarnya Wulungan agak kurang senang. Sikapnya yang sombong, keras dan menghina orang lain. Meskipun anak muda ini berhati baja pula. Namun ia merasakan perbedaan sifat antara kedua anak muda yang kebetulan dua bersaudara sepupu. Tetapi ia adalah pimpinan laskar pengawal pribadi Lembu Sora. Karena itu ia harus menjalankan pekerjaannya baik-baik. Maka jawabnya, “Angger memerintahkan, tak seorangpun boleh memasuki kota, apalagi halaman rumah ini.”

“Bagus,” sahut Sawung Sariti sambil menarik bibirnya. “Apa yang akan Paman kerjakan?”

“Mencoba menyampaikan pesan angger Arya Salaka untuk Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Wulungan.

“Bagaimanakah seharusnya Paman menjawab?” desak Sawung Sariti.

“Menolak permintaan itu,” jawab Wulungan, namun ia meneruskan, “Tetapi ia adalah Angger Arya Salaka, yang sekadar ingin bertemu dengan kakeknya.”

“Justru ia menamakan diri Arya Salaka!” bentak Sawung Sariti.

Wulungan terdiam. Ia tahu sifat anak muda itu. Ia biasa membentak-bentaknya di hadapan laskarnya dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Bahkan kemudian Sawung Sariti berkata, “Malahan ayah Lembu Sora menyanggupkan hadiah duapuluhlima bahu bagi mereka yang dapat menangkap anak muda yang menamakan diri Arya Salaka. Nah sekarang anak itu telah datang menyerahkan dirinya.”

Wulungan masih terdiam. Duapuluhlima bahu baginya sama sekali tidak berarti. Di Pamingit ia memiliki tanah yang berlebihan. Bahkan tenaganya tak mampu lagi untuk menggarap seluruhnya. Namun yang penting baginya, sikap yang demikian bukanlah sikap yang jantan. Bukankah Arya Salaka dengan jantan datang tanpa pasukan untuk menyampaikan sujudnya kepada kekeknya? Meskipun kakeknya berada di pusat kekuasaan lawannya. Tetapi kemudian ia mencoba untuk melupakan tanggapannya itu. Bukankah sudah sekian lama ia sendiri hanyut dalam arus ketidakjantanan sikap Lembu Sora? Akhirnya ia sadar bahwa sikap Sawung Sariti lah yang telah mendesaknya untuk menilai kembali setiap perbuatan yang pernah dilakukan.

Sebagai orang yang jauh lebih tua, Wulungan kadang-kadang merasa sangat terhina oleh pokal anak muda itu. Namun ia tidak dapat berbuat sesuatu, sebab Sawung Sariti adalah putra Ki Ageng Lembu Sora, putra seorang yang memberinya kedudukan dan pangkat.

Demikian juga kali ini. Ia tidak dapat berkata apapun, selain menundukkan kepala.

“Tidakkah Paman berusaha menangkapnya?” tanya Sawung Sariti.

“Sekarang Angger ada di sini,” jawab Wulungan, “Aku menunggu perintah Angger.

“Kalau aku tidak datang bagaimana?” bentak Sawung Sariti.

Kembali Wulungan terdiam.

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Wanamerta, yang menyaksikan peristiwa itu, perasaan mereka ikut tersinggung pula. Sikap yang demikian bukanlah sikap yang tahu adat. Wulungan, meskipun ia adalah seorang bawahan saja, namun ia berumur jauh lebih tua dari Sawung Sariti. Apalagi Arya menganggap bahwa sikap Wulungan adalah bijaksana. Karena itu tiba-tiba timbullah keinginan untuk menarik perhatian Sawung Sariti, katanya, “Adi Sawung Sariti. Baiklah aku langsung minta ijin kepadamu, untuk menghadap Kakek Sora Dipayana.”

Sawung Sariti menoleh kepada Arya Salaka. Tetapi sesaat saja. Kemudian ia kembali memandangi Wulungan. “Paman. Baiklah kalau aku harus memberikan perintah berulang kali. Meskipun Paman seorang anggota laskar pengawal ayah Lembu Sora yang sudah kenyang makan garam. Dengarlah Paman, tak seorangpun aku ijinkan masuk ke dalam kota, apalagi ke dalam halaman rumah ini. Siapapun dan dengan alasan apapun.”

Wulungan masih menundukkan kepalanya.

Kau dengar, Paman…?” tanya Sawung Sariti dengan lantang.

“Ya, aku dengar,” jawab Wulungan.

“Nah. Laksanakan,” perintah Sawung Sariti.

Wulungan mengangkat mukanya. Dipandanginya wajah Arya Salaka yang masih duduk di atas kudanya. Kemudian katanya dengan tenang, “Angger, Angger telah mendengar perintah Angger Sawung Sariti. Tak seorangpun boleh memasuki halaman ini, dengan alasan apapun.”

“Alangkah liciknya anak muda itu,” pikir Arya. Ia hanya berkesempatan untuk berbicara dengan Wulungan, yang hanya dapat menjalankan perintah. Namun demikian ia mencoba untuk sekali lagi berbicara langsung kepada Sawung Sariti, katanya, “Adi, dapatkah Adi Sawung Sariti berlaku bijaksana? Aku hanya ingin sekadar menghadap Eyang Sora Dipayana.”

Sawung Sariti diam saja. Dengan senyum yang menyakitkan hati ia berkata kepada Wulungan, “Lakukan tugasmu baik-baik. Aku akan naik ke pendapa.”

“Gila!” Arya Salaka berdesis. Ia adalah anak muda pula. Darahnya masih hangat-hangat panas. Karena itu ia benar-benar merasa terhina. Maka ia berteriak keras-keras, “Tak seorang pun yang dapat menghalangi aku masuk ke halaman rumahku sendiri. Minggir kalian, atau aku harus membunuh kalian.”

Tiba-tiba pula, tombaknya telah berpindah di tangan kanannya. Ujungnya telah tunduk setinggi dada orang yang berdiri di atas tanah.

Semua yang mendengar suara Arya Salaka itupun terkejut. Sawung Sariti terhenti pula. Cepat ia memutar tubuhnya dan tangannya telah melekat di tangkai pedangnya. Ia melihat Arya telah siap menyerangnya. Tetapi sebelum Arya Salaka mendorong kudanya menyerbu, terasa Mahesa Jenar menangkap lengannya. Dengan tenang gurunya itu berkata, “Tahan dirimu Arya.

Arya menarik nafas. Wajahnya telah memerah darah, sedang darahnya rasa-rasanya telah mendidih membakar seluruh tubuhnya. Dengan gemetar ia berkata, “Apa yang dapat aku lakukan. Aku datang ke kampung halamanku sendiri. Kenapa aku harus mengalami penghinaan itu?”

“Sawung Sariti…!” teriaknya, “Jangan berperisai orang setua Paman Wulungan. Hadapilah kedatanganku. Kasar atau halus.”

Sawung Sariti maju beberapa langkah. Jawabnya, “Turunlah. Aku bukan pengecut seperti yang kau sangka.”

Hampir saja Arya meloncat turun, kalau sekali lagi Mahesa Jenar tidak mencegahnya.

“Jangan Arya,” katanya, “Sawung Sariti bukanlah orang yang harus memberi keputusan terakhir.”

Nafas Arya menjadi berdesakan meloncat dari hidungnya. Amat sulitlah baginya untuk dapat menahan diri. Apalagi ketika kemudian terdengar Sawung Sariti berteriak. “Minggir semua. Biarlah anak itu tahu bahwa Sawung Sariti mampu menjaga daerahnya. Mampu melakukan pekerjaan yang diperintahkan kepada orang lain.”

Tetapi Mahesa Jenar memegangi lengan Arya erat-erat. “Jangan layani. Kita tunggu perkembangan keadaan. Dengan teriakan-teriakan itu, mungkin pemanmu Lembu Sora akan turun ke halaman dan akan memberikan kesempatan kepadamu.”

Tubuh Arya telah benar-benar gemetar. Tetapi ia masih mencoba menahan diri seperti nasihat gurunya, meskipun ia terpaksa menggigit bibirnya.

Wulungan dan anak buahnya menyaksikan peristiwa itu dengan berdebar-debar. Tiba-tiba saja mereka meloncat mundur, ketika Sawung Sariti memerintahkan mundur. Yang dilihatnya kemudian adalah Sawung Sariti tegak di tanah, dengan dada tengadah. Ia memandang Arya Salaka dengan pandangan menghina seolah-olah Arya Salaka adalah seorang yang sama sekali tidak patut mendapat pelayanan. Sedang di atas punggung kuda, Arya duduk dengan tubuh menggigil menahan diri. Sekali-kali terdengar giginya gemertak. Sedang dari matanya memancar api kemarahan.

Sekali lagi terdengar Sawung Sariti menantang, “Turunlah. Atau kau akan bertempur di atas kudamu? Seperti cara para penyamun menyerang korbannya, supaya ia dapat cepat melarikan diri?”  

 Arya Salaka benar-benar terbakar. Ia benar-benar lupa diri. Dengan tidak diduga-duga Arya merenggut lengannya dari pegangan gurunya. Dan sekali loncat ia sudah berdiri di atas tanah dengan tombak Kyai Bancak siap di tangannya. Pada saat yang bersamaan, berkilat-kilatlah pedang Sawung Sariti yang besar dan panjang dalam genggaman jari-jarinya yang kokoh.

Keadaan berkembang sedemikian cepatnya. Ketika Mahesa Jenar menyusul, meloncat turun dari kudanya, ia sudah terlambat. Kedua anak muda itu telah terlibat dalam suatu perkelahian.

“Arya….” Terdengar Mahesa Jenar memanggil. Tetapi Arya Salaka tidak mendengar suara gurunya. Dengan garangnya ia meloncat langsung menghadapi pedang Sawung Sariti yang berputar-putar seperti baling-baling. Arya Salaka pun dengan lincahnya menggerakkan tombak pusakanya. Sekali-kali melingkar dan sekali-kali mematuk. Cahayanya yang kebiru-biruan memancar berkilau-kilau memantulkan sinar-sinar obor yang samar-samar sampai. Keduanya bertempur dengan kemarahan yang menekan dada masing-masing.

Wulungan dan anak buahnya berdiri saja seperti patung. Mereka memang pernah mengenal cara Sawung Sariti bertempur. Tangkas, tangguh dan lincah. Sebagai seorang cucu dari Ki Ageng Sora Dipayana yang langsung mendapat tuntunan darinya, Sawung Sariti benar-benar tidak mengecewakan. Seperti ayahnya, ia mampu menggerakkan pedang yang sedemikian besarnya, seperti menggerakkan lidi. Karena itu, alangkah berbahayanya pedang itu. Menyambar seperti burung elang, tetapi sekali-kali memagut seperti ular, disertai angin yang berdesis mengerikan. Betapa kuatnya tangan anak muda itu.

Tetapi mereka menjadi kagum pula melihat lawan Sawung Sariti itu. Dengan tombak pendek di tangan, ia mirip seperti burung rajawali yang bertempur dengan kuku-kukunya yang tajam. Sekali Arya meloncat menjauhi lawannya, tetapi tiba-tiba ujung tombaknya sudah menyambar dada Sawung Sariti, bahkan tombak itu seperti menyerangnya dari segenap arah. Cahaya kebiru-biruan yang dipancarkan dari mata tombak itu tampak melingkar-lingkar membingungkan.

Demikianlah kedua anak muda itu bertempur dengan sengitnya. Masing-masing memiliki ketangkasan, ketangguhan dan keteguhan hati, disertai keahlian mereka menguasai senjata masing-masing. Sehingga senjata-senjata mereka itu seperti dapat bergerak dengan sendirinya, bahkan di ujung-ujung senjata itu seperti terdapat biji-biji mata.

Mahesa Jenar pun kemudian terikat pada pertempuran itu. Ia menempatkan dirinya di muka regol halaman untuk menanti kemungkinan-kemungkinan yang tak diharapkan. Sedang Kebo Kanigara untuk sementara masih berada di atas kudanya. Ia masih sempat melihat berkeliling. Melihat para pengawal yang berdiri dengan mulut ternganga. Melihat Wulungan yang tegak seperti patung, namun tangannya telah meraba hulu pedangnya. Di halaman itupun ternyata para pengawal telah siap dengan senjata masing-masing. Apalagi jatuh perintah Sawung Sariti untuk bergerak, mereka akan serentak bergerak. Di pendapa, Kebo Kanigara melihat seorang yang bertubuh besar, berdada bidang dengan kumis yang lebat di atas bibirnya. Ia tidak begitu jelas, apakah tanggapannya terhadap perkelahian yang terjadi itu. Namun segera Kebo Kanigara mengenal orang itu, Ki Ageng Lembu Sora.

Ia melihat sepintas kepada Wanamerta. Wanamerta pun kemudian meloncat turun. Demikian juga kedua orang anak buahnya. Mereka segera meloncat turun pula. Di tangan mereka erat tergenggam masing-masing sebuah obor, dan di dada mereka tersangkut sebuah gendewa.

“Nyalakan obor,” perintah Wanamerta. “Obor akan dapat menjadi senjata yang baik kalau diperlukan. Siapkan gendewamu dan anak panah yang mungkin akan kita pergunakan.”

Kedua orang itupun segera mempersiapkan alat-alat mereka. Yang seorang kemudian menyalakan obornya, yang seorang lagi menyiapkan bumbung panahnya, dan menyangkutkan bumbung itu di ikat pinggangnya. Gendewanya telah siap di tangannya pula.

Di halaman itu pertempuran semakin bertambah sengit. Sawung Sariti yang bersenjata pedang, bertempur dengan garangnya. Bahkan kemudian tampaklah pedangnya seperti gulungan sinar putih yang mengerikan menyerang Arya Salaka dari segala arah. Namun di antara sinar putih itu tampaklah cahaya yang kebiru-biruan, sekali-kali melingkar dan sekali-kali meluncur dengan cepatnya seperti anak panah yang lari dari busurnya mengarah ke tubuh lawannya.

Kebo Kanigara pun kemudian turun dari kudanya. Ia mengambil tempat yang cukup baik, menghadap ke arah pendapa. Dengan demikian ia dapat langsung melihat apakah Ki Ageng Lembu Sora akan mengambil sikap. Tetapi untuk sekian lama, orang itu tetap tegak tanpa bergerak. Agaknya ia benar-benar tertarik melihat perkelahian itu. Kalau semula ia yakin bahwa Sawung Sariti memiliki kekuatan dan keteguhan ilmu yang membanggakan, namun dengan kenyataan itu ia melihat bahwa anak yang bernama Arya Salaka itupun mampu mengimbanginya. Dengan permainan tombak yang manis dan cepat, Arya Salaka sama sekali tidak dapat ditembus oleh serangan Sawung Sariti. Bahkan kalau Sawung Sariti merasa memiliki kekuatan yang mengagumkan, tiba-tiba ia harus mengakui bahwa kekuatannya setidak-tidaknya tidak melampaui kekuatan Arya.

Lembu Sora terkejut, ketika ia melihat pedang anaknya membentur tombak Arya, ia mengharap tangan Arya menjadi sakit, dan bahkan ia mengharap tombaknya terlepas dari tangannya. Tetapi ia menyesal. Tidak saja tombak anak muda itu yang terpental, tetapi pedang Sawung Sariti pun ternyata seperti membentur dinding besi. Bahkan Sawung Sariti terpaksa meloncat mundur untuk memperbaiki pegangannya atas pedangnya.

Karena itulah ia terpaksa melihat perkelahian itu dengan menegang nafas.  Perkelahian yang sengit antara dua orang anak muda yang berdarah panas, yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang memuncak. Demikianlah maka pada malam yang gelap itu, berkali-kali terdengar dentang senjata beradu dibungai oleh percikan api yang meloncat-loncat dari titik benturan kedua senjata itu. Mereka masing-masing mencoba untuk menguasai keadaan. Bahkan masing-masing telah mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu mereka. Namun ternyata bahwa penderitaan Arya selama ini, lahir dan batin, memberinya keteguhan lahir dan batin pula, sehingga ia memiliki naluri yang lebih baik dalam pengerahan tenaga daripada Sawung Sariti.

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar adalah dua orang yang cukup masak untuk menilai keadaan. Ketika ia mulai melihat bahwa keadaan Arya Salaka masih lebih baik daripada keadaan Sawung Sariti, mereka menjadi cemas. Tidak aneh bahwa karena itu, maka Ki Ageng Lembu Sora akan bertindak. Mengerahkan laskarnya untuk menangkap Arya. Kalau demikian halnya, maka mereka berdua bersama Wanamerta terpaksa ikut pula bermain-main, meskipun malam yang gelap itu dinginnya bukan main.

Dengan demikian Mahesa Jenar pun harus menilai keadaan di sekitar perkelahian itu. Iapun kemudian mengamati Lembu Sora yang berdiri di pendapa. Seperti Kebo Kanigara, iapun menaruh perhatian padanya. Kalau-kalau ia dengan tiba-tiba bertindak, maka adalah kewajibannya untuk melindungi Arya Salaka. Meskipun ia menjadi kecewa bahwa kedatangan rombongan kecil ini tiba-tiba telah berkisar dari tujuan, namun Mahesa Jenar tidak dapat menyalahkan Arya Salaka.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa berkisar pula ketika mereka melihat Lembu Sora turun dari pendapa dan perlahan-lahan berjalan mendekati titik perkelahian. Dalam usapan sinar obor, tampaklah garis-garis wajahnya yang tegang. Sekali-kali ia mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi sekali-kali ia menahan nafasnya.

Perkelahian antara kedua anak muda itupun memang menjadi bertambah sengit. Kedua senjata itupun menjadi semakin cepat bergerak dan semakin berbahaya. Agaknya kedua-duanya telah memutuskan untuk menyelesaikan perkelahian itu dengan membunuh lawannya atau dirinyalah yang terbunuh. Dengan demikian keadaan menjadi semakin tegang.

Tetapi ketika ketegangan telah memuncak, muncullah seorang tua dari antara laskar Banyubiru yang berdiri berjajar mengeliling perkelahian itu. Dengan suara yang nyaring terdengarlah ia berkata, “Berhentilah. Berhentilah berkelahi.”

Suara itu mengumandang memenuhi halaman rumah itu. Namun karena Arya Salaka dan Sawung Sariti benar-benar telah kehilangan pengamatan diri, maka suara itpun hampir tak mereka dengar. Sehingga orang tua itu terpaksa meloncat mendekati sambil mengulangi kata-katanya, “Berhentilah Sawung Sariti, berhentilah Arya Salaka.”

Bagaimanapun juga Sawung Sariti dan Arya Salaka memusatkan segala perhatian mereka kepada lawan masing-masing, namun orang tua itu berdiri dekat di sisi mereka, sehingga bagaimanapun juga suara itupun mempengaruhi gerak-gerak mereka. Ketika gerak mereka menjadi kendor, orang tua itupun meloncat semakin dekat dan mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Sudahlah. Berhentilah. Lihatlah aku.”

Suara itu benar-benar berpengaruh. Sawung Sariti dan Arya Salaka itupun tak dapat berbuat lain, karena kewibawaan orang tua itu, selain berloncatan mundur.

“Bagus,” kata orang tua itu kemudian. “Kalian berdua benar-benar mengagumkan. Berbanggalah aku mempunyai dua cucu yang perkasa tiada taranya. Kalian berdua telah menunjukkan, betapa darah orangtua kalian mengalir di dalam tubuh kalian. Sawung Sariti bertempur sebagai seekor harimau yang garang, sedang Arya Salaka dapat menjadikan dirinya burung rajawali yang perkasa. Berbahagialah aku. Berbahagialah aku.” Orang tua itu berhenti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sawung Sariti surut beberapa langkah. Ia mengangguk kepada kakeknya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Namun demikian matanya yang merah, masih menyorotkan sinar kemarahan kepada Arya Salaka yang diam terpaku di tanah. Dengan seksama Arya mengamat-amati orang tua itu. Lima tahun lebih ia tidak bertemu. Dan tiba-tiba orang tua itu kini berdiri dihadapannya dengan wajah sayu. Dan tiba-tiba pula Arya teringat kepada maksud kedatangannya. Sebelum pecah perang antarsaudara itu, ia benar-benar ingin bersujud di bawah kaki kakeknya serta mohon restu kepadanya. Karena itulah maka tiba-tiba Arya meloncat maju. Betapa rasa haru menguasai dirinya pada waktu itu, sehingga Arya Salaka pun kemudian menjatuhkan diri pada lututnya di hadapan kakeknya sambil memeluk kaki orang tua itu.

“Eyang…” desisnya. Lalu suaranya terputus oleh sesuatu yang seolah-olah menyekat kerongkongannya. Di dalam dadanya banyak sekali kata-kata yang melingkar-lingkar, yang akan disampaikan kepada kakeknya itu, namun hanya satu kata itulah yang dapat meluncur dari mulutnya.

 Didalam dadanya banyak sekali kata kata yang melingkar lingkar, yang akan disampaikan kepada kakeknya itu, namun hanya satu kata itulah yang dapat meluncur dari mulutnya.

Ki Ageng Sora Dipayana memandang anak itu dengan mata suram. Didalam dadanya tersimpan pula rasa rindu kepada anak itu, yang telah sekian lama hilang dari Banyu Biru. Karena itu, maka mata orang tua itu menjadi redup. Dibelainya kepala Arya Salaka dengan kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Kemudian dipegangnya lengan anak itu dan ditariknya berdiri. “Berdirilah Arya,” katanya perlahan.

Aryapun kemudian berdiri. Tetapi wajahnya tunduk ketanah. ia merasa bahwa ia tak berani memandang wajah kakeknya.

Tetapi orang tua itu mengangkat wajah Arya sambil berkata: “Aku kagum kepadamu cucu, seperti aku kagum kepada Sawung Sariti. Dengan demikian, tidak sia sialah aku memiliki keturunan seperti kalian berdua.”

Arya Salaka masih berdiam diri. Belum ada kata kata yang mampu melontar dari mulutnya. Ketika tiba-tiba matanya menjadi panas. Arya menengadahkan wajahnya ke langit seperti ia belum pernah melihat bintang yang bertaburan. Sementara itu Ki Ageng Sora Dipayana  memandang berkeliling halaman.

“Kakang Wanamerta,” gumamnya. Wanamerta mendekati Ki Ageng Sora Dipayana yang telah bersama-sama memerintah tanah perdikan ini puluhan tahun.

Ki Ageng Sora Dipayana menepuk bahu Wanamerta sambil berkata: “Sokurlah kalau kau asuh cucuku ini dengan baik.

Wanamerta menggeleng, “bukan aku,” jawabnya, ”tetapi tuan berdua ini.

Ki Ageng Sora Dipayana memandangi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dengan mata yang berkilat kilat. Katanya: “tuan ternyata luar biasa. Cucuku benar benar telah menjelma menjadi murid dari cabang perguruan Pengging yang perkasa. Ketika aku melihat caranya bertempur dengan tombak pendeknya, segera aku teringat kepada sahabatku Ki Ageng Pengging Sepuh. Namun karena sahabatku itu telah tiada lagi, maka aku yakin bahwa anggerlah yang menjadi saluran ilmu itu.”

Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab: “Sekedar untuk memenuhi permintaan kakang GajahSora, supaya Arya Salaka mempunyai bekal buat masa depannya.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Lembu Sora ia berkata: “Lembu Sora, kenapa tidakkau persilahkan tamu tamumu untuk naik ke pendapa?.”

Lembu Sora menggeram. tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Karena itu, dengan berat hati, dipersilakan tamu tamunya untuk naik.

Ketika para tamu bersama sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Lembu Sora naik ke pendapa, Sawung Sariti menggigit bibirnya. Ia tidak ikut serta dengan mereka, tetapi segera masuk rumahnya dengan wajah tegang.

Wulungan serta anak buahnyapun menjadi seperti orang tersadar dari mimpi. Pertempuran itu bagi mereka merupakan suatu pertunjukan yang mengagumkan. Dua anak yang masih semuda itu, telah dapat menunjukkan kemampuan mereka yang luar biasa.

“Yang seorang adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana selain cucunya. karena itu wajar bahwa anak muda itu menjadi perkasa,” berbisik Wulungan kepada anak buahnya. “Namun yang seorang itupun sangat mengagumkan. Siapakah gurunya itu?”

“Mahesa Jenar,” jawab salah seorang anak buahnya.

Aku sudah tahu,” bentak Wulungan, namun perlahan lahan pula, “tetapi maksudku, siapakah Mahesa Jenar itu? menurut dugaanku serta menurut cerita yang aku dengar Mahesa Jenar memang memiliki kemampuan yang luar biasa, namun ia tidak lebih dari pada Sora Dwipayana  sendiri. lalu bagaimana mungkin muridnya menyamai murid Sora Dwipayana yang sakti itu?.”

Anak buahnya mengangguk anggukkan kepala mereka. Pemimpinnya menjadi heran oleh kenyataan itu, apalagi mereka.

Di pendapa, Sora Dwipayana segera mempersilahkan tamunya untuk duduk melingkar diatas tikar pandan yang putih. Dengan ramah ia menemui mereka seperti ia menemui sahabat lama yang telah lama berpisah darinya. Apalagi kepada Arya Salaka. Betapa rindu seorang kakek terhadap cucunya, seperti juga betapa rindu Arya kepada kakeknya.

Dengan memandangi tubuh Arya, seperti tak akan pernah puas, Sora Dwipayana berkata: “Tubuhmu mekar seperti ilalang di musim hujan Arya. Meskipun diwajahmu tersirat, betapa keras derita yang kau alami selama ini, namun demikian kau menjadi batu karang yang kokoh kuat, tak hanyut oleh banjir yang bagaimanapun besarnya, tak goyah oleh angin yang bagaimanapun kencangnya.”

Arya menundukkan wajahnya. Ia menjadi terharu kembali mendengar pujian itu, seperti anak-anak yang terjatuh dan ditanyakan kepadanya; “apakah kau terjatuh, sayang.

Ki Ageng Lembu Sora menjadi tidak senang mendengar pujian itu. Sebagai seseorang yang selalu membanggakan diri serta putera satu satunya Sawung Sariti, maka baginya pujian itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, tiba-tiba ia minta diri kepada ayahnya, untk sesuatu keperluan di belakang.

Sora Dwipayana mengerti perasaan putera bungsunya itu. Karena itu tidak melarangnya.

Sepeninggal Lembu Sora, Mahesa Jenar merasa lebih bebas untuk mengemukakan pendapatnya sebab dengan demikian, ia dapat mengatakan apa saja yang tersimpan didalam hatinya, didalam hati muridnya.

“Ki, Ageng,” berkata Mahesa Jenar kemudian, “aku telah mencoba memenuhi perintah ki Ageng, membawa Arya Salaka kemari. Mudah-mudahan Ki Ageng dapat menerima bhaktinya. Selain suatu kemungkinan yang baik bagi masa depannya, dan bagi rakyatnya. Tetapi aku menyesal bahwa kehadirannya telah ditandai oleh suatu perkelahian yang sama sekali tak dikehendakinya. Namun itu sama sekali bukan salahnya.

Ki Ageng Sora Dwipayana mengangguk-anggukkan kepalanya.   Jawabnya, “Aku tahu Angger. Memang Arya Salaka tidak dapat dipersalahkan kalau ia terpaksa turun dari kudanya dan langsung terlibat dalam perkelahian itu. Sebagai anak muda yang pernah aku alami pula, darahnya tak sedingin darah orang tua-tua ini.”

Mahesa Jenar mengangkat wajahnya, sahutnya, “Jadi Ki Ageng melihat sejak awal kejadian itu?”

“Ya,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Aku melihat sejak semula dari antara laskar Lembu Sora. Tetapi sengaja aku membiarkan mereka bertempur, sebab tiba-tiba timbullah keinginanku untuk mengetahui, sampai di mana kemampuan Arya Salaka. Sudah sekian lama anak itu meninggalkan aku. Dan sekarang ia dihadapankan pada suatu tugas yang berat, yang mungkin harus dihadapi dengan tenaganya.”

“Sekarang Ki Ageng telah melihatnya,” kata Mahesa Jenar.

“Aku telah melihatnya. Dan aku kagum atas apa yang aku lihat.” Ki Ageng Dipayana meneruskan, “Seperti pernah aku katakan kepada Angger beberapa saat yang lalu, bahwa aku harus menjadikan Lembu Sora dan Sawung Sariti benteng pertahanan terakhir atas Banyubiru dan Pamingit sepeninggal Gajah Sora. Aku tak mempunyai pilihan lain. Sebab orang-orang dari golongan hitam selalu mengarahkan matanya ke daerah kami yang sangat kami cintai ini. Dengan sekuat tenaga aku telah berhasil memisahkannya dari antara mereka, dari pergaulan yang menyedihkan. Aku asah mereka pagi dan sore, siang dan malam. Dan aku berbangga atas hasilnya, meskipun secara batin belum memenuhi tuntutan hatiku.

Sayang bahwa selama itu, aku tidak sempat menemukan Arya Salaka. Pernah aku meninggalkan Banyubiru untuk mencari cucuku itu. Namun aku tak berhasil menemukan. Sedang daerah ini tak dapat aku tinggalkan terlalu lama. Karena itu akupun segera kembali sebelum berhasil. Mangsa kasanga tahun yang lewat, aku pernah menyusur pantai utara. Aku pernah menemukan jejaknya, tetapi kemudian lenyap kembali.”

“Mangsa kasanga tahun lampau?” Mahesa Jenar mengulangi kata-kata itu di dalam hatinya seperti juga Kebo Kanigara dan Arya Salaka sendiri. Masa itu adalah masa pembajaan yang mahaberat. Dimana ia terpaksa bersembunyi di atas bukit Karang Tumaritis, di bawah sejuknya rumpun-rumpun bambu yang bersih di Padepokan Panembahan Ismaya.

Aku terlalu tergesa-gesa...” Ki Ageng Sora Dipayana meneruskan, “Karena aku tidak sampai hati meninggalkan Banyubiru seperti kataku tadi. Apalagi pada saat-saat terakhir, sekejappun aku tak berani. Namun suatu keyakinan telah tertanam di dalam hatiku bahwa cucuku Arya Salaka masih selamat.”

Orang itu berhenti sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu sambungnya, “Tetapi aku belum tahu, apakah yang telah didapat anak itu selama perjalanannya di bawah asuhan Angger Mahesa Jenar. Tiba-tiba aku menyaksikan sesuatu yang sama sekali membuat hatiku mongkok. Arya Salaka telah menjadi anak muda yang luar biasa.”

Arya Salaka menundukkan wajahnya. Ia berbangga bukan karena ia merasa dirinya perkasa, tetapi ia berbangga karena eyangnya merasa bangga kepadanya.

Dalam pada itu terdengar Mahesa Jenar berkata, “Semuanya adalah karena pangestu Ki Ageng serta karena darah yang mengalir di dalam tubuh anak itu. Apa yang aku lakukan hanyalah sekadar memberinya petunjuk-petunjuk.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-angguk sambil tersenyum. Namun di dalam hatinya tersiratlah perasaan kagum dan heran. Mahesa Jenar ternyata mampu berbuat di luar dugaannya pula. Kalau ia dapat menjadikan Arya Salaka sedemikian mengagumkan, bagaimanakah dengan Mahesa Jenar itu sendiri? Pada saat ia berpisah dengan Mahesa Jenar itu, beberapa tahun lampau, Mahesa Jenar baru berada dalam tingkatan yang sejajar dengan Gajah Sora. Apakah yang sudah dicapainya selama ini? Sedang gurunya sudah lama tidak dapat memberinya tuntunan, sejak Ki Ageng Pengging Sepuh itu meninggal dunia.

“Ki Ageng…” Ki Ageng Sora Dipayana mengangkat mukanya mendengar Mahesa Jenar berkata. “Barangkali Ki Ageng telah mengetahui maksud kedatangan kami.Karena itu kami serahkan persoalan kami kepada kebijaksanaan Ki Ageng. Bukankah maksud kami telah kami kemukakan pada hari kedatangan kami yang pertama?”

“Ya,” jawab Ki Ageng. “Aku sudah mengetahuinya. Dan aku menjadi berdebar-debar karenanya.”

“Mudah-mudahan Ki Ageng dapat menemukan kebijaksanaan,” sahut Mahesa Jenar. “Bagi kami, pertumpahan darah harus dihindari sejauh-jauh mungkin.”

“Aku sependapat,” jawab Ki Ageng pula. “Namun apakah yang dapat aku lakukan adalah suatu ikhtiar. Aku sudah mencoba perlahan-lahan untuk mengubah pendirian Lembu Sora.”

“Adakah Ki Ageng berhasil?” tanya Mahesa Jenar.

“Belum. Ia masih tetap pada pendiriannya,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Aku belum berani memaksanya. Sebab ia akan dapat terjerumus ke dalam lingkaran hitam, atau usaha yang lain. Meskipun aku tahu, bahwa pertentangan antara Lembu Sora dengan golongan hitam itupun tak akan dapat dihindari pula.”

“Aku kira kemungkinan itu kecil sekali Ki Ageng,” sahut Mahesa Jenar. “Bukankah golongan hitam telah mulai bertindak sendiri? Bahkan mereka telah mencoba untuk memaksa Lembu Sora menyerahkan keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang mereka duga berada di Banyubiru atau Pamingit?”

“Angger benar,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Tetapi Angger belum mendengar perkembangan yang terakhir. Sejak Lembu Sora terpaksa berdiri, ia telah membuat hubungan baru dengan para bangsawan yang tidak puas atas pemerintahan Demak. Bukankah di Demak ada golongan yang merasa dirinya disingkirkan oleh Sultan?”

“Sekar Seda Lepen?” tanya Mahesa Jenar terkejut.

“Ya. Dengan para emban dari Arya Penangsang,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana.

“Sudah seberapa jauhnya hubungan mereka?” tanya Mahesa Jenar pula dengan cemas.

Ki Ageng Sora Dipayana diam sejenak. Tampaklah alisnya berkerut. “Untunglah…”jawabnya, “Belum terlalu jauh. Karena itu aku tidak akan mendesaknya lebih dalam lagi.”

Mahesa Jenar pun menjadi tertegun diam. Persoalan ini menjadi bertambah rumit. Memang dengan tersisihkannya Arya Penangsang, Demak telah menyimpan sebuah persoalan yang mungkin akan meledak pada suatu saat. Tetapi Mahesa Jenar yakin, selama Sultan Trenggana masih memegang pimpinan pemerintahan, perpecahan itu akan dapat dibatasi. Tetapi bagaimanakah kemudian…?

Namun, yang dihadapi Mahesa Jenar sekarang adalah persoalan Banyubiru. Di perbatasan kota ini telah berbaris dalam kesiagaan tempur laskar Arya Salaka. Mereka menunggu sampai tengah malam atau sampai mereka melihat tanda panah api naik ke udara. Sehingga dengan demikian waktu mereka tidak terlalu banyak.

“Ki Ageng…” kata Mahesa Jenar, “Laskar Arya Salaka telah siap di perbatasan. Mereka menunggu keputusan sebelum tengah malam.”

Sekali lagi wajah Ki Ageng Sora Dipayana berkerut-kerut. Tampaklah betapa suram hati orang tua itu. Pada saat yang sempit, ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.

“Berilah aku waktu sampai besok,” jawabnya.

“Sayang, Ki Ageng…” jawab Mahesa Jenar, “Kalau tengah malam ini Arya tidak datang kembali, mereka akan bergerak.”

Orang tua itu menarik nafas panjang. Tetapi ia belum menjawab. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta dan Arya Salaka, kemudian menjadi iba melihat orang tua itu menghadapi persoalan yang hampir tak terpecahkan. Tetapi apakah yang dapat dilakukannya?

“Angger…” Tiba-tiba orang tua itu berkata, “Marilah kita usahakan agar setidak-tidaknya pertempuran tidak berkobar besok pagi.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Baginya sendiri, usaha ini adalah usaha yang paling baik. Bahkan kalau mungkin untuk seterusnya. Tetapi bagaimana?

Persoalannya akan menjadi sederhana kalau Lembu Sora dapat menarik diri dan menyerahkan tanah ini.” Orang tua itu meneruskan, “Dan aku akan mengusahakannya. Tetapi tidak sekarang, dimana ia baru saja dibakar oleh kemarahan melihat anaknya tak dapat menguasai lawannya.” Ia berhenti sejenak. “Berilah aku waktu. Biarlah satu atau dua orang pengikutmu itu kembali ke pasukanmu.” Ki Ageng Sora Dipayana berkata kepada Arya, “Biarlah ia membawa perintah darimu supaya laskarmu menunggumu sampai besok.”

“Apakah ia dapat melewati laskar Paman Lembu Sora?” tanya Arya, yang agaknya ingin memenuhi permintaan kakeknya.

Mahesa Jenar menjadi agak berlega hati mendengar pertanyaan itu. Mudah-mudahan Arya sempat menahan dirinya, sehari atau dua hari. Kalau anak itu yang memerintahkan, ia mengharap laskarnya akan mentaatinya.

Ia akan diantar oleh orang-orang pamanmu,” jawab Sora Dipayana.

Arya Salaka memandang wajah Mahesa Jenar minta pertimbangan. Maka berkatalah Mahesa Jenar, “Tidakkah laskar Lembu Sora akan mendahului besok pagi?”

“Aku akan mencoba untuk mencegahnya. Setidak-tidaknya menunda sampai lusa,”jawab orang tua itu.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian kepada Arya Salaka ia berkata, “Arya, kau dapat memerintahkan dua orangmu kembali. Eyangmu akan menyelamatkan perjalanannya.”

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Arya Salaka.

Mahesa Jenar menarik nafas. Timbullah kembali harapannya untuk menyelesaikan setiap persoalan tanpa pertumpahan darah. Maka iapun kemudian berkata, “Kalau kau sependapat Arya, kau dapat minta sehelai rotan, tulislah perintah itu.”

Arya melaksanakan nasehat gurunya. Dari kakeknya ia mendapat sehelai rontal, yang kemudian ditulisnya perintahnya, singkat namun jelas. “Tunggu aku kembali, jangan bergerak sendiri-sendiri sebelum ada perintahku. Aku akan berada di antara kalian sebelum tengah hari besok. Teruskan perintah ini ke sayap pasukan. Laskar Pamingit tak akan bergerak besok.”

Sebelum Arya memerintahkan dua orangnya yang semula membawa obor untuk kembali ke induk pasukan, Ki Ageng Sora Dipayana memanggil Lembu Sora duduk di antara mereka. Dengan nada seorang ayah ia berkata, “Lembu Sora. Aku minta orangmu untuk mengantarkan orang Arya Salaka kembali ke pasukannya dengan membawa pesan dari kemenakanmu itu.”

Lembu Sora memandangi ayahnya dengan tegang. “Apakah pesan itu?”terdengarlah ia bertanya.

Ki Agng Sora Dipayana tidak menjawab. Ia minta Arya menunjukkan pesannya, yang kemudian dibaca oleh Lembu Sora dengan dahi yang berkerut. Mula-mula ia ingin menolak permintaan ayahnya itu, namun tiba-tiba mendapat pikiran lain.

“Apakah maksud penundaan itu?” Ia mencoba menegaskan.

“Aku minta kepadanya,” jawab ayahnya. “Sebab ada yang ingin aku bicarakan dengan kau dan cucu Arya Salaka.”

“Tak ada yang dapat dibicarakan,” potong Lembu Sora.

Ada,” sahut ayahnya singkat.

“Tidak ada persoalan,” ulang Lembu Sora.

“Ada!” kembali ayahnya menyahut.

Lembu Sora berdiam. Ia mengumpat di dalam hati. Adakah ayahnya akan memaksakan pendapatnya kepadanya? Ia tidak akan pedulikan itu. Ia mempunyai pasukan yang cukup banyak. Meskipun seandainya di dalam laskar Arya Salaka terdapat orang-orang yang sakti, namun jumlah laskar dalam setiap pertempuran akan turut serta mengambil peranan. Dalam penilaiannya, di dalam laskar Arya Salaka, tidak ada seorang pun yang harus disegani.  Mahesa Jenar, Wanamerta dan orang yang datang bersama Mahesa Jenar itu, adalah orang yang sama sekali tidak menakutkan, meskipun menurut laporan ada orang yang pernah mempertunjukkan kesaktian, pada saat ia melindungi Bantaran. Namun, Lembu Sora tidak cemas menghadapinya.

Meskipun demikian, apabila ayahnya tidak berkenan di hatinya, atas tindakannya itu, maka yang terbaik adalah memperkuat pasukannya, memperbesar jumlah orang-orangnya. Karena itu, waktu yang sehari, yang diperlukan oleh ayahnya itu akan menguntungkannya pula. Malam nanti ia dapat memerintahkan orangnya kembali ke Pamingit. Ia harus kembali dengan segenap laskar cadangan dan laskar remaja. Dengan demikian ia mengharap bahwa ia akan berhasil memusnahkan Arya Salaka. Karena pertimbangan itulah maka kemudian ia berkata, “Terserahlah kepada ayah. Kalau ayah memandang perlu untuk membiarkan laskar yang berkeliaran di perbatasan itu memperpanjang umurnya dengan sehari lagi.”

Arya Salaka tersinggung benar mendengar kata-kata pamannya. Tetapi ketika ia akan menjawab, terasa Mahesa Jenar menggamit tumitnya, sehingga akhirnya tak sepatah katapun yang terucapkan. Mahesa Jenar pun sama sekali tak memberi tanggapan apa-apa atas kata-kata Lembu Sora itu.

“Nah,” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Berilah aku dua orang itu.

Lembu Sora menebarkan pandangannya ke halaman. Ketika dilihatnya Wulungan, ia berteriak memanggil.

Wulungan pun kemudian berjalan mendekatinya, dan berdiri di bawah tangga pendapa. “Ada perintah Ki Ageng?” ia bertanya

“Suruhlah dua orangmu mengantar kedua orang ini kembali ke induk pasukannya,”perintah Lembu Sora.

Wulungan ragu sejenak, sampai Lembu Sora mengulanginya, “Dua orang sampai perbatasan, lewat penjagaan terakhir.”

Wulungan mengangguk hormat. Ia tidak perlu tahu, apakah yang terjadi. Yang dapat dilakukan adalah memanggil dua orang dari laskarnya untuk mengantar dua orang laskar Arya Salaka, melampaui penjagaan terdepan, supaya mereka berdua tidak mendapat gangguan apapun.

———-oOo———-

II

Sepeninggal kedua orang yang bertugas untuk mengabarkan kelambatan Arya, Mahesa Jenar bermaksud untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan pendahuluan. Namun Ki Ageng Sora Dipayana berkata dengan tertawa, “Jangan kita berbicara mengenai persoalan-persoalan yang rumit. Aku akan berpesta karena aku telah menemukan kembali cucuku yang hilang.” Kepada Lembu Sora ia berkata, “Lembu Sora, marilah kita lupakan sejenak. Untuk malam ini saja pertentangan-pertentangan yang ada di dalam dada kita. Kalau aku besok atau lusa, harus menghadap kembali kepada Yang Maha Esa, aku akan meninggalkan kalian dengan senyum di bibirku. Aku akan mengenang peristiwa malam ini. Makan bersama-sama dengan anak-cucuku, serta tamu-tamuku yang baik hati.”

Lembu Sora tidak dapat menolak permitaan ayahnya itu. Dengan hati berat, ia terpaksa menyelenggarakan juga makan bersama seperti yang dikehendaki oleh ayahnya, bersama-sama dengan tamu-tamu yang sama sekali tak dikehendaki kehadirannya, dengan Arya Salaka, Sawung Sariti dan Wanamerta. Lembu Sora terpaksa mempersilakan mereka masuk ke Pringgitan, dimana telah disediakan makanan serta segala lauk pauknya di atas tikar pandan yang bersih.

Tetapi demikian kaki Arya melampaui tlundak pintu, demikian terasa jantungnya berdenyut. Di situlah ia beberapa tahun yang lalu bermain-main. Di atas tlundak itu pula kadang-kadang ia duduk. Dan di situ pula ia selalu melihat ayah bundanya duduk bersama-sama, kalau malam turun, sehabis makan sore. Tiba-tiba saja ia teringat pada ibunya. Kenapa baru sekarang? Agaknya semula hatinya terampas oleh kemarahannya kepada Sawung Sariti, sehingga ia tidak ingat lagi kepada kepentingan-kepentingan lain.

Karena itulah maka tiba-tiba ia menjadi gemetar. Matanya berkisar dari pintu ke pintu untuk menanti, barangkali dari sanalah ibunya akan keluar untuk menjumpainya. Tetapi sampai ia duduk di atas tikar pandan menghadapi hidangan makan, ibunya belum juga nampak. Untuk sementara ia mencoba menahan hatinya. Namun akhirnya keluar juga pertanyaan kepada kakeknya, “Eyang, adakah Eyang memperkenankan aku untuk menemui ibuku?”

Ki Ageng Sora Dipayana tersentak mendengar pertanyaan itu. Untuk sesaat tiba-tiba ia terpaku diam dengan wajah yang berkerut. Melihat perubahan wajah itu, Arya Salaka terkejut pula. Karena itu ia mendesak, “Eyang, apakah Ibu selamat?

Orangtua itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, ya, Arya, Ibumu selamat.

Arya tidak puas dengan jawaban itu. Maka ia bertanya kembali, “Tetapi kenapa Ibu tidak datang menemui aku sekarang. Atau akulah yang harus menghadap?”

Ki Ageng Sora Dipayana melemparkan pandangannya kepada Ki Ageng Lembu Sora. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Lembu Sora, jawablah pertanyaan kemenakanmu itu.”

Arya Salaka dan Mahesa Jenar menjadi gelisah karenanya. Maka ketika Lembu Sora tidak segera menjawab, Arya mendesak lagi, “Di mana Ibu, Paman?

Lembu Sora membetulkan letak duduknya. Kemudian ia berkata, meskipun sama sekali tidak memandang wajah Arya Salaka. “Ayah. Aku sudah berkata sebelumnya, bahwa mBakyu Gajah Sora perlu mendapat perlindungan dan ketenteraman sepeninggal Kakang. Di Pamingit, Nyai Lembu Sora akan dapat menemaninya, serta sekadar memberinya ketenteraman dan ketenangan.”

Sekali lagi Arya merasa tersinggung. Agaknya pamannya benar-benar tidak mau mengakui kehadirannya. Meskipun demikian, hatinya berlega pula. Ternyata ibunya masih selamat, meskipun tidak segera dapat ditemuinya. Namun dengan demikian, ia masih mempunyai harapan bahwa pada suatu saat ia akan dapat membawanya kembali ke Banyubiru. Arya menarik nafas dalam. Kepada eyangnya ia berkata: “Eyang, betapa rindukupada bunda. Namun kali ini kerinduanku terpakisa masih aku simpan didalam dada. Mudah-mudahan aku akan segera dapat menemuinya.

“Mudah-mudahan Arya,” jawab eyangnya singkat. Yang kemudian disambungnya dengan cepat,” tapi jangan lupakan permintaanku. Marilah kita makan bersama. Lupakanlah segala persoalan, supaya aku tidak menyesal kelak.”

Tak seorangpun menjawab. Ki Ageng Soradipayana mendahului menikmati hidangan yang tak seberapa baik sebagaimana lajimnya makan yang disediakan didaerah darurat. Dimana setiap saat peperangan dapat berkobar. Meskipun demikian, orang tua itu makan dengan lahapnya seolah olah benar-benar untuk yang terakhir kalinya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Wanamertapun berusaha untuk makan sebaik-baiknya, meskipun sore tadi mereka telah makan kenyang-kenyang. Hanya Arya Salaka yang agaknya tidak dapat menekan perasaannya, sehingga setiap kali ia menelan, setiap kali ia merasakan detak jantungnya semakin cepat.

“Betapa enaknya makanan yang kau sajikan Lembu Sora,” ayahnya memuji.

Lembu Sora sama sekali tidak menaruh minat pada pujian itu. Sore tadi ayahnya juga sudah makan. Makanan yang sama. Tetapi sore tadi ayahnya sama sekali tidak memujinya.

Suatu peristiwa yang jarang-jarang terjadi,” orang tua itu meneruskan. “Makan bersama anak cucu. Alangkah nikmatnya. Kalau saja hal yang demikian ini dapat aku alami tidak hanya sekali. Aku mengharap untuk dapat makan bersama dengan kedua anakku, kedua menantuku dan kedua cucuku.”

Tak seorangpun yang menjawab kata-kata itu. Maka orang tua itu meneruskan, “memang agak berbedalah hidup diantara dinding rumah yang sempit, dengan hidup di udara luas. Tetapi aku kira ada juga perasaan yang serupa dengan perasaanku ini. Apalagi perasaan orang orang tua. Merekapun, aku kira, ingin selalu dapat menikmati hidup mereka yang tinggal beberapa tahun lagi. Mereka ingin selalu dekat dengan anak-anak mereka, menantu menantu mereka dan cucu cucu mereka. Mereka akan mengutuk setiap usaha memisahkan mereka itu. Mereka akan bersedih hati kalau melihat anak cucunya bercerai berai. Apalagi kalau orang orang tua itu tahu, bahwa anak cucunya bertengkar satu sama lain. Sebab dalam pertengkaran itu, orang orang tualah yang pasti akan kehilangan. Siapapun yang kalah dan siapapun yang menang.”

Tiba tiba nasi dimulut Lembu Sora terasa betapa keras dan kering, sehingga ketika ia menelannya, segera ia menyusulnya dengan minum hampir semangkuk penuh. Meskipun demikian ia tak berkata sepatah katapun.

Tetapi, tiba-tiba terdengarlah Sawung Sariti tertawa disusul dengan kata katanya:”Alangkah pendeknya hidup bagi orang tua. Beberapa tahun lagi mereka harus meninggalkan dunia ini. Tetapi bagi naka muda, hidup ini akan dihadapinya dengan penuh gairah.”

Semua mata memandang kearah anak muda itu. Dengan sikap yang angkuh ia meneruskan: “bagi orang orang tua, sisa hidup mereka menikmati sebaik baiknya. Tetapi dengan demikian seharusnya mereka tidak menutup kemungkinan, bahwa anak anak muda harus berusaha untuk mencapai suatu masa yang cemerlang. Cemerlang baginya, sebagaimana yang dicita-citakan.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan dahinya, sambil mengangguk angguk, ia menyahut: “Sawung Sariti benar, seharusnya orang orang tua tidak menghalangi cita cita mereka. Cita cita yang luhur, cita cita yang ditandai oleh kehangatan jiwa menghadapi alam. Namun seharusnya dengan suatu tanggung jawab yang masak pula. Kepada diri sendiri, kepada angkatannya dan kepada cita-cita sendiri. Namun lebih daripada itu, pertanggungan jawab tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itulah maka pencapaian cita-cita betapapun indahnya, harus dilakukan di jalan Allah. Di jalan yang telah dibatasi oleh hukum hukumnya.”

Kembali ruang itu direnggut oleh kesepian. Tak seorang pun yang berkata-kata lagi. Yang terdengar adalah mulut-mulut mereka mengunyah makanan yang disuapkan oleh tangan-tangan mereka. Tetapi mereka sudah tidak dapat merasakan lagi, betapa asinnya garam, dan betapa manisnya gula.

Sawung Sariti tidak senang mendengar kata-kata kakeknya meskipun ia berdiam diri. Ia tahu bahwa ayahnya telah melakukan beberapa kesalahan, meninggalkan kejujuran dan kebenaran. Namun ia tidak menyesal bahwa ayahnya telah melakukannya. Meskipun Sawung Sariti merasakan pula kemutlakan untuk memusnahkan golongan hitam, namun tanpa disengajanya, ia telah melakukan hal-hal yang serupa, sebagaimana pernah dilakukan oleh golongan hitam.

Ki Ageng Sora Dipayana pun tidak berkata-kata lagi. Ia merasa bahwa keadaan belum memungkinkan untuk menyalurkan pendapatnya. Meskipun ia merasa bahwa kemungkinan masih ada. Tetapi yang tidak dapat dibacanya adalah ukiran di dinding hati anak serta cucunya. Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Siapa yang menentang arus harus disingkirkan.

Karena itu, setelah mereka selesai, Ki Ageng Sora Dipayana berkata, “Tamu-tamuku yang terhormat, beristirahatlah kalian di sini. Beristirahatlah dengan tenang. Sebab tak akan terjadi apapun malam ini dan besok pagi. Bukankah begitu Lembu Sora?”

Lembu Sora tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan sengaja.

Bagus…” kata orang tua itu pula. “Sebelum kau lupa Lembu Sora, perintahkan kepada laskarmu. Jangan bergerak sampai besok.”

Lembu Sora juga tidak menjawab, selain mengangguk pula.

“Di manakah tamu-tamumu kau persilahkan beristirahat?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

“Di sana,” jawab Lembu Sora sambil menunjuk gandok wetan dengan dagunya.

Sikap itu memang sama sekali tidak menyenangkan, namun Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta dan Arya Salaka menahan kekecewaan di dalam hatinya. Mereka sama sekali tidak memberikan kesan apapun atas kekecewaan itu, sebagai tanda terima kasih mereka kepada Ki Ageng Sora Dipayana atas usahanya, memecahkan persoalan antara kedua cabang aliran darahnya.

Silahkan Angger.” Ki Ageng Sora Dipayana mempersilahkan. “Aku mengharap Angger berdua dan cucu Arya Salaka beserta Wanamerta besok pagi untuk mengadakan pesta kembali. Pesta sederhana, namun berkesan di hati orang-orang tua seperti aku.”

Ki Ageng Sora Dipayana tidak menunggu jawaban. Ia berjalan mendahului, ke gandok wetan. Tamu-tamunya segera mengikuti pula tanpa berkata sepatah katapun.

Di gandok wetan, beberapa orang Lembu Sora datang mengantarkan tikar pandan rangkap, yang kemudian dibentangkan di lantai. Di sanalah Arya Salaka beserta rombongannya akan beristirahat.

“Silahkan Angger.” Ki Ageng mempersilahkan kembali. “Sedemikian adanya. Besok aku akan mengajak Lembu Sora bertemu dengan kalian. Apapun yang akan kita putuskan bersama. Agal atau alus. Namun yang harap kalian ketahui, kemampuanku sangat terbatas. Aku menyesal bahwa Lembu Sora dan anaknya tak dapat aku kuasai lagi dengan baik.”

Mudah-mudahan kita tak perlu memeras keringat Ki Ageng,” sahut Mahesa Jenar, “Apalagi darah.

Mudah-mudahan.” Orang tua itu bergumam. Kemudian setelah mempersilahkan tamunya beristirahat sekali lagi, Ki Ageng Sora Dipayana meninggalkan mereka di gandok wetan.

Tidak banyak yang mereka percakapkan. Mereka akan mempergunakan waktu istirahat itu sebaik-baiknya. Mereka percaya kepada Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa tak akan terjadi sesuatu malam ini sampai besok.

Malam itu Ki Ageng Lembu Sora memerintahkan kepada laskarnya di garis pertama untuk menunda gerakan mereka. Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan. Bukan kemungkinan untuk menyelesaikan masalah Banyubiru dengan baik, namun yang dipersiapkan adalah memperbanyak jumlah laskarnya.

Sejalan dengan itu, dua orang telah diperintahkannya pula untuk pergi ke Pamingit. Besok menjelang malam, laskar cadangan dan laskar remaja harus sudah masuk kota Banyubiru, langsung menempatkan diri di garis pertahanan. Sebab menilik persiapan laskar Arya Salaka, mereka akan memasuki kota dalam tiga gelar, lewat sebelah timur, barat, dan induk pasukan akan menusuk dari utara. Karena itu, Lembu Sora harus menyesuaikan diri dalam kesiagaan tiga gelar penuh. Bahkan Lembu Sora menyiapkan kelompok-kelompok kecil yang harus mengacaukan gelar sayap-sayap pasukan Arya Salaka dari lambung. Pasukan cadangan ini akan merupakan pasukan penentu. Sebab menurut perhitungan Lembu Sora semula, laskar Arya Salaka adalah laskar yang sama sekali tak teratur, dan tak memiliki daya tempur yang baik. Menurut penilaiannya, laskar itu semula hanyalah laskar yang dipimpin oleh Bantaran dan Penjawi. Apakah yang dapat diberikan oleh kedua orang itu kepada laskarnya, sehingga ia tidak perlu mengerahkan segenap kekuatannya? Tetapi kemudian Lembu Sora berpikir lain. Daripada ia harus mengulangi untuk kedua atau ketiga kalinya, baiklah sekaligus dimusnahkan sajalah laskar Arya Salaka itu bersama-sama dengan Arya Salaka, Wanamerta dan kedua orang yang menyertainya itu.

Tetapi adalah di luar perhitungan bahwa di dalam laskar Arya Salaka terdapat dua orang yang harus diperhitungkan pula, Ki Dalang Mantingan dari Wanakerta dan gembala bertenaga raksasa dari Karang Pandan di kaki gunung Kelut. Wirasaba, Bantaran dan Panjawi itu jauh sebelum mereka bertemu kadang-kadang disebut Seruling Gading. Apalagi kemudian datang bersama-sama dengan Arya Salaka, orang-orang seperti Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Wanamerta. Maka laskar Arya itu sebenarnya merupakan laskar yang telah ditempa lahir dan batin.

Dalam hal itu, Ki Ageng Sora Dipayana lah yang mempunyai perhitungan yang mendekati kebenaran. Karena itulah maka ia sudah dapat membayangkan bahwa apabila terjadi peperangan antara kedua cabang aliran darahnya itu, maka akan habislah nama yang pernah dipupuknya selama ini, perguruan Pangrantunan. Hancur seperti gunung berapi yang kokoh kuat, namun pecah karena kekuatan yang terkandung di dalam perutnya sendiri.

Ketika matahari kemudian menjenguk dari balik bukit, Mahesa Jenar dan Arya Salaka beserta Kebo Kanigara dan Wanamerta segera membersihkan dirinya di sendang kecil di sebalahnya. Tetapi mereka menjadi terkejut ketika terjadi hiruk pikuk di halaman.

Karena itulah maka sebelum mereka sempat berpakaian dengan baik, mereka terpaksa berdiri merapat dinding gandok, untuk dapat mendengar apakah yang telah menyebabkan keributan itu.

Dari pendapa terdengarlah suara Ki Ageng Lembu Sora keras: “adakah kau sudah sampai di Pamingit?”

“Belum Ki Ageng di tengah perjalanan kami jumpai adi Sardu ini,” jawab seseorang yang berdiri dihalaman dengan memegangi kendali kudanya.

Sardu,” teriak Ki Ageng Lembu Sora.

“Ya Ki Ageng,” jawab yang disebut Sardu dengan cemas. Ia melangkah maju. Tangannya juga memegang kendali kudanya.

Benarkah laporan itu?,”

“Benar, Ki Ageng”

Dari celah celah daun pintu gandok, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta dan Arya Salaka dapat melihat bahwa wajah Lembu Sora menjadi merah padam. Dibelakangnya berdiri Sawung Sariti dengan tegangnya. Sedang disampingnya tampak Ki Ageng Soradipanaya dengan wajah suram.

Aku sudah menduga,” teriak Ki Ageng Lembu Sora, kemudian kepada ayahnya ia berkata: “ bukankah apa yang aku katakan itu benar benar terjadi?”

“Apa yang pernah kau katakan kepadaku?” bertanya Ki Ageng Sora Dipayana.

Bukankah ini permainan kotor?,” sahut Lembu Sora. “Aku tak akan dapat dikelabuhi lagi. Persekutuan yang memuakkan dari orang gila.”

Ki Ageng Sora Dipayana menggangguk angguk. Agaknya ia dapat menebak perasaan yang berkobar di dalam dada anaknya. Karena itu ia berkata: “Jangan tergesa-gesa Lembu Sora. Aku mempunyai sangkaan lain,” ayahnya menyoba untuk menyabarkannya.

Tak akan salah lagi,” bantah Lembu Sora.

”Jangan tergesa-gesa Lembu Sora” ayahnya mencoba untuk menyabarkannya.

“Wulungan!!!,” tiba tiba Ki Ageng Lembu Sora berteriak keras.

Dari regol halaman, Wulungan datang berlari lari. Pedang yang tergantung dilambungnya berjuntai-juntai hampir menyentuh tanah. Dengan tangan kirinya ia menyoba untuk menahan pedangnya, supaya tidak mengganggu langkahnya.

“Panggil mereka, siapkan laskarmu di halaman ini,” teriak Lembu Sora.

Baik Ki Ageng,” jawab Wulungan. Ketika kemudian Wulungan memandang kearah gandok wetan, berdebarlah hati Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta serta Arya Salaka.

Apakah yang sudah terjadi?,” pikir mereka. Tetapi melihat Wulungan itu benar benar melangkah ke arah pintu gandok itu.

Ada sesuatu yang tidak beres,” bisik Kebo Kanigara. Mahesa mengangguk. Bersamaan dengan itu Arya segera menyambar tongkatnya yang tersandar didinding.“Apakah yang akan mereka lakukan?,” bisiknya.

“Entahlah,” jawab gurunya.

Apakah mereka sengaja menunggu sampai pagi supaya kami tidak bisa memberikan tanda anak panah api?” tanya Arya.

“Tapi panah Sendaren masih ada,” kata Mahesa, “bukankah demikian paman Wanamerta?”

“Ya,” jawab Wanamerta, “panah itu masih ada padaku”.

Mereka tidak berkata-kata lagi ketika Wulungan sudah berdiri dimuka pintu. Yang kemudian dengan sopan ia berkata: “Angger Arya, ada pesan dari pamannda untuk anda.”

Arya memperbaiki kainnya sambil melangkah keluar pintu. “Adakah sesuatu yag penting sekali paman?”

“Aku tidak dapat mengatakannya,” jawab Wulungan “Baiklah kami segera akan datang,” jawab Arya

Tetapi Wulungan tidak segera pergi. Ketika Arya kemudian masuk kembali, terdengar orang itu berkata dari luar pintu: “marilah ngger, pamanda agaknya tergesa-gesa.”

Arya segera keluar kembali dengan tombak di tangannya. Dibelakangnya berjalan Wanamerta. Dipinggangnya tersangkut bumbung yang tidak saja berisi panah sendaren tetapi juga panah berujung tajam. Sedang ditangan kanannya tergenggam busur yang besar, dengan bola besi sebesar salak dikedua ujungnya. Busur itu dalam keadaan terpaksa akan dapat dipergunakan sebagai senjata pemukul yang berbahaya. Ketika kedua orang pembantunya diperintahkan untuk mendahului membawa perintah Arya, busur itu dimintanya.

Dibelakang mereka berjajar dua orang yang masing-masing menyimpan di dalam dirinya ilmu perguruan Pengging, Mahesa dan Kanigara.

Sambil berjalan Wanamerta berharap mudah mudahan orang yang telah ditentukan untuk menangkap bunyi panah sendaren tidak meninggalkan tempat mereka, sehingga dengan demikian mereka akan dapat melangsungkan setiap berita yang disampaikan apabila terjadi sesuatu.

Ketika Arya sampai di ujung tangga, dan ketika ia hampir naik ke atas tangga itu, Lembu Sora membentak; “Aku tidak mengharap kau naik!”

Arya terkejut, perlakuan itu terlalu kasar. Tapi ia ingin tahu persoalan apa yang membuat pamannya bersikap demikian. Apakah persoalan itu masuk akal atau cuma suatu cara memancingnya kedalam suatu pertengkaran. Karena itu iapun berhenti pula.

Lembu Sora memandangnya dengan mata menyala nyala. Ketika Arya membalas pandangannya ia membentak; “Aku kira kau benar-benar lelaki seperti yang aku duga. Sekarang katakan kepadaku apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

Arya menjadi bingung, ia menjawab; “aku tidak tahu maksud paman.”

Lembu menyibirkan bibirnya sambil sesekali meludah ke lantai; “kau berhasil menarik sebagian laskarku ke Banyu Biru. Sekarang kau pergunakan laskar hitam untuk memukul Pamingit.”

 Kata-Kata pamannya itu bagi Arya seperti suara petir yang meledak di ubun- ubunnya. Bahkan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Wanamerta sampai bergeser maju selangkah.

Apa yang Paman katakan?” Arya ingin penjelasan.

Sudah kau dengar,” jawab Lembu Sora.

“Bohong,” bantah Arya. Hatinya telah benar-benar panas. Apalagi dengan tuduhan pamannya yang sangat menyakitkan hati itu.

“Tak ada yang akan memaksa kau mengakui perbuatan curang itu. Namun kau tidak akan dapat mengingkari, bahwa laskar di perbatasan yang sama sekali tak berarti itu ternyata hanya suatu cara untuk memancing laskar Pamingit,” sahut Lembu Sora keras.

“Tidak benar.” Arya menjadi gemetar, karena marahnya. Tetapi dengan demikian kata-katanya seperti tertahan di kerongkongan.

“Katakan kepadaku,” sambung Lembu Sora, “Apa sebabnya kalian tidak segera menyerang sejak kemarin, sejak kemarin dulu atau sejak seminggu yang lalu? Apa hubungan kalian dengan kedatangan orang-orang dari Nusakambangan beberapa minggu lampau, kemudian menyusul orang yang bernama Mahesa Jenar itu kemari? Apa…? Kalian tidak akan dapat membantah, bahwa kalian benar-benar telah bekerja bersama dengan mereka. Kalau tidak, mereka tidak akan secara kebetulan menduduki Pamingit menjelang ayam berkokok untuk yang kedua kalinya pagi tadi.”

Bohong!” sekali lagi suara Arya yang bergetar terhenti di kerongkongannya. Mahesa Jenar tahu hal itu, sebagaimana yang pernah terjadi. Arya bukan orang yang pandai berbantah. Karena itu dengan tenang ia melangkah maju untuk mewakili muridnya berkata, “Ki Ageng Lembu Sora, jangan menuduh kami seperti menuduh pencuri. Kami bukan sebangsa pengecut yang tidak percaya pada diri sendiri, sehingga kami telah kehilangan harga diri, bekerja bersama dengan golongan hitam. Golongan yang akan terkutuk sampai seribu keturunan.

Lembu Sora tertawa terbahak-bahak. Tertawa untuk melepaskan kemarahan yang hampir tak tertahan lagi. Kemudian dengan menunjuk kepada Sardu ia berkata keras-keras, “Berkatalah kepadanya. Berkatalah bahwa kalian telah mencoba mencuci tangan. Namun orang itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, orang-orang golongan hitam menduduki Pamingit. Membakari rumah-rumah dan segala isinya. Orang itu mendengar dengan telinga yang melekat di batok kepalanya, bahwa orang-orang golongan hitam itu berteriak-teriak. Tak ada gunanya kalian mengirim orang ke Banyubiru. Banyubiru telah dihancurkan oleh Arya Salaka dan Mahesa Jenar. Apa katamu?”

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada seekor kuda yang berlari dengan meninggalkan debu yang putih dan menghilang di cakrawala siang kemarin, ketika laskar Arya sedang berjalan ke perbatasan. Karena itulah maka ia berkata di dalam hatinya, “Gila. Orang-orang golongan hitam itu benar-benar mempergunakan kesempatan ini.” Namun kepada Lembu Sora ia menjawab, “Kau terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kalau orang-orang golongan hitam itu mempergunakan setiap kesempatan di dalam kekeruhan, adalah mungkin sekali. Karena itulah maka aku selalu menganjurkan kepada Arya Salaka, untuk menempuh jalan yang tidak memungkinkan golongan hitam itu mengambil kesempatan. Tetapi kau telah memaksa untuk memagari kota ini dengan pasukannya.”

“Kau sama sekali tidak bermaksud menyelesaikan masalah Banyubiru dengan baik. Kau hanya ingin menjajagi keteguhan tekad kami untuk melindungi daerah ini. Ketika kau merasa tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu, kau meleburkan dirimu ke dalam tubuh golongan hitam itu.”

Mahesa Jenar akhirnya menjadi marah pula. Meskipun ia masih mencoba menahannya. Katanya, “Kami adalah orang-orang yang menempatkan diri kami di dalam lingkungan yang menganggap bahwa golongan hitam harus dimusnahkan.”

Sekali lagi Lembu Sora tertawa untuk melepaskan kemarahannya yang semakin memuncak. Sama sekali bukan tertawa karena ia menjadi gembira. Katanya meledak seperti guruh, “Mahesa Jenar. Sejak semula aku sudah curiga kepadamu. Kepada Kakang Gajah Sora aku sudah pernah memperingatkan bahwa orang Pandanaran ini, kenapa demikian mengikat diri di Banyubiru. Sejak lenyapnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Walangkan di Banyubiru, sebenarnya aku sudah dapat mengambil kesimpulan, bahwa kau adalah salah seorang dari mereka. Salah seorang dari golongan hitam.”

Dada Mahesa Jenar seperti akan meledak mendengar tuduhan itu. Ia benar-benar marah. Karena itulah maka ia melangkah selangkah maju.

Dalam pada itu Ki Ageng Sora Dipayana pun menjadi sangat cemas. Tetapi ketika ia akan melangkah, Mahesa Jenar telah berkata dengan lantangnya sambil menunjuk ke arah wajah Ki Ageng Lembu Sora, “Ki Ageng Lembu Sora. Kau jangan mengada-ada. Siapakah yang pernah berhubungan dengan golongan hitam untuk meniadakan Kakang Gajah Sora. Siapakah yang telah mengikatkan diri dalam suatu perjanjian dengan Sima Rodra Muda atas tanah Pangrantunan? Dan siapakah yang telah mengerahkan orang-orangnya untuk mencegat pasukan dari Demak, pada saat Gajah Sora sedang berusaha untuk memecahkan perselisihan yang ada antara Banyubiru dengan Demak? Siapakah yang dengan senang hati menghadiri pertemuan golongan hitam di lembah Rawa Pening? Siapa? Mahesa Jenar kah itu…?”

Diam…!” bentak Lembu Sora.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mau diam. Ia berkata terus, sambungnya, “Kau takut melihat kenyataan itu.”

“Kau takut aku mendahului mengatakan itu kepadamu,” teriak Lembu Sora, “Dengan ocehanmu itu kau ingin mengaburkan kenyataan yang kau hadapi kini.”  

 “Huh,” Mahesa Jenar menyahut, “Katakan kepadaku Lembu Sora. Siapakah yang telah membunuh Sima Rodra Muda? Siapa pula yang telah membunuh jandanya, yang telah kehilangan sifat manusianya? Kau tidak pernah melihat cara mereka bergembira. Sayang. Barangkali kau akan tertarik pula pada upacara-upacara yang mereka adakan. Dan siapakah yang telah membunuh sepasang Uling dari Rawa Pening? Bukan kau? Bukan Ki Ageng Lembu Sora yang sekarang berdiri dengan gagahnya di pendapa Banyubiru?”

Lembu Sora terdiam untuk beberapa saat. Ia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar yang mengalir seperti banjir itu. Ia memang pernah mendengar kabar, bahwa Sima Rodra suami-istri dan sepasang Uling Rawa Pening telah terbunuh. Namun kabar itu sangat dirahasiakan oleh golongan hitam. Apalagi kegiatan-kegiatan di Gunung Tidar maupun di Rawa Pening seolah-olah sama sekali belum padam. Sehingga ia menjadi ragu atas kebenaran berita itu. Dalam keragu-raguan ia mendengar Mahesa Jenar meneruskan, “Ketahuilah Lembu Sora, bahwa akulah yang membunuh Sima Rodra Muda. Sedang jandanya telah mati terbunuh oleh anak tirinya. Kalau kau ingin tahu siapakah yang membunuh Uling Putih dan Uling Kuning? Nah, lihatlah anak yang berdiri di hadapanmu itu. Kemenakanmu sendiri.”

Yang mendengar kata-kata itu menjadi terkejut. Lembu Sora, Sawung Sariti, juga Sora Dipayana. Apakah benar Arya Salaka telah dapat membunuh sepasang Uling Rawa Pening? Tetapi mereka tidak bertanya.

Sehingga kemudian terdengar Mahesa Jenar meneruskan, “Arya Salaka lah yang pada masa orang-orang golongan hitam mabuk mencari keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, dan kemudian keinginan mereka menelan Pamingit dan Banyubiru, selalu dikejar-kejar sehingga sangat membahayakan jiwanya, dan yang kemudian tampil ke depan melawan mereka. Itukah yang kau tuduh sekarang ini tertelan oleh golongan itu?”

Lembu Sora menjadi pening mendengar suara Mahesa Jenar seperti hujan tercurah dari langit. Karena itu kemudian ia berteriak keras-keras, “Cukup. Cukup…! Kebohongan yang teratur memang kadang-kadang menimbulkan kesan, seolah-olah peristiwa-peristiwa itu benar-benar telah terjadi. Tetapi aku tidak akan dapat kau kelabuhi. Aku tidak buta dan aku tidak tuli. Aku melihat semua yang telah terjadi, dan aku mendengarnya pula. Sekarang aku tidak akan banyak bicara. Kesempatan yang baik bagiku untuk menumpas kalian di sini sekarang juga. Baru aku akan tenang kembali ke Pamingit untuk memusnahkan orang-orang dari golongan hitam itu.”

Mahesa Jenar sadar, bahwa ia tidak perlu memberi keyakinan kepada Lembu Sora bahwa ia sama sekali tidak mengadakan hubungan apapun dengan golongan hitam. Ia tidak perlu mengabarkan bahwa yang terakhir ia bertempur mati-matian melawan Pasingsingan. Sebab apapun yang dikatakan, tidak akan mempengaruhi maksud Lembu Sora untuk memusnahkan mereka. Karena itu yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan diri sepenuhnya untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

———-oOo———-

III

Dalam pada itu tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana melangkah maju. Agaknya ia dapat mengambil kesimpulan dari pertengkaran antara anaknya dengan Mahesa Jenar. Maka katanya kemudian, “Lembu Sora. Jangan kehilangan pegangan. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan tanahmu, Pamingit. Kalau kau buang waktu dan tenagamu di sini, maka aku kira keadaan tanahmu dan dirimu sendiri akan menjadi semakin parah.”

Apakah yang dapat dilakukan oleh empat orang itu, Ayah…?” bantah Lembu Sora.

Ki Ageng Sora Dipayana menyahut, “Empat orang ini adalah orang-orang yang dapat kau lihat berdiri di sini Lembu Sora. Tetapi di belakang mereka berdiri satu pasukan yang kuat di perbatasan kota.”

“Pasukan itu tak akan berarti bagiku,” jawab Lembu Sora dengan sombongnya.

“Berarti atau tidak berarti, namun itu telah mengurangi waktumu dan tenaga laskarmu. Kau lihat apa yang tersimpan di dalam bumbung Wanamerta itu? Panah sendaren, yang dapat menggerakkan laskar mereka dari jarak yang jauh. Dan kau dengan apa yang dikatakan Angger Mahesa Jenar? Arya Salaka telah mampu membunuh sepasang Uling dari Rawa Pening. Karena itu kau akan dapat mengira-irakan, apakah yang dapat dilakukan oleh Angger Mahesa Jenar.”

“Aku tidak peduli,” potong Lembu Sora.

“Kau harus pedulikan itu,” sahut ayahnya. Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana tidak sempat meneruskan ketika di luar regol terdengar suara ribut.

Apakah itu?” tanya Lembu Sora keras-keras. “Laskar diperbatasan mulai bergerak?”

Seseorang berlari-lari datang kepadanya. Dengan hormatnya ia berkata, “Bukan Ki Ageng. Sama sekali bukan laskar dari perbatasan. Tetapi mereka adalah rakyat Banyubiru.”

“Apa yang mereka lakukan? Adakah mereka sudah gila?” bentak Lembu Sora.

Tidak Ki Ageng,” jawab orang itu. “Mereka mencoba untuk memasuki halaman.”

“Kenapa?” Lembu Sora membentak-bentak.

Mereka ingin melihat Arya Salaka,” jawabnya.

“Gila. Mereka telah benar-benar gila. Kenapa kau bilang tidak?” Lembu Sora menjadi semakin marah. Persoalan itu menambah kepalanya menjadi pening. “Bunuh mereka yang memaksa.”

“Jangan Lembu Sora,” ayahnya menyabarkan. “Kau jangan menambah lawan. Rakyat Banyubiru adalah sebagian darimu selama kau masih berdiri di sini. Karena itu dengarlah suaranya. Selama ini tak pernah mengerti apa yang tersimpan di dalam hatinya. Kau paksa mereka berkata seperti apa yang kau katakan.

Sekarang kau benar-benar di dalam kesulitan. Biarlah aku menempatkan dirimu pada tempat yang seharusnya. Pergilah ke Pamingit dan hancurkan golongan hitam yang telah menodai kedaulatanmu.”  Kemudian kepada Arya Salaka, kakeknya itu berkata, “Arya, aku minta kepadamu, tundalah persoalanmu. Sebab setiap pertengkaran di antara kita hanya akan memberi kesempatan kepada golongan hitam untuk melumpuhkan kita. Kau mau?”

Arya ragu sejenak. Tiba-tiba ia dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit. Hampir-hampir ia tidak dapat lagi meredakan kemarahannya, seandainya bukan kakeknya yang bertanya kepadanya. Karena itu, berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang lebih jauh, Arya merasa tidak berkeberatan. Meskipun demikian ia memandang juga kepada gurunya. Ketika gurunya mengangguk, Arya pun menjawab, “Aku akan bersedia dengan sepenuh hati, Eyang.

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-angguk gembira. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Aku memang sudah menduga bahwa hatimu bersih sebersih hati ayahmu.”

Kembali Lembu Sora menjadi sakit hati mendengar pujian itu. Dengan lantangnya ia berkata, “Ayah terlalu memberi hati kepadanya. Biarlah ia tahu bahwa ia sama sekali tak cukup bernilai untuk mempersoalkan kedudukan Kakang Gajah Sora.”

“Eyang…” sahut Arya yang hampir kehilangan kesabarannya kembali, “Biarlah paman memilih.”

“Jangan, jangan….” potong Sora Dipayana cemas. Suaranya terputus oleh keributan yang semakin menjadi-jadi di luar regol. Terdengarlah suara rakyat Banyubiru itu berteriak-teriak, “Berilah kami jalan. Biarlah kami melihat Arya Salaka.

Para penjaga menjadi semakin sibuk. Mereka merapatkan diri dengan senjata terhunus untuk menahan arus rakyat yang sedemikian lama semakin banyak.

“Dari mana mereka tahu, bahwa Arya Salaka ada di sini?” tanya Sora Dipayana kepada salah seorang pengawal.

“Entah Ki Ageng,” jawabnya.

“Lembu Sora.” Ki Ageng Sora Dipayana berkata kepada anaknya, “Kesetiaan mereka kepada kampung halamannya harus kau perhitungkan pula. Mereka dapat menjadi lunak, namun dapat menjadi liar melampaui serigala.”

Lembu Sora terdiam. Ia menjadi benar-benar ngeri menghadapi keadaan. Golongan hitam dengan ganasnya telah melanda Pamingit. Sekarang rakyat Banyubiru seperti orang mabuk berbondong-bondong datang untuk melihat Arya Salaka.

Arya…” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Hanya kau yang mampu menenangkan mereka. Pergilah kepada mereka, dan berjanjilah bahwa kau akan menunda persoalan sampai pamanmu dengan orang-orang golongan hitam itu selesai.”

Kembali Arya ragu. Namun sekali lagi ia melihat gurunya menganggukkan kepalanya. Maka Arya pun menjawab,”Baiklah Eyang.”

“Aku percaya kepadamu.” Kakeknya berkata seterusnya. Lalu kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Apalagi kepada Angger Mahesa Jenar sebagai penerus perguruan Pengging yang terkenal. Aku percaya kepada Angger seperti aku percaya kepada setiap kata yang diucapkan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh.”

Mahesa Jenar sadar, bahwa kata-kata itu sama sekali bukanlah pujian, tapi baginya, Ki Ageng Sora Dipayana menyatakan permintaannya yang sedalam-dalamnya, supaya ia dapat mengendalikan Arya Salaka. Namun demikian ia menjawab, “Mudah-mudahan aku dapat menjunjung kepercayaan itu.”

Kemudian kepada Lembu Sora ia berkata, “Kau dapat pergi dengan tenang Lembu Sora. Anggaplah bahwa di Banyubiru sekarang tidak ada persoalan apapun. Dengan demikian kau dapat mencurahkan segenap perhatianmu kepada tanahmu.”

Lembu Sora masih ragu. Baginya sebenarnya akan sama saja akibatnya. Dalam keadaan payah, ia masih harus menghadapi lawan lain. Tetapi akhirnya ia benar-benar mengharap, agar Arya menunda tuntutannya sampai ia dapat menyegarkan laskarnya kembali.

Ketika di luar suara rakyat Banyubiru seolah-olah hendak membelah langit, maka sekali lagi Ki Ageng Sora Dipayana berkata kepada Arya, “Arya, tenangkan mereka. Syukurlah kalau mereka mau kau minta pulang ke rumah masing-masing, supaya tidak menambah beban pembicaraan kita di sini. Sementara itu biarlah pamanmu dan adikmu Sawung Sariti mempersiapkan keberangkatannya.”

Arya membungkuk hormat. Kemudian ia melangkah ke regol halaman diikuti oleh Wanamerta, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Demikian ia sampai di depan regol, terdengarlah suara rakyat Banyubiru itu. “Itukah Arya Salaka? Itukah…?” Kemudian suara itu menjadi semakin riuh. Akhirnya meledaklah suara mereka, “Arya Salaka…! Arya Salaka….!”

Kemudian Arya berdiri di atas sebuah dingklik kayu. Mula-mula yang menyentuh perasaannya adalah keharuan yang mendalam. Untuk sesaat ia tak dapat berkata sepatah katapun. Seolah-olah lidahnya menjadi beku. Baru kemudian ia berkata, “Berbahagialah aku, karena kesempatan yang aku peroleh, berhadapan muka dengan rakyat Banyubiru yang setia.”

Suara rakyat itu semakin menggemuruh, seperti lebah berpindah sarang.

Arya Salaka mengangkat tangannya. Suara itupun menjadi semakin berkurang, dan akhirnya hilang sama sekali. Para pengawal masih saja berdiri rapat dengan ujung senjata yang rapat pula.

Aku datang kembali ke Banyubiru, karena rinduku kepada kampung halaman dan kepada kalian,” sambung Arya Salaka. Suaranya terputus oleh tepuk tangan gemuruh. “Tetapi…”sambung Arya Salaka, “Maafkanlah bahwa aku belum mempunyai banyak waktu untuk menyambut kalian dengan tanggapan yang lebih baik. Karena itu aku janjikan, lain kali aku akan menerima kalian, seluruh rakyat Banyubiru di alun-alun ini. Sekarang, setelah terpenuhi permintaan kalian, berhadapan muka dengan aku, aku harap kalian sudi meninggalkan tempat ini, kembali ke tempat kalian masing-masing.”

Rakyat Banyubiru menjadi kecewa. Mereka ingin mendengar kabar, apakah yang telah terjadi di dalam lingkaran dinding rumah itu. Mereka ingin mendengar, apakah Ki Ageng Lembu Sora masih akan tetap menguasai Banyubiru. Namun sekali lagi Arya minta mereka untuk bubar, dengan janji secepat-cepatnya ia akan memberikan kabar itu kepada rakyat Banyubiru. Sehingga dengan demikian, meskipun hati mereka belum lapang seperti harapan mereka, namun setidak- tidaknya mereka telah bertemu dengan anak muda yang mereka rindukan. Yang telah mereka dengar kehadirannya dari Ira, yang sengaja menyebar kabar kedatangan Arya Salaka.

Ketika rakyat yang berjejalan itu telah surut, dan semakin lama semakin hilang, maka siaplah Lembu Sora beserta putranya Sawung Sariti. Beberapa orang berkuda telah disebar untuk menarik pasukan Pamingit dari perbatasan. Penarikan itu disambut dengan berbagai pertanyaan di dalam hati.

Mula-mula, mereka yang menyandang senjata karena gemerincingnya uang, merasa berbahagia sekali ketika mereka mendengar bahwa pasukan itu ditarik dari garis pertempuran. Sebab mereka memang sama sekali tidak mengharapkan darah mereka menetes, menyiram tanah yang tak memberikan harapan apa-apa bagi mereka. Dengan demikian mereka mengharap untuk dapat segera bertemu dengan anak istrinya atau dengan kekasihnya, atau dengan orang tua mereka yang telah pikun dan meletakkan harapan mereka kepada anak-anaknya. Tetapi ketika mereka mendengar kabar, bahwa mereka harus berhadapan dengan golongan hitam lebih dahulu, mereka menjadi kecewa. Bagi mereka, orang-orang golongan hitam pasti akan jauh lebih buas dan biadab daripada orang-orang Banyubiru. Tetapi ketika mereka teringat anak-istri mereka, sawah dan ladang dimana mereka meletakkan harapan mereka untuk memberi anak-anak mereka makan, maka tiba-tiba timbullah semangat mereka. Terasalah perbedaan tanggapan, bahwa mereka akan lebih ikhlas berkorban apabila mereka mempertahankan sawah ladang mereka, daripada mereka harus merampas sawah ladang orang lain.

Di Alun-alun Banyubiru mereka berkumpul. Di hadapan mereka Ki Ageng Sora Dipayana berkata, “Rakyat Pamingit yang berani…. Kenanglah masa-masa orang tuamu dahulu menempa tanah ini menjadi daerah perdikan seperti yang kalian miliki ini. Karena itu pertahankan tanah itu. Rakyat Pamingit, bagian dari tanah perdikan yang semula bernama Pangrantunan, pasti akan tetap berdarah jantan. Orang-orang golongan hitam bukanlah hantu yang harus kita takuti, tetapi mereka adalah setan-setan yang harus kita musnahkan. Masa depan tanah kalian berada di dalam genggaman kalian.

Orang yang semula ragu-ragu hatinya, kini menjadi teguh. Kalau ada di antara orang-orang laskar Pamingit itu orang Pangrantunan, maka merekapun masih teringat, beberapa tahun yang lampau, beberapa orang bawahan Sima Rodra selalu datang menarik tanda panungkul kepada mereka. Mereka tak dapat berbuat sesuatu, sebab tanah itu telah digadaikan oleh Lembu Sora. Tetapi sejak dua orang Lembu Sora terbunuh, berbedalah keadaannya. Apalagi kemudian terjadi perubahan perhubungan antara Ki Ageng Lembu Sora dan Sima Rodra, apalagi sepeninggal Sima Rodra muda suami-istri, sehingga gadai tanah itu dicabut. Kini mereka harus berhadapan dengan golongan hitam itu. Bekal dendam yang ada di dalam dada mereka telah menyalakan semangat mereka untuk menumpas golongan hitam itu habis-habisan, meskipun ada di antara laskar Pamingit itu yang pernah mengalami suatu masa, dimana mereka harus bekerja bersama dengan laskar hitam itu.

Ketika matahari telah memanjat semakin tinggi di kaki langit, terdengarlah bunyi sangkalala. Seperti air mengalir laskar Pamingit itu bergerak, meninggalkan Alun-alun Banyubiru kembali ke kampung halaman, untuk mempertahankan tanah mereka dari terkaman orang-orang yang tergabung di dalam suatu lingkaran hitam yang berhati kelam.

Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, dengan kuda masing-masing, berjalan di ujung pasukannya. Di belakangnya berjalan dengan tekad yang bulat, pemimpin pengawal kepala daerah perdikan itu, Wulungan. Seterusnya beberapa orang pilihan, yang tergabung dalam laskar pengawal itu. Barulah kemudian berbaris membujur ke belakang, kelompok-kelompok laskar Pamingit.

Sebenarnya Lembu Sora pun mempunyai beberapa orang pilihan yang dapat membantunya, menghadapi tokoh-tokoh hitam. Selain Wulungan, di dalam laskar Pamingit itu terdapat orang-orang yang setingkat Galunggung, Welat Ireng, Pakuwon, Sampir, dan beberapa orang lainnya. Mereka mendapat tugas untuk mengawasi laskar Pamingit itu, memimpin mereka dan mengolah mereka, disamping Lembu Sora dan Sawung Sariti sendiri. Kepada merekalah Lembu Sora meletakkan harapannya atas laskarnya.

Namun demikian, di sepanjang perjalanan itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti selalu dikejar-kejar oleh berbagai persoalan. Selain perasaan marah yang membakar dadanya, melontar pula kecemasan di hatinya. Siapa sajakah yang turut serta di dalam laskar yang menduduki Pamingit itu? Yang sudah jelas baginya, adalah Joko Soka dari Nusakambangan. Betapa bencinya ia kepada bajak laut yang gila itu. Kalau saja tak ada gerombolan lain yang membantunya, maka ia yakin bahwa Jaka Soka bukanlah beban yang terlalu berat baginya. Ia yakin bahwa jumlah laskarnya akan terlampau besar untuk menghadapi Ular Laut itu. Tetapi adakah gurunya ikut serta. Nama Nagapasa adalah nama yang cukup menggetarkan. Meskipun nama itu telah lama tenggelam, namun setiap orang tahu, bahwa Jaka Soka adalah murid dari bajak tua yang terkenal dengan nama ilmunya yang mengerikan, Nagapasa. Apalagi kalau golongan hitam yang lain ikut serta mengambil bagian dalam penyerbuan itu, maka pekerjaannya akan menjadi berat sekali. Di dalam laskarnya tak seorangpun yang akan dapat berhadapan seorang lawan seorang dengan Nagapasa itu. Kalau benar orang itu ada, ia sendiri harus menghadapinya dengan bantuan sepuluh atau duapuluh orang bersama-sama. Bahkan mungkin ia memerlukan lebih dari limapuluh orang, sedang yang separonya pasti akan binasa. Bahkan mungkin dirinya pun akan binasa.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba terasa betapa kecil kekuatan Lembu Sora kini. Kalau saja kakaknya, Gajah Sora, ada. Kalau saja ayahnya ada di antara laskarnya. Kalau saja Arya Salaka….

Tidak!” Tiba-tiba terdengar suara Lembu Sora tersentak.

Sawung Sariti terkejut. Ia menoleh kepada ayahnya. “Apa yang ayah maksud?

Lembu Sora menggeleng. “Tak apa-apa.”

Meskipun jawaban itu sama sekali tidak memuaskannya, namun ia tidak bertanya lagi. Ia sendiri sedang sibuk berangan-angan. Apakah yang kira-kira akan dilakukan nanti. Sekali-kali ia menoleh kepada laskarnya yang mengalir tak putus-putusnya. Dengan tersenyum ia berkata dalam hatinya, “Betapa kuatnya orang perorang dari golongan hitam, namun dengan ditimbuni mayat laskar Pamingit yang tak terhitung jumlahnya, mereka pasti akan ngeri juga.” Memang, bagi Sawung Sariti jumlah korban dari laskarnya bukanlah soal. Meskipun demikian ia berpikir juga. “Tetapi kalau terlalu banyak laskar ini akan berkurang nanti, dengan apa aku harus melawan Arya Salaka?” Ia pun menjadi bimbang. Sawung Sariti sadar bahwa ia harus bertempur, sebab ia tahu benar bahwa orang hitam itu tak akan diajak berbaik hati. Ia sadar bahwa kalau selama ini mereka berdiam diri, bahkan dalam berbagai hal mereka membantunya, itu karena mereka mempunyai beberapa persamaan kepentingan.

Tetapi kemudian timbul pula angan-angannya, “Ah, jumlah laskar anak itu, tak akan seberapa kuat.

Ia mencoba membesarkan hatinya sendiri, meskipun setiap kali ia ingat kepada nama-nama Jaka Soka, Lawa Ijo, apalagi Nagapasa, mungkin juga Pasingsingan, Sima Rodra tua, Bugel Kaliki, hatinya berdesir. Tetapi ia mencoba untuk menyembunyikan perasaannya. Dan sekali lagi ia mencoba untuk membanggakan jumlah laskarnya.

Satu seratus,” bisiknya di dalam hati. “Laskarku pasti masih akan mempunyai banyak kelebihan.

Dengan demikian Sawung Sariti menjadi sedikit tenang. Sekali-kali ia menatap langit yang biru. Sehelai-helai awan yang putih mengalir ke utara, seperti kapuk dihanyutkan angin. Putih dan bersih. Tiba-tiba di balik awan yang bersih itu terbayang wajah Arya Salaka. Alangkah cekatan tangannya memainkan tombaknya. Disampingnya terbayang wajah yang meskipun memancarkan kesejukan hatinya, namun suatu ketika wajah itu cepat menyala melampui nyala api. Mahesa Jenar. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh seorang yang berwajah angker yang selalu berada bersama-sama dengan Mahesa Jenar? Orang itu ternyata pernah menggemparkan laskarnya, ketika ia melindungi Bantaran di tanah lapang, tempat orang-orang Banyubiru menyelenggarakan tayub. Lalu terkenanglah ia kepada Wanamerta yang tua. Yang pada masa kecilnya, pernah membelai kepalanya, mendukungnya di punggung dan memberinya buah-buahan yang segar. Ketika awan yang putih itu telah menjalar semakin jauh, muncullah segumpal awan yang lain. Tiba-tiba tampaklah seolah-olah memandangnya dengan segan seorang wanita, yang dikenalnya bernama Rara Wilis. Wanita inipun bukan wanita kebanyakan yang berlari seperti kijang apabila ia mendengar dentang senjata. Bahkan wanita ini pernah diketahuinya, bertempur di antara laskar Gedangan melawan laskarnya. Yang muncul kemudian adalah wajah yang manis dari seorang gadis lincah. Endang Widuri. Ia melihat gadis ini pertama-tama di Karang Tumaritis. Tetapi kemudian di Gedangan, gadis ini dilihatnya pula sepintas. Namun, dalam pertemuan yang sebentar itu, tertanamlah suatu perhatian yang aneh kepadanya. Adakah gadis ini ikut serta di dalam laskar Arya Salaka? Agaknya gadis inipun mampu mempermainkan senjata.

Ketika angin yang kencang bertiup dari pegunungan, awan yang putih itu pecah berserakan, seperti hati Sawung Sariti yang pecah pula. Nama-nama itu, Arya Salaka, Mahesa Jenar, Putut Karang Jati, Wanamerta, Rara Wilis dan Endang Widuri itupun pada suatu saat akan berdiri berhadapan untuk dilawannya. Apakah pekerjaan ini lebih ringan daripada melawan orang-orang golongan hitam?

Satu seratus.” Kembali Sawung Sariti berdesis di dalam hatinya. “Tetapi bagaimana dengan rakyat Banyubiru?” Suara hatinya membantah sendiri, “Mereka agaknya masih tetap menunggu kedatangan Arya Salaka. Dan merekapun pasti tak akan dapat diabaikan.”

“Persetan!” Tiba-tiba hati Sariti mengumpat. “Semua harus aku musnahkan. Baik golongan hitam maupun Arya Salaka. Pamingit dan Banyubiru harus jatuh ke tanganku. Kemudian akan aku kuasai Kedu Bagelan. Ke utara sampai ke Bergoto. Apalagi kalau Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten telah berada di tanganku.”

Sawung Sariti tersenyum sendiri. “Eyang akan tahu nanti, bahwa cucunya akan mampu menggulung dunia.” Suara itu mengumandang di dalam otaknya, dibarengi oleh mengumandangnya derap langkah laskarnya.

Di Banyubiru, sepeninggal laskar anaknya, Ki Ageng Sora Dipayana berdiri terpaku memandang debu yang mengepul dibelakang laskar itu. Meskipun ia masih tegak di alun-alun, namun hatinya serasa pergi bersama-sama dengan pasukan yang akan menghadapi pekerjaan yang cukup berat. Melawan laskar golongan hitam. Setelah ekor dari iring-iringan telah lenyap di balik tukungan, barulah ia beranjak dari tempatnya, dan sambil menoleh kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Aku mengharap, bahwa peristiwa ini akan dapat mendorong anak itu menyadari keadaannya.”

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi ia mengangguk.

Marilah Angger…” ajak Ki Ageng Sora Dipayana, “Kita kembali ke pendapa.”

Aku sudah menduga bahwa golongan hitam akan mengambil kesempatan ini,” kata Mahesa Jenar ketika mereka telah duduk kembali di pendapa Banyubiru.

Bagaimana Angger dapat mengetahuinya?” tanya Sora Dipayana, meskipun sebenarnya untuk menduga hal itu tidaklah sulit.

Bahkan aku hampir pasti,” jawab Mahesa Jenar, “Karena itu aku berusaha sedapat mungkin untuk menunda pertempuran.” Mahesa Jenar berhenti sejenak sambil memandangi wajah Arya. Tetapi anak itu menundukkan wajahnya. Kemudian terdengar Mahesa Jenar meneruskan, “Namun darah yang mengalir di dalam tubuh anak-anak muda memang masih terlalu panas. Bahkan darah di dalam tubuhku inipun rasa-rasanya masih terlalu sering mendidih.”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Kebo Kanigara pun tersenyum pula.

Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan, apa yang selama ini dialaminya di sekitar Candi Gedong Sanga. Kehadiran gerombolan Lawa Ijo dan seorang berkuda yang meninggalkan tempatnya menghilang di balik cakrawala ketika orang itu melihat laskar Arya Salaka mendekati Banyubiru, kemarin.

Golongan hitam pasti mengira bahwa pagi ini pertempuran sudah berkobar di Banyubiru antara laskar Kakang Lembu Sora melawan laskar Arya Salaka.” Mahesa Jenar mengakhiri keterangannya.

Angger benar,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. “Untunglah bahwa pertempuran di Banyubiru tertunda.”

Tuhan Yang Maha Adil telah melaksanakan rencananya. Menyelamatkan rakyat Banyubiru dan Pamingit dari kekuasaan golongan hitam,” desis Mahesa Jenar. “Andaikata pertempuran telah berkobar pagi ini, maka kedua laskar Pamingit dan Banyubiru akan sama-sama hancur. Pamingit hari ini telah jatuh ke tangan golongan hitam, lalu besok atau lusa Banyubiru inipun akan mereka telan habis.”

Arya masih berdiam diri. Namun kini membayang kembalilah di dalam pelupuk matanya, bagaimana gurunya berusaha mati-matian untuk menunda pertentangan yang mungkin terjadi antara laskarnya dengan laskar pamannya.

Arya kini dapat menyadari sepenuhnya, bahaya apakah yang akan menimpa Pamingit dan Banyubiru apabila ia benar-benar terlibat dalam pertempuran dengan pamannya. Di dalam hati Arya berkali-kali mengucap syukur, serta berkali-kali ia menyebut kebesaran nama Tuhan yang telah menunda pertempuran itu.

Dalam pada itu terasalah pada Arya Salaka beserta rombongannya, betapa Ki Ageng Sora Dipayana menjadi gelisah. Agaknya ia benar-benar tidak sampai hati melepaskan Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti pergi. Sebab iapun tahu bahwa golongan hitam itu mempunyai orang-orang yang tak akan dapat dilawan oleh anaknya, meskipun ia telah berusaha untuk menempa anak serta cucunya siang dan malam.

Hal ini ternyata kemudian ketika orang tua itu akhirnya berkata, “Arya Salaka. Meskipun kau telah berjanji untuk menunda persoalanmu sampai waktu yang tak ditentukan, tetapi aku minta kepadamu untuk mengawasi Banyubiru. Sebab siapa tahu, ada orang-orang yang akan mengambil kesempatan, mempergunakan kekosongan Banyubiru untuk memuaskan keinginan diri. Merampas dan merampok. Jagalah keamanan Banyubiru atas nama pamanmu Lembu Sora, sampai ada penjelasan yang mudah-mudahan tak perlu mempergunakan kekerasan.”

Bagaimanapun juga, terasa dada Arya berdesir ketika ia harus menjaga keamanan Banyubiru, tetapi atas nama pamannya. Meskipun demikian ia benar-benar tidak mau mengecewakan kakeknya. Karena itu ia menjawab, “Baiklah Eyang. Aku akan menjaga Banyubiru sebaik-baiknya. Tidak hanya atas nama Paman Lembu Sora, tetapi atas nama ayah Gajah Sora.”

Mahesa Jenar menarik nafas, sedang Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. “Baiklah…” katanya, “Jagalah keselamatannya. Aku terpaksa meninggalkan kalian. Bawalah sebagian dari laskarmu ke dalam kota, supaya kota ini tidak akan menjadi kota yang kosong, kota yang sama sekali tak berkekuatan senjata. Siapa tahu, kalau ada hal-hal yang gawat. Sebab golongan hitam itupun mempunyai otak-otak yang cukup berbahaya.”

Baiklah Eyang,” jawab Arya, “Akupun akan segera kembali ke tengah-tengah laskarku sebelum tengah hari. Aku akan menyerahkan sebagaian mereka. Tetapi biarlah Paman Wanamerta untuk sementara memimpin daerah ini. Aku akan tetap berada di antara anak buahku.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukan kepalanya. Ia benar-benar menjadi kagum kepada Arya, yang telah meluluhkan diri dengan laskarnya, sebagai ciri seorang pemimpin yang merasa dirinya satu dengan anak buahnya. Sedang Wanamerta menjadi terkejut karenanya. Katanya, “Apakah yang harus aku lakukan?Bukankah Cucu Arya Salaka telah berada di sini?”

Aku akan menepati kata-kataku,” jawab Arya. “Biarlah aku melepaskan persoalan ini sampai Paman Lembu Sora selesai. Namun demikian aku juga berjanji bahwa aku akan menyelenggarakan keamanannya sampai paman selesai.”

Cucu tidak perlu menarik garis pemisah antara yang memerintah dan yang menyelenggarakan keamanannya,” Sahut Wanamerta, “Sebab seorang kepala daerah perdikan harus memegang kedua-duanya “

Tetapi aku bukan kepala daerah perdikan, Eyang,” jawab Arya Salaka.

Baiklah Wanamerta,” potong Sora Dipayana. Ia tahu benar perasaan apakah yang bergolak di dalam dada anak itu. Arya Salaka agaknya benar-benar segan untuk mewakili pamannya, sehingga baginya lebih baik untuk menyerahkannya saja kepada orang lain. “Kau pun berhak untuk berlaku sebagai wakil Lembu Sora Wanamerta.” Ki Ageng Sora Dipayana meneruskan. “Hanya untuk beberapa saat. Aku kemudian akan datang kembali. Mencoba menyelesaikan masalah tanah ini.

Kemudian, setelah pembicaraan itu selesai, minta diri kepada Ki Ageng Sora Dipayana untuk menyusul anaknya ke Pamingit. Mungkin tenaganya akan sangat dibutuhkan untuk menemui tokoh-tokoh hitam dari angkatan tua. Sementara itu Arya Salaka segera akan kembali pula ke tengah-tengah laskarnya. Katanya, “Eyang Wanamerta, biarlah eyang tinggal di sini. Aku akan datang kemudian dengan membawa beberapa orang yang akan membantu Paman di sini.”

Wanamerta tidak dapat berkata lain, kecuali mengiyakan.

———-oOo———-

 

IV

Maka sesaat kemudian berangkatlah Ki Ageng Sora Dipayana, menyusul laskar Pamingit, berkuda seorang diri. Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, ia segera dapat mengetahui, apa yang harus dilakukan. Sedang Arya Salaka pun kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, juga meninggalkan kota dengan kuda masing-masing. Hanya Wanamerta lah yang terpaksa ditinggalkan seorang diri di pendapa Banyubiru dengan dua tiga orang pengawal yang tak berarti, orang-orang Banyubiru yang selama ini ikut serta di dalam barisan Lembu Sora. Tetapi mereka sama sekali belum pandai memegang tangkai pedang.

Ketika kemudian Wanamerta tinggal sendiri di pendapa itu, dipanggilnya salah seorang dari para pengawal itu, katanya, “Kemarilah. Aku ingin mendapat keterangan dari kau.”

Orang itu menjadi ketakutan. Sebenarnya nyawa mereka serasa telah lepas sejak pasukan Pamingit meninggalkan Banyubiru. Mereka merasa seperti cacing yang dilepaskan di tengah-tengah abu hangat. Mereka menjadi takut, bahwa orang-orang Banyubiru akan balas dendam kepada mereka. Tetapi agaknya wajah Wanamerta sama sekali tidak menakutkan. Karena itu salah seorang darinya datang mendekat dengan sangat hormatnya. “Ada perintah, Kiai…?” ia bertanya.

Kemarilah, duduklah,” kata Wanamerta.

Orang itu ragu sebentar. Namun ia akhirnya naik, dan duduk di depan Wanamerta.

Berapa orang kalian?” tanya Wanamerta.

Tiga orang di regol Kiai, di ujung alun-alun tiga orang di setiap jalan masuk,” jawabnya.

Siapakah pemimpinmu?” Wanamerta bertanya pula.

Kerta Pitu,” jawab orang itu.

Wanamerta mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jalankan pekerjaanmu baik-baik, tetaplah waspada. Laporkan yang perlu kepadaku.”

Orang itu mengangguk hormat. “Baik Kiai,” jawabnya.

“Nah, kembalilah,” kata Wanamerta selanjutnya.

Orang itu pun segera kembali ke tempatnya. Seorang yang lain telah disuruh oleh Wanamerta memanggil Kerta Pitu untuk diberinya beberapa keterangan. Kerta Pitu harus menempatkan di setiap gardu penjagaan seorang berkuda yang harus menjadi penghubung setiap ada persoalan-persoalan penting. Meskipun sebenarnya Wanamerta terlalu cemas, karena kira-kira limapuluh pengawal yang belum mampu untuk bertempur itu bagi Banyubiru adalah kekuatan yang sama sekali tak berarti. Beberapa orang yang telah cukup kuat, ternyata dibawa di dalam laskar Lembu Sora untuk memperkuat laskar Pamingit. Meski demikian Wanamerta menjadi sedikit tenang ketika diingatnya bahwa di perbatasan berbaris dalam kesiagaan tempur laskar Arya Salaka yang selalu akan menolongnya apabila bahaya datang. Malahan Arya Salaka telah menyanggupkan diri untuk membawa beberapa orang laskarnya ke dalam kota dan menjaga keselamatan tanah ini dari segala yang mungkin akan mengancam. Tetapi ia harus menunggu sampai laskar itu datang. Mungkin malam nanti, mungkin besok pagi. Ia mengharap dalam waktu yang singkat tidak akan terjadi sesuatu.

Ketika Wanamerta telah selesai memberikan beberapa petunjuk, serta Kerta Pitu telah meninggalkan pendapa itu untuk melaksanakan, Wanamerta pun masuk ke dalam rumah kepala daerah perdikan Banyubiru itu. Beberapa orang pelayan, yang berada di dalam rumah itu sejak masa Ki Ageng Gajah Sora, masih berada di rumah itu pula, sedang beberapa orang lain adalah orang-orang baru. Namun demikian, apa yang dilihatnya kini, adalah jauh berbeda dari kira-kira lima-enam tahun yang lalu. Dulu ia berada di dalam rumah itu seperti di dalam rumahnya sendiri. Bahkan ia telah mengenal dengan baik hampir segenap sudut-sudutnya. Dulu, ketika Nyai Ageng Gajah Sora masih ada, tampaklah rumah ini bersih dan terawat rapi. Tetapi kini rumah itu menjadi seakan-akan tak berpenghuni. Tampaklah sarang labah-labah bergayutan di langit-langit, di setiap sudut dan bahkan hampir di setiap lekuk-lekuk dindingnya. Hitam-hitam langes dari lampu-lampu minyak, membekas mengotori dinding dan tiang-tiangnya.

Melihat perubahan itu Wanamerta menekan dadanya. Keadaan rumah ini benar-benar menggambarkan keadaan seluruh tanah perdikan Banyubiru. Kotor dan tak terawat. Tetapi ia tidak mempunyai wewenang untuk berbuat lebih jauh. Ia tidak berhak mengumpulkan para bahu, kepala-kepala dukuh dan para pamong desa lainnya. Ia tidak mempunyai kekuasaan untuk mengadakan peraturan-peraturan baru atau perubahan-perubahan apapun. Sebab ia hanya berada di rumah itu untuk sementara. Mungkin sangat singkat. Seandainya malam nanti Ki Ageng Lembu Sora telah selesai dengan pekerjaannya, besok mereka pasti akan datang kembali. Mungkin dengan pasukan, dan mungkin harus bertempur melawan orang itu. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah membiarkan segala sesuatu berjalan seperti biasa. Ia hanya dapat memecahkan persoalan-persoalan yang timbul dalam batas-batas tertentu. Meskipun demikian, seandainya Lembu Sora memerlukan waktu yang lama dalam perlawannya atas orang- orang hitam itu, iapun bermaksud untuk berbuat lebih banyak lagi.

Ketika hari semakin siang, dan terik matahari seperti membakar rumput di alun- alun, Wanamerta bermaksud untuk beristirahat. Tetapi baru saja ia meletakkan tubuhnya di bale-bale bambu di pringgitan rumah itu, terdengarlah seorang pengawal naik ke pendapa, sambil berdiri di depan pringgitan ia berkata, “Kiai, seseorang ingin bertemu dengan Kiai.”

Siapa?” tanya Wanamerta sambil bangkit.

Sontani,” jawab orang itu.

Sontani…?” ulang Wanamerta, “Apakah keperluannya?”

Ya, Sontani. Aku tak tahu apa yang akan disampaikan kepada Kiai. Ia ingin berbicara langsung,” jawab pengawal itu.

Wanamerta berpikir sejenak. Apakah yang akan dilakukan? Barangkali ia akan membalas dendam sakit hatinya, ketika ia terpaksa menelan keadaan yang pahit di tanah lapang.

Sendiri..?” tanya Wanamerta pula.

Tidak Kiai,” jawab orang itu, “Dengan anak-istrinya.”

He…?” Wanamerta terkejut. “Dengan anak-istrinya?”

Orang itu mengangguk. “Ya.

Baiklah, aku datang,” kata Wanamerta kemudian. Namun demikian ia masih ragu. Apakah maksud kedatangan orang itu. Kalau saja ia bermaksud jahat, tak akan ia membawa anak-istrinya. Meskipun demikian, iapun tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Tetapi Sontani bukanlah orang yang harus ditakuti.

Ketika Wanamerta muncul di pintu, dilihatnya Sontani benar-benar dengan istri dan seorang anaknya duduk di pendapa. Demikian Sontani melihat Wanamerta, segera ia berlari terbongkok-bongkok dan langsung bertiarap di kaki orang tua itu, sambil berkata meratap, “Kiai, ampunilah segala dosa-dosaku. Aku merasa bahwa aku telah bersalah terhadap Kiai, terhadap Banyubiru dan terhadap Anakmas Arya Salaka. Tetapi semuanya itu adalah karena terpaksa. Aku sebenarnya sama sekali tak ingin untuk sesuatu kedudukan apapun. Dan sekarang aku menyerahkan kembali semua jabatan yang pernah aku terima dari Lembu Sora, orang yang terkutuk itu. Orang yang telah merampas ketentraman hidup keluargaku. Sebab bagiku, segala jabatan itu tak akan berarti, selama aku tidak dapat menunjukkan kesetiaanku kepada kampung halaman ini. Biarlah Ki Bakung kembali kepada jabatannya, Bahu Lemah Abang. Dengan demikian Lemah Abang akan menjadi tentram kembali setelah Lembu Sora mengacaunya. Biarlah orang terkutuk itu disambar petir, atau mati dicincang oleh orang-orang dari Gunung Tidar atau Rawa Pening, atau ….” Suara Sontani terputus oleh kata-kata Wanamerta, “Jangan salahkan Lembu Sora, Sontani.Dan jangan kau umpati orang itu, sebab Lembu Sora adalah paman Arya Salaka. Putra Ki Ageng Sora Dipayana yang kita hormati.”

Sontani terkejut seperti disengat kelabang. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di depan Wanamerta yang masih berdiri dipintu. Ia tidak tahu kenapa Wanamerta tidak mau mengutuk Lembu Sora. Bukankah Lembu Sora telah mengkhianati Banyubiru? Karena itu tiba-tiba keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya.

Sontani menjadi bingung. Bagaimanakah tanggapan yang sebenarnya dari Wanamerta terhadap Lembu Sora? Ketika untuk beberapa saat Wanamerta masih berdiam diri, berkatalah Sontani dengan suara gemetar. “Kiai, kenapa Kiai tidak mengutuk Lembu Sora yang telah memecah belah rakyat Banyubiru?”

Lembu Sora telah berjuang untuk suatu cita-cita. Dihadapinya segala akibat dari perjuangannya. Ia tidak takut mati karena cita-citanya itu. Meskipun jalan yang ditempuhnya tidak benar, malahan bertentangan dengan keadilan, namun ia dapat dihormati karena keberaniannya,” jawab Wanamerta. Kemudian ia melanjutkan, “Sedang ada orang lain yang mencoba untuk mendapatkan keuntungan dari perjuangan Lembu Sora itu. Ia bersujud di bawah kakinya selagi kesempatan memungkinkan. Tetapi kalau keadaan menjadi suram, maka ia akan mencoba untuk menghindar, meloncat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Seperti seekor bunglon yang dapat berwarna hitam kalau ia berada di cabang yang hitam, dan berwarna hijau kalau ia hinggap di atas daun-daun yang segar.”

Sontani benar-benar menjadi gemetar. Sekali dua kali ia menoleh kepada istri dan anaknya, yang memandangi dengan cemas. Tetapi Sontani masih belum berputus asa. Ketika Wanamerta masih tegak berdiri, dan memandang ke arah cahaya terik matahari yang berserak-serak dihalaman, maka tiba-tiba Sontani berkata, “Kiai, entahlah apa yang dibawa oleh istriku. Barangkali Kiai akan dapat menerimanya dengan senang hati, sebagai persembahan seorang kawula yang setia mengabdi diri kepada Kiai.”

Wanamerta tidak sempat menjawab. Sontani dengan terbongkok-bongkok bangkit dan melangkah turun dari pendapa. Ketika ia naik lagi, di tangannya telah tersangkut sebuah bungkusan yang besar.

Kiai…” katanya setelah ia berjongkok kembali di hadapan Wanamerta, “Terimalah tanda kesetiaanku ini.”

Wanamerta memandang Sontani dengan pandangan yang kosong. Ia bersedih hati, ketika ia melihat kenyataan bahwa di Banyubiru ada seseorang yang berjiwa seperti orang yang berjongkok dihadapannya itu. Ia lebih hormat kepada Lembu Sora, kepada Sawung Sariti, yang dengan gigih bekerja keras untuk mencapai tempat yang setinggi-tingginya buat dirinya sendiri, meskipun berdosalah mereka yang mengorbankan orang lain untuk kepentingan dan kesenangan diri.

Wanamerta masih belum berkata apapun ketika Sontani membuka bungkusan itu dengan penuh harapan. Kalau Wanamerta berkenan dihatinya, ia pasti dapat mempengaruhi Arya Salaka. Mungkin ia tidak akan mendapat sesuatu hukuman, bahkan mungkin ia akan tetap berada pada kedudukan yang sekarang, Bahu di Lemah Abang.

Ketika bungkusan itu telah terbuka, Wanamerta melihat beberapa potong kain lurik didalamnya. Bahkan ia melihat sehelai sutera yang bagus dan mahal. Ia melihat sebuah pendok keris dari emas, dan beberapa benda-benda lain yang berharga.

Kiai”, Sontani meminta, “adalah suatu karunia yang tiada taranya kalau Kiai sudi menerima barang-barang yang sama sekali tak berarti ini.

Hati Wanamerta menjadi bertambah suram. Dan kesuraman hatinya itu terbayang di wajahnya.

Sekali lagi ia memandang bungkusan itu. Ketika berkilat cahaya intan dibalik lipatan kain-kain itu, hatinya berdesir. Agaknya Sontani membawa pula timang tretes intan berlian.

Alangkah banyaknya barang-barang yang kau bawa Sontani”, berkata Wanamerta.

Sontani menjadi bergembira mendengar perhatian itu. Apakah artinya barang- barang itu dibanding dengan nyawanya?

Tidak seberapa Kiai. Aku bukanlah orang yang cukup kaya untuk mempersembahkan barang-barang yang cukup bernilai”, jawab Sontani. Harapannya tiba-tiba menjadi tumbuh.

Hampir seluruh umurku aku bekerja keras. Namun aku tak akan mampu mendapatkan barang-barang yang kau bawa itu”, sahut Wanamerta.

Mudah-mudahan lain kali aku dapat menambahnya dengan barang-barang yang tak bernilai lainnya”, jawabnya. Ia mengharap Wanamerta membungkuk dan membuka lipatan-lipatan kain, mengamat-amati pendok emas dan timang tretes intan berlian itu. Tetapi untuk beberapa saat Wanamerta masih tegak seperti tiang- tiang pendapa rumah itu, sehingga akhirnya Sontani menjadi bingung. Bajunya telah basah oleh keringat yang mengalir semakin deras.

Kemudian Sontani menjadi kecewa. Sangat kecewa, ketika Wanamerta berkata, “Sontani, darimanakah kau dapatkan barang-barang itu?”.

Aku telah bekerja keras selama ini Kiai”, jawab Sontani terbata-bata.

Aku juga bekerja keras selama ini. Bantaran juga, Penjawi, Sendang Papat, Jaladri dan orang-orang lain. Tetapi mereka tidak dapat, jangankan benda-benda serupa itu, sebagian kecilpun tak dimilikinya”, berkata Wanamerta. Sontani menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan. Dalam kebingungan itu terdengarlah Wanamerta berkata, “Sontani, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pemberianmu itu”, Wanamerta berhenti sejenak, sedang Sontani menengadahkan wajahnya. Tetapi Wanamerta meneruskan, “Namun sayang, aku tak dapat menerimanya. Serahkanlah barang-barang itu kembali kepada asalnya. Bukankah kau dapat membeli barang-barang itu karena kau menjabat Bahu Lemah Abang. Karena kau memeras rakyat Lemah Abang untuk kepentinganmu dan kepentingan Lembu Sora? Bukankah kau dapatkan barang-barang itu karena rakyatmu kelaparan? Nah Sontani. Kalau kamu ingin menebus kesalahanmu, setidak-tidaknya mengurangi, kembalikan barang-barang itu. Kepada mereka yang berhak. Tidak kepadaku. Tidak kepada cucu Arya Salaka.”

Sontani menjadi semakin bingung. Mulutnya kini benar-benar terkunci. Ia masih berjongkok pada kedua lututnya dengan gemetar, dan Wanamerta masih berdiri dipintu pringgitan.

Sontani”, terdengar kembali suara Wanamerta, “ada seribu jalan yang dapat kau tempuh untuk menyerahkan kembali barang-barangmu itu. Kau dapat membantu mereka dengan alat-alat pertanian. Kau dapat mendirikan untuk mereka gubug-gubug yang lebih baik, banjar-banjar desa dan tempat ibadah yang layak.”

Mendengar kata-kata Wanamerta itu, jantung Sontani serasa membeku dan darahnya serasa berhenti mengalir. Tetapi nafasnya satu-satu berloncatan lewat lubang- lubang hidungnya. Betapa panas udara siang ini, namun rasa-rasanya hembusan nafasnya jauh lebih panas dari panasnya udara.

Tiba-tiba terdorong oleh kegelisahan yang bergelora didalam dadanya ia berkata putus-putus, “Tetapi, tetapi Kiai, bukankah Kiai memerlukan barang-barang ini?

Wanamerta menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak, Sontani.”

Dalam kebingungan Sontani mendesak, “Kiai, bukankah Kiai sendiri berkata bahwa Kiai tidak pernah dapat memiliki barang-barang serupa ini meskipun Kiai bekerja keras dan membanting tulang hampir seumur hidup Kiai. Dan sekarang aku datang untuk mengantarkannya kepada Kiai. Bukankah waktu yang pendek ini akan jauh lebih berharga daripada hampir seumur hidup Kiai?

Wanamerta menarik nafas. Perlahan-lahan terdengar ia menjawab, “Sontani, kau dan aku mempunyai perbedaan kebutuhan dalam menjalani hidup ini. Aku merasa berbahagia karena aku tidak akan dapat memiliki benda-benda serupa itu. Sebab dalam kemiskinan, aku akan dapat menikmati kekayaan. Miskin akan benda-benda duniawi, tetapi aku merindukan kekayaan dihari-hari yang abadi. Sebab kekayaan duniawi melulu, tak akan ada artinya di harapan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menentukan akan datangnya masa, dimana manusia bertanggungjawab kepada-Nya.

Sedangkan kau agaknya telah terjerumus ke dalam kekuasaan nafsu duniawi. Tetapi kau tak akan pernah merasa bahagia karenanya. Bahagia yang abadi. Kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pengabdian kepada titah yang dikasihi-Nya, manusia. Dengan demikian hidupmu akan menjadi terasing. Terasing dari rasa kasih. Kasih antara manusia dan kasih yang dilimpahkan Tuhan kepadamu. Karena itulah maka kau semakin dalam membenamkan dirimu ke dalam timbunan benda-benda serupa itu.”

Sontani merasa seolah-olah terlempar ke dalam suatu keadaan yang tak dikenalnya. Hitam dan kelam. Tetapi di titik yang sangat jauh tampaklah cahaya yang terang menyorot langsung ke dalam jiwanya. Cahaya itu semakin lama menjadi semakin tenang, bahkan kemudian ia menjadi silau karenanya.

Akhirnya sekali lagi ia bertiarap di hadapan kaki Wanamerta. Kali ini ia benar-benar tak dapat menahan keharuannya. Sontani, yang pernah menjabat Bahu pedukuhan Lemah Abang, yang pernah dengan kekerasan mendesak kedudukan Kiai Bakung itu, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dengan keduabelah tangannya ia menutup wajahnya. Ia menjadi sangat malu karena usahanya untuk menyuap Wanamerta.

Wanamerta sadar bahwa kata-katanya tepat menyentuh perasaan Sontani, maka ia meneruskan, “Sontani. Pulanglah. Bawalah benda-benda yang sama sekali tidak berarti bagiku itu. Kembalikan mereka kepada yang berhak dengan bijaksana. Cepatlah sebelum Arya Salaka datang dan melihat caramu yang sama sekali tidak disukainya itu. Ia masih terlalu muda untuk dapat berbuat seperti aku.”

Sontani perlahan-lahan bangkit dan duduk bersila di hadapan orang tua itu. Anak-istrinya yang gelisah, memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam kepalanya.

Ketika detak jantung Sontani telah menjadi tenang kembali, maka hatinya menjadi tenang. Tiba-tiba ia menjadi tidak takut lagi kepada Wanamerta, juga kepada Arya Salaka. Tidak takut untuk menerima dendamnya. Di dalam dadanya, kini tersimpanlah suatu tekad untuk menebus nodanya. Meskipun seandainya ia harus digantung di tengah-tengah beringin kurung.

Kiai...” katanya kemudian, “Aku akan pulang ke Lemah Abang. Aku akan coba untuk memenuhi pesan Kiai Wanamerta. Menyerahkan kembali barang-barang ini kepada yang berhak. Seterusnya, seandainya Anakmas Arya Salaka datang, dan menghendaki hukuman atas pengkhianatanku, aku tidak akan membela diri. Apapun yang akan ditimpakan atasku, akan aku jalani dengan ikhlas, meskipun seandainya aku akan dihukum mati.”

Wanamerta menggeleng. Jawabnya, “Percayalah Sontani. Darah Banyubiru bukanlah darah yang haus akan pembalasan dendam dan pembunuh. Mungkin kau akan terbunuh oleh pedang yang bersarang di dalam dadamu, seandainya kau tetap pada pendirianmu. Tetapi kau telah menemukan jalan kembali. Kembalilah. Tuhan Maha Pengampun.”

Sekali lagi Sontani bersujud di hadapan Wanamerta. Tetapi Wanamerta menahannya, dan dengan ramah ia berkata, “Jangan bersujud kepadaku. Duduklah bersama anak dan istrimu, aku akan duduk bersama-sama dengan kalian.”

Tetapi Sontani menolaknya. Ia akan meninggalkan pendapa itu sebelum Arya Salaka datang seperti yang dinasihatkan oleh Wanamerta. Sehingga dengan demikian iapun segera minta diri beserta anak-istrinya yang sama sekali tidak mengerti persoalan yang bergolak di dada suaminya.

Sepeninggal Sontani, kembali Wanamerta membaringkan dirinya untuk beristirahat. Terbayanglah betapa kemunduran lahir dan batin dari tanah perdikan ini. Sontani adalah salah satu dari sekitar banyak orang yang kehilangan kepribadiannya. Mungkin masih banyak orang lain yang justru lebih parah daripadanya.

Ketika kemudian ia tertidur karena lelahnya, mendadak ia terbangun oleh derap kaki kuda. Cepat ia bangkit dan meloncat ke pintu. Ia masih sempat melihat seekor kuda lari dengan kencangnya memasuki halaman. Kemudian seorang pengawal meloncat turun dan langsung datang kepadanya. Dengan tergesa-gesa pengawal itu berkata, “Kiai, laskar di perbatasan bergerak mendekati kota.”

Wanamerta tidak terkejut karenanya. Ia tahu persis, laskar Arya Salaka yang akan membantu mengamankan kota. Karena itu ia bertanya, “Semua…?”

Tidak Kiai,” jawab orang itu. “Hanya sebagian.”

“ Kau tahu, siapa pemimpinnya?” tanya Wanamerta pula.

Entahlah,” jawab orang itu sambil menggeleng.

Jemputlah mereka, dan bawalah mereka kemari,” kata Wanamerta kemudian.

Orang itu ragu sebentar, tetapi kemudian iapun segera berangkat melakukan perintah itu.

Di sepanjang jalan, hatinya diliputi oleh kecemasan, seperti pada saat ia melihat laskar Pamingit meninggalkan kota. Apakah yang akan dilakukan oleh laskar di perbatasan itu atasnya, dan atas orang-orang Banyubiru yang lain, yang ikut serta dalam kelaskaran Lembu Sora…?

Ketika ia melewati gardu penjagaan kedua, tiga orang yang bertugas di gardu itu telah menghilang. Pengawal berkuda itu tahu bahwa mereka akan berusaha menyembunyikan diri mereka, karena mereka takut akan pembalasan. Dengan demikian pengawal itu menjadi semakin ragu. Dalam keraguan itu kudanya berlari terus. Maka sebelum ia mengambil keputusan, pengawal itu telah sampai di gardu pertama. Ia menjadi berlega hati ketika di gardu itu, masih dilihatnya empat orang berjaga-jaga.

Untuk meyakinkan pendiriannya, pengawal itu berhenti sejenak. Kepada orang-orang di gardu itu ia berkata, “Gardu kedua telah kosong.

Kosong?” tanya orang-orang di gardu pertama itu. “Kenapa?

Aku kira mereka takut,” jawab pengawal berkuda itu.

Takut apa?” tanya orang-orang di gardu.

Kalau laskar Arya Salaka itu datang, ada kemungkinan mereka akan ditangkap dan dihukum. Juga kita semua,” jawabnya.

Tiba-Tiba salah seorang dari mereka berempat itu tertawa. Dengan lantang ia berkata, “Jangan takut. Mereka tidak akan berbuat apa-apa selama mereka masih berada di bawah pimpinan Arya Salaka.”

Kau yakin?” tanya pengawal berkuda itu.

Jangankan kita, orang-orang Banyubiru. Terhadap orang Pamingit pun Arya Salaka tidak berbuat sesuatuPimpinan gardu ini semalam telah mengalami perlakuan yang tak disangka-sangka dari Arya Salaka. Meskipun orang itu dibawa serta, namun ia akhirnya kembali dengan selamat, justru pada saat kita telah memukul tanda bahaya untuk menangkap anak muda itu.”

Pengawal yang masih duduk di atas kudanya itu masih ragu-ragu juga. Ia mendatangi orang yang berceritera itu, yang tidak lain adalah Ira, dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Sehingga terdengar Ira menjelaskan, “Aku menjadi jaminan bagi kalian. Kalau orang-orang yang ikut serta dalam laskar Arya Salaka itu mendendam kalian, akulah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan.”

Orang yang bertugas untuk menjemput laskar yang semakin lama semakin dekat itupun menjadi percaya, meskipun hatinya masih gelisah. “Baiklah…” katanya, “Mudah-mudahan katamu benar.

Kemudian ia memacu kudanya kembali, ke arah kepulan debu putih di depan mereka. Kuda itupun melemparkan debu yang putih pula, yang kemudian lenyap dihembus angin pegunungan.

Semakin dekat orang berkuda itu dengan barisan yang mendatang, hatinya menjadi semakin gelisah. Ketika kudanya telah berada beberapa ratus langkah lagi, ia menghentikannya. Kembali ia menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan orang-orang yang berada di dalam barisan itu akan bersama-sama menyerangnya dan beramai-ramai mencincangnya sebagai seorang pengkhianat. Tetapi kalau diingatnya kata-kata Ira, ia menjadi agak tenang. Demikianlah ketika barisan yang mendatang itu sudah semakin dekat, orang itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia tidak sedang menggenggam senjata.

Di ujung barisan itu, seorang anak muda yang duduk di atas punggung kuda mengangkat tangannya pula.

Melihat anak muda itu, dada pengawal itu berdesir. Ia tidak salah lagi. Pasti anak muda itulah Arya Salaka. Dengan demikian ia menjadi berdebar-debar. Di samping anak muda itu, dilihatnya seorang gadis yang juga duduk di punggung kuda. Tetapi ketika ia melihat seorang yang berjalan dibelakangnya, kembali ia menjadi gelisah. Orang itu adalah Bantaran.

Ketika barisan itu sudah semakin dekat lagi, meloncatlah ia turun dari kuda, dan dengan hormatnya ia membungkukkan dirinya.

Arya memandang orang itu dengan seksama. Ia pun mengangguk pula.

Tuan...” kata pengawal itu dengan hormatnya, “Aku menjalankan perintah Kiai Wanamerta untuk menjemput Tuan, dan membawa Tuan ke halaman rumah Ki Ageng Lembu Sora.”

Arya menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Haruskah aku pergi ke Pamingit?” Pengawal itu menjadi heran, jawabnya, “Tidak Tuan. Rumah Ki Ageng Lembu Sora di Banyubiru.

Adakah Ki Ageng Lembu Sora mempunyai rumah di Banyubiru?” tanya Arya.

Ada Tuan, di sebelah alun-alun,” jawab pengawal itu. Ia menjadi bingung oleh pertanyaan Arya.

 “Rumah itu adalah rumahku. Bukan rumah Ki Ageng Lembu Sora,” jawab Arya.

Berdentanglah jawaban Arya Salaka itu ditelinganya. Benar, rumah itu memang milik rumah Ki Ageng Gajah Sora. Maka dengan cepatnya ia membetulkan kata-katanya, “Tuan benar. Kiai Wanamerta menunggu Tuan di rumah Tuan sendiri.”

Apakah kau dari laskar Paman Lembu Sora?” tanya Arya.

Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah karena kesalahannya. Sebab selama ini ia memang menganggap bahwa rumah itu adalah rumah Ki Ageng Lembu Sora. Pengawal itu menjadi gelisah. Badannya mulai dialiri oleh keringat dingin dari punggungnya. Ternyata dalam keadaan yang sulit itu ia kurang berhati-hati. Ia merasa bahwa ia telah menggali lubang untuk dirinya sendiri. Akhirnya ketika ia tak dapat berbuat lain maka iapun menjawab, “Ya, Tuan.” Suaranya gemetar. Kini ia tinggal menunggu apakah yang akan dilakukan oleh anak muda itu, atau oleh orang yang berdiri di belakangnya, atau oleh seluruh barisan itu. Mungkin mereka akan melemparinya dengan batu sampai mati, atau mungkin mengikatnya di belakang kuda itu dan menariknya sepanjang jalan. Tetapi kalau demikian, ia tidak berteriak di gardu pertama, bahwa Ira-lah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan.

Ketika untuk beberapa saat Arya Salaka masih berdiam diri, ia menjadi semakin tegang dan gelisah. Sekali-kali ia mencuri pendang ke arah wajah anak muda itu, namun ia tidak dapat mengetahuinya, apakah yang tersirat di wajahnya itu.

Tiba-tiba di dalam kegelisahannya ia mendengar jawaban yang mengejutkan, bahkan hampir tak dipercayainya. “Marilah. Naiklah ke punggung kudamu. Berjalanlah di depan.”

Untuk sesaat ia terpaku. Dengan termangu-manggu ia memandang Arya Salaka yang masih duduk di atas kudanya dengan tenang. Ketika tampak wajah anak muda itu tanpa berkesan kemarahan, barulah ia percaya pada telinganya. Perlahan-lahan ia mendekati kudanya, dan meloncat ke atasnya. Karena getar kakinya, maka barulah loncatan kedua ia berhasil duduk di punggung kudanya. Kemudian perlahan-lahan pula ia memutar kuda itu dan berjalan mendahuluinya.

Kembali barisan itu berjalan maju mendekati kota. Akhirnya mereka sampai juga di gardu pertama. Keempat penjaganya berdiri berjajar dengan tegak. Ira lah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka, sehingga meskipun dengan gemetar mereka tidak melarikan diri.

Arya melihat keempat orang itu. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia segera dapat mengenal Ira. Dengan tersenyum ia berkata, “Ira, tidakkah kau ikut Paman Lembu Sora ke Pamingit?

Ira membungkuk hormat, jawabnya, “Tidak Tuan. Aku lebih senang menunggu kedatangan tuan di sini.

Terima kasih,” jawab Arya, “Agaknya Paman Lembu Sora memang tak memerlukan kau.

Aku bersenang hati kalau demikian,” jawab Ira.

Tetapi kau tidak akan bersenang hati kalau itu terjadi kemarin atau lusa,” sahut Arya Salaka.

Ira diam. Memang ia tidak akan bersenang hati. Sebab dengan demikian berarti ia kehilangan mata pencahariannya. Sungguh lucu. Tetapi ia diam saja. Ia tidak berkata apa-apa ketika Arya menjadi bertambah jauh. Ia melihat di belakang Arya Salaka itu seorang yang baginya sangat menakutkan. Bantaran. Mudah-mudahan Bantaran pun tidak mendendamnya.

Akhirnya barisan itu sampai juga di halaman rumah kepala perdikan Banyubiru. Wanamerta menerima mereka dengan perasaan lega. Kalau ada apa-apa kini, ia tidak cemas lagi.

Segera dipersilakannya Arya Salaka naik ke pendapa. Di samping Arya Salaka, duduk dengan wajah yang cerah, putri Kebo Kanigara, Endang Widuri. Ia mendapat izin dari ayahnya untuk mengikuti anak muda itu mengantarkan laskarnya ke Banyubiru. Kemudian Bantaran duduk bersama mereka. Sesudah mereka mengadakan pembicaraan singkat, segera Bantaran membagi pekerjaan kepada laskarnya yang berjumlah 100 orang itu. Mereka disebar di seluruh kota dengan pesan, pekerjaan mereka adalah mengamankan dan melindungi rakyat Banyubiru. Bukan menakut-nakuti. Terhadap laskar Banyubiru yang ditinggalkan oleh Lembu Sora, mereka harus bersikap baik. Dengan demikian mereka harus memberi kesan, bahwa kehadiran mereka benar-benar memberikan suasana baru. Suasana yang tenang, tentram dan damai.

Kalian kali ini adalah tenaga-tenaga suka rela untuk membantu Ki Ageng Lembu Sora menjaga ketentraman tanah ini. Namun kalian harus menunjukkan bahwa kalian mempunyai tanggungjawab atas pekerjaan kalian. Kalian harus membuktikan bahwa jiwa kalian berbeda dengan jiwa laskar Ki Ageng Lembu Sora sendiri. Junjung tinggi namamu dan nama pemimpinmu.” Arya Salaka menekankan setiap kata kepada laskarnya.

Ketika laskar itu mulai berpencaran, terdengarlah suara riuh hampir di seluruh jalan-jalan di dalam kota. Rakyat Banyubiru menyambut kedatangan laskar itu dengan keriangan yang bergelora. Mereka melihat laskar yang berjalan dalam kelompok-kelompok kecil itu sebagai pelindung mereka.

———-oOo———-

V

Kecuali laskar yang diserahkan kepada Wanamerta, yang dipimpin langsung oleh Bantaran, Arya Salaka telah menugaskan Penjawi dan Jaladri untuk pergi ke Pamingit. Mereka mendapat tugas untuk mengetahui, sampai di mana kekuatan golongan hitam. Mereka harus menyaksikan pertempuran yang terjadi antara laskar Lembu Sora dan laskar hitam, dan kemudian kembali kepada Arya Salaka untuk melaporkan hasilnya.

Malam itu Arya dan Endang Widuri bermalam di rumah Arya yang telah ditinggalkan hampir enam tahun. Banyaklah yang dapat diceriterakan kepada gadis itu tentang rumah ini. Ia dapat menunjukkan di mana ia pada saat itu berhasil membunuh seorang yang akan mengambil pusaka-pusaka simpanan ayahnya, namun ia sendiri terpukul dan pingsan karenanya. Ia dapat menunjukkan pula, ke mana ia melarikan diri ketika tiba-tiba rumah ini diserang oleh laskar yang tak dikenalnya. Ketika ia telah berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tiba-tiba ia dikeroyoknya. Untunglah Penjawi datang tepat pada saatnya. Widuri mendengarkan ceritera itu, dengan penuh minat. Ia menjadi terharu mendengarkan ceritera pengalaman yang pernah dijalani oleh Arya Salaka pada umurnya yang masih sangat muda.

“Kalau malam ini mereka datang kembali…” kata Arya Salaka, “Aku tak perlu berlari-lari lagi.”

“Kau telah merasa dirimu tak terkalahkan? sahut Widuri.

“Tidak,” jawab Arya. “Sebab sekarang ada kau. Bukankah kalungmu itu menakutkan orang?”

Widuri mencibirkan bibirnya, katanya kepada Wanamerta yang duduk bersama mereka, “Apakah Eyang takut juga kepada kalungku ini?”

Wanamerta tertawa. Jawabnya, “Aku tidak. Sebab aku tak bermaksud jelek. Entahlah cucu Arya Salaka.”

“Ah…” Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah. Ia tidak tahu apa sebabnya. Sedang Arya pun tiba-tiba menundukkan wajahnya.

Ketika keadaan menjadi sepi, terdengarlah di kejauhan gonggong anjing liar yang berkeliaran di lereng-lereng pegunungan. Dari selatan mengalirlah angin pegunungan membawa udara yang sejuk.

“Cucu Widuri…” kata Wanamerta kepada gadis lincah itu, “Aku persilakan Cucu beristirahat di ruang sebelah. Biarlah aku dan Cucu Arya Salaka berjaga-jaga di sini.”

Widuri memang sudah ngantuk. Karena itu segera iapun berdiri dan masuk ke ruang di dalam rumah itu. Ia sama sekali tidak takut, karena di luar berjaga-jaga Arya Salaka, Wanamerta dan Bantaran. Sedang di halaman belakang pun ada beberapa orang yang mengawal.

Sementara itu di perbatasan, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba dan para pemimpin laskar Banyubiru yang lain sedang sibuk menyalakan api untuk mematangkan kijang hasil buruan mereka.

Tidak jauh dari perapian itu, Rara Wilis bertiduran di atas rumput-rumput kering sambil menganyam angan-angan. Sekali-kali angan-angannya itu membumbung tinggi, membelit di antara bintang-bintang di langit, namun sekali-kali ia terlempar kembali ke dunianya kini. Berbaring di antara batang-batang ilalang. Di antara laskar yang bersiaga penuh untuk bertempur. Entah besok, entah lusa. Kemudian apakah sesudah pertempuran itu berakhir ia masih dapat menikmati gemerlapnya bintang di langit…? Atau kalau Tuhan masih mengurniakan umur panjang kepadanya, apakah ia masih dapat bertemu dengan Mahesa Jenar…?

Rara Wilis tiba-tiba tersentak karena angan-angannya sendiri. Tidak sengaja ia memandang ke perapian. Dilihatnya di antara mereka, seorang yang selama ini mengikat hatinya. Tetapi laki-laki itu tidak menoleh kepadanya. Bahkan ia masih asyik menikmati daging kijang yang kadang-kadang diselingi oleh tertawanya yang riang. Agaknya Ki Dalang Mantingan adalah orang yang cukup jenaka, sehingga mereka tertawa-tawa karena kelucuannya.

Rara Wilis menarik nafas panjang. Sebagai seorang gadis ia kadang-kadang ditakut-takuti oleh umurnya yang bertambah-tambah dari hari ke hari. Apakah ia harus berjalan dari satu padang rumput ke padang rumput yang lain? Dari satu perkelahian ke perkelahian yang lain sepanjang hidupnya…? Tidakkah pada suatu saat ia akan dihadapkan kepada suatu kuwajiban yang seharusnya dijalani oleh setiap wanita…? Rara Wilis pada suatu saat pasti ingin melepaskan pedang dari pinggangnya dan menggantinya dengan pisau dapur yang sederhana. Ia pada suatu saat pasti ingin melepaskan ikat pinggang kulitnya, yang kasar, dimana pedangnya selalu menggantung, dan menggantinya dengan selendang yang halus untuk mengemban bayinya. Ya. Ia rindukan masa yang berbahagia. Masa ia tidak bermain-main dengan nyawanya, tetapi bermain-main dengan anaknya.

Akhirnya, sebagai seorang manusia yang lemah, ia hanya dapat memanjatkan doa kepada Kekuasaan Yang Tertinggi, mudah-mudahan sampailah ia pada saatnya, diperkenankan menikmati hidup ini sebagai manusia biasa, sebagai wanita biasa.

Ketika sekali lagi ia memandang ke perapian, ia masih melihat mereka yang duduk melingkari perapian itu bersenda-gurau. Karena itu iapun terbawa pula oleh suasana yang gembira itu. Sehingga kemudian ketika ia mendengar Ki Dalang Mantingan berjenaka, ia pun tersenyum sendiri.

Di langit, bintang gemintang satu-satu berjalan di dalam garis edarnya. Sedang mega putih yang membayang di selatan, sebagai selimut yang putih, menaburi punggung bukit Telamaya.

Malam itu berjalan setapak demi setapak menjelang pagi. Baik yang berada di Banyubiru maupun yang berserak-serak di perbatasan. Meskipun tidak meninggalkan kewaspadaan, namun mereka dapat menikmati istirahat malam itu dengan baiknya. Mereka sadar bahwa bahaya pasti tidak akan datang. Baik dari laskar Lembu Sora maupun dari laskar golongan hitam. Sebab mereka selambat-lambatnya petang tadi, pasti sudah saling berhadapan. Bahkan mungkin bagian-bagian dari laskar mereka sudah terlibat dalam bentrokan-bentrokan.

Perhitungan mereka itupun benar. Tak ada apapun yang terjadi sampai matahari muncul di timur, diantar oleh kicauan burung-burung liar yang hinggap di cabang-cabang pohon perdu.

Lereng bukit itu seolah-olah disiram oleh kesejukan cahaya pagi yang segar yang merayap turun dari ujung-ujung pepohonan, dan jatuh berserakan di tanah merah.

Ketika Mahesa Jenar membuka matanya, setelah beberapa saat ia tertidur dalam kehangatan perapiannya, ia terkejut melihat sesosok tubuh yang berdiri tidak jauh darinya. Dalam keremangan cahaya pagi, dilihatnya bayangan itu menggeliat dengan nyamannya, kemudian tampaklah dadanya yang segar menggelombang dalam tarikan nafas pagi.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar bangkit. Seperti terpaku ia melihat bayang-bayang yang mengesampingkannya. Ia menjadi heran sendiri. Seperti kisah dalam mimpi, bahwa di tengah-tengah padang ilalang itu, dapat ditemuinya keindahan yang sempurna menurut selera hatinya.

Ketika bayangan itu perlahan-lahan melangkahkan kakinya, Mahesa Jenar bangkit berdiri. Agaknya bayangan itu mendengar desis kakinya sehingga terputarlah wajahnya, memandang Mahesa Jenar yang berjalan perlahan-lahan mengikutinya.

Bintang pagi masih bersinar di tenggara,” tegur Mahesa Jenar dalam nada yang rendah.

Rara Wilis tersenyum. “Tetapi matahari telah meninggalkan peraduannya.

Mahesa Jenar menengadahkan wajahnya, memandang matahari pagi yang masih kemerah-merahan. Sambil tersenyum pula ia berkata, “Ia akan datang pada saat ia harus datang.

Dan ia akan pergi pada saat ia harus pergi,” sahut Wilis.

Peredaran jinantra alam yang tak terkendalikan oleh kekuatan apapun, selain oleh Maha Penciptanya,” kata Mahesa Jenar.

Karena itu, milikilah yang harus kau miliki,” potong Wilis.

Matahari…?” tanya Mahesa Jenar sambil tersenyum.

Ya,” jawab Wilis

Matahariku adalah mataharimu,” kata Mahesa Jenar pula.

Keduanya tersenyum. Hanya mereka berdualah yang dapat merasakan betapa indahnya senyum mereka masing-masing. Seindah bintang pagi di tenggara, seindah matahari pagi di puncak bukit.

Aku akan mencuci muka di mata air sebelah,” kata Rara Wilis kemudian.

Pergilah. Aku akan menyiapkan api,” jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis berjalan semakin cepat. Di pinggangnya masih tergantung pedang tipisnya. Mahesa Jenar memandangi bayangan itu sampai hilang di balik sebuah batu padas. Disanalah Rara Wilis mendapatkan mata air yang kecil.

Hari itupun tak mereka jumpai persoalan-persoalan yang penting. Bahkan mereka dapat hilir-mudik dari perbatasan masuk ke dalam kota. Kebo Kanigara telah menjemput puterinya, sedang Mahesa Jenar dan Arya Salaka malam berikutnya bermalam di Banyubiru.

Seperti malam kemarin. Malam inipun berlalu begitu saja. Namun mereka mengharap bahwa hari berikutnya Penjawi dan Jaladri telah dapat datang kembali dengan keterangan-keterangan yang mereka perlukan.

Sebelum fajar menyingsing di pagi yang dingin, datanglah orang yang mereka harap-harapkan itu.

Derap dua ekor kuda yang lari dengan kencangnya, memukul-mukul jalan yang berbatu-batu menuju ke rumah kepala daerah perdikan Banyubiru.

Para pengawal perbatasan segera berloncatan dari gardu mereka yang bersiaga. Tetapi ketika mereka melihat Penjawi dan Jaladri yang duduk di punggung-punggung kuda itu, maka mereka biarkan berlalu. Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki kuda itu seperti tumbuh dari dalam tanah, sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh di dalam dada para pengawal itu. Kabar apakah yang dibawa oleh Penjawi dan Jaladri…?

Arya Salaka dan Mahesa Jenar pun kemudian mendengar derap kuda yang semakin dekat. Segera mereka bangkit dari pembaringan mereka sambil menebak-nebak, siapakah orang-orang yang berkuda di pagi-pagi buta ini. Demikian juga Wanamerta dan Bantaran yang berada di pendapa pun segera bersiaga. Kalau-kalau ada sesuatu yang tak mereka harapkan terjadi. Tetapi hati mereka menjadi kendor kembali setelah mereka melihat Penjawi dan Jaladri masuk ke halaman.

Demikian ketika kuda-kuda itu berhenti, berloncatanlah mereka turun dan langsung naik ke pendapa. Tampaklah wajah-wajah mereka yang kotor karena debu yang tak sempat mereka usap. Sedang di punggung membekaslah keringat mereka yang mengalir deras. Namun demikian tampaklah senyum mereka membayang di bibir mereka.

Wanamerta menerima mereka dengan tergopoh-gopoh. Dipersilahkanlah mereka duduk, dan kepada seorang pelayan, Wanamerta minta untuk segera disediakan bagi mereka, minum yang hangat.

Terima kasih Kiai,” kata Penjawi di antara desah nafasnya yang mengalir cepat.

Selamatkah kalian?” tanya Wanamerta kemudian.

Baik Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan.

Syukurlah,” sambung Wanamerta.

Bersamaan dengan itu muncullah Mahesa Jenar dan Arya Salaka lewat pintu pringgitan. Mereka langsung duduk di hadapan Penjawi dan Jaladri. Dari wajah-wajah kedua orang itu, Mahesa Jenar dan Arya Salaka mendapat kesan, bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang berat. Merekapun kemudian menanyakan keselamatan kedua orang itu.

Perjalanan yang menyenangkan.” Namun terdengarlah suara itu amat perlahan-lahan.

Dengan senyum lucu Jaladri memandang Penjawi, sambil menyebut, “Cemasnya yang tak terduga-duga.”

Yang mendengar ikut tersenyum pula.

Kalian tentu punya ceritera yang panjang,” kata Arya Salaka. “Tetapi aku lihat kalian tak sempat mandi di perjalanan. Karena itu, apabila keadaan tidak mendesak, mandilah kalian dahulu. Kemudian setelah makan pagi, biarlah kalian berceritera panjang lebar. Akan aku panggil semua pimpinan laskar Banyubiru, Paman Kebo Kanigara, Bibi Wilis dan Endang Widuri. Aku kira mereka akan senang pula mendengar ceriteramu.”

Baiklah,” jawab Penjawi. “Kami akan mandi dahulu, makan pagi, lalu kami akan berceritera, supaya ceritera kami tidak terlalu banyak tertinggal.

Jaladri tertawa, sambungnya, “Urutan yang bijaksana,”

Kemudian setelah minum teh hangat dengan gula aren, Penjawi dan Jaladri segera turun ke mata air di sebelah rumah itu. Mereka mendapat pinjaman beberapa potong pakaian untuk mengganti pakaian yang telah basah oleh keringat, dan kotor oleh debu tebal. Dalam kesempatan itu, Arya Salaka telah memerintahkan untuk menjemput para pemimpin laskar Banyubiru yang berada di perbatasan, termasuk Mantingan dan Wirasaba.

Ketika matahari telah naik di ujung cemara, pendapa Banyubiru itupun telah dipenuhi oleh para pemimpin laskar Banyubiru. Mereka semua mengharap dapat mendengarkan langsung ceritera Penjawi dan Jaladri. Meskipun masih agak payah, di pendapa itu hadir juga Sendang Parapat.

Penjawi dan Jaladri duduk berjajar di samping Arya Salaka. Kemudian duduk pula Wanamerta, Bantaran, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri.

Nah…” kata Arya Salaka kemudian, “Mulailah dengan kisah cemasmu.”

Penjawi membetulkan letak duduknya, sambil menarik nafas ia berkata, “Baiklah. Setelah perutku kenyang, ingatanku menjadi baik, sehingga banyaklah yang akan aku ceriterakan kepada kalian.”

Yang hadir di pendapa itu telah siap untuk mendengar apakah yang telah terjadi di Pamingit.

Lusa,” Penjawi mulai, “aku dan Adi Jaladri berangkat ke Pamingit, beberapa saat setelah Ki Ageng Sora Dipayana meninggalkan Banyubiru. Namun demikian, kami masih dapat mendahului laskar Pamingit itu. Kami titipkan kuda kami dirumah paman Derpa, dan mulailah kami dengan pekerjaan kami. Ki Ageng Lembu Sora ternyata benar-benar seorang yang memiliki ketangkasan berpikir. Kami terkejut ketika kami diketahui, bahwa beberapa bagian laskarnya langsung menerobos lewat Randu Putih, dan menduduki Kepandak. Sedang induk pasukannya masih tetap menuju pusat pemerintahan Pamingit, dan setelah terlibat dalam bentrokan tak berarti, induk pasukan itu bermalam di Sumber Panas.

Ini adalah suatu keadaan yang sama sekali tak diduga oleh golongan hitam. Karena itu, dengan mudahnya mereka dapat didesak dari tempat-tempat itu. Tetapi karena itu pulalah maka mereka agaknya menjadi marah. Menjelang pagi, aku dan adi Jaladri melihat-lihat pertempuran yang akan berkobar di Kepandak. Kami berjanji bahwa malam hari kami bertemu di rumah Paman Darpa, setelah kami mendapat gambaran dari kedua garis pertempuran itu. Pekerjaan kamipun menjadi agak sulit, sebab kami tidak mau diketahui oleh kedua belah pihak. Untunglah bahwa aku dapat menghubungi beberapa orang Banyubiru yang berada di dalam Laskar Lembu Sora, ketika mereka sedang mengambil air untuk keperluan laskar itu. Tetapi pekerjaan Adi Jaladri agak lebih sulit.”

Penjawi berhenti sejenak. Ia memandang kepada Jaladri, katanya, “Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripada Adi sendiri. Nah ceriterakanlah.”

Jaladri mengangguk. Sambil tertawa kecil ia berkata, “Bukan lebih sulit. Tetapi aku justru lebih beruntung.” Ia berhenti sebentar lalu meneruskan, “Pagi-pagi buta aku mencoba untuk mencari tempat yang baik. Aku ingin tahu, siapakah yang berada di dalam kedua pasukan yang akan bertempur itu. Tetapi baru saja aku mendapat tempat yang baik menurut pikiranku, tiba-tiba terdengar suara berdesir di belakangku. Aku terkejut, dan aku menjadi berdesir ketika tiba-tiba aku ketahui, menurut ciri-ciri yang pernah aku dengar, seorang tua, bertubuh bongkok dengan wajah yang mengerikan.”

Bugel Kaliki?” potong Wanamerta.

Ya, Bugel Kaliki,” sahut Jaladri. “Dengan mata yang mengandung kebencian ia memandang kepalaku. Akhirnya ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, – “Hai kelinci yang malang. Siapakah namamu, dan apakah kerjamu di sini?” – Aku menjadi gemetar. Aku tahu siapakah orang itu. Karena itu tiba-tiba terbayanglah di dalam otakku, gambaran Yamadipati datang untuk menagih janji. Mengambil kembali nyawa yang dititipkan di dalam raga ini.”

Apa yang dikerjakan oleh hantu itu? – bertanya Sendang Papat tidak sabar.

Menakut-nakuti aku,” jawab Jaladri. “Dan aku benar-benar takut kepadanya. Apalagi kemudian ia bertanya kepadaku pula – Kenalkah kau kepadaku?

Aku tahu bahwa aku bukan musuhnya. Karena itu aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera aku menarik kerisku, dan langsung aku menusuk ke arah telungkup. Nah, kau lihat jalur-jalur di mukaku ini?”

Tetapi kau tetap hidup,” sela Bantaran ingin tahu.

Ya. Aku tetap hidup,” sambung Jaladri, “Bukan karena aku sekarang telah mampu melawan Bogel Kaliki, atau aku dapat melepaskan diri dari tangannya.”

Ya. Lalu kenapa?” Sendang Parapat menjadi tidak sabar, “Apakah kau dibiarkan pergi?

Jaladri tertawa. “Jangan terlalu tergesa-gesa. Dengar urutan ceriteraku. Aku kemudian bangkit, dan dengan tekad yang bulat aku akan mati sebagai laki-laki. Berjuang dengan tenaga yang ada padaku. Tetapi tiba-tiba Tuhan menyelamatkan aku. Ketika Bugel Kaliki itu dengan marahnya menggeram, dan hampir menerkam kepalaku, terdengar suara di belakangku. “Jangan Kaliki. Jangan mengganggu anak-anak.”

Bugel Kaliki terkejut. Aku juga terkejut. Kalau seseorang dapat hadir di tempat itu tanpa diketahui oleh Bugel Kaliki, maka aku mengharap bahwa setidak-tidaknya orang itu akan dapat menyelamatkan aku.

“Siapakah orang itu?” tanya Sendang Parapat.

“Aku tidak tahu,” jawab Jaladri.

Hus!” sahut orang yang berada di pendapa itu hampir berbareng. “Jangan teka-teki.”

He…” jawab Jaladri, “Siapa yang berteka-teki? Aku benar-benar tidak tahu, Kakang Penjawi juga tidak tahu. Siapakah dia.

Arya tertarik pada ceritera itu. Tampak alisnya berkerut. Demikian juga Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain.

Apa yang dilakukan?” tanya Arya Salaka kemudian.

Jaladri mengingsar duduknya, ia meneruskan, “Bugel Kaliki terkejut atas kehadirannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memecahkan kepalaku. Tetapi segera ia bersiaga untuk menghadapi musuh barunya. ”Jangan ganggu aku” ia berdesis. Tetapi orang yang datang itu tertawa. Suaranya nyaring. ”Aku mengembara dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan. Karena itu akupun kadang-kadang melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa tujuan. Antara lain mengganggumu.”

Bugel Kaliki benar-benar marah. Terdengar suaranya menggeram seperti serigala. Namun orang asing itu masih tertawa-tawa saja. Demikianlah akhirnya keduanya terlibat dalam satu perkelahian tanpa kata-kata lain. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menilai pertempuran itu. Mereka bergerak-gerak dengan cepatnya. Kadang-kadang mereka melontarkan diri mereka seperti bintang beralih. Sambar-menyambar. Aku pernah menyaksikan dua ekor elang berkelahi. Gagah benar. Namun itu lebih cepat seperti Sikatan. Si Bongkok itupun sungguh luar biasa. Aku heran kenapa bongkoknya itu sama sekali tidak menggangguMelihat perkelahian itu aku menjadi malu pada diri sendiri. Apakah yang terjadi seandainya aku yang harus bertempur melawan Bugel Kaliki itu. Namun demikian aku tidak mau lari. Aku akan menunggu sampai pertempuran itu berakhir.Kalau penolongku itu kalah dan binasa, biarlah aku binasa pula. Tetapi kalau ia menang, biarlah aku sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.

Tetapi pertempuran itu kemudian terganggu. Aku melihat bayangan lain yang datang di tempat itu pula. Bersamaan dengan kehadiran orang kedua itu, aku lihat Bugel Keliki berteriak nyaring, untuk kemudian melontar mundur dan lenyap di dalam keremangan pagi. Orang yang bertempur melawannya sama sekali tidak mengejarnya. Ia, sekarang berhadapan dengan orang yang datang terakhir. Namun agaknya mereka tidak akan bertempur. Bahkan mereka berdua tampaknya seperti dua orang sahabat yang baru bertemu. Mereka saling mengguncang tangan masing-masing.

Siapakah yang datang kemudian? Juga tidak tahu?” tanya Wanamerta.

Jaladri tertawa. Penjawi pun tertawa. “Kiai…” jawab Jaladri, “Kepada orang yang terakhir itu, aku sudah mengenalnya. Bahkan kalian juga mengenalnya.”

Ya, siapa? Kalau kau sudah mengenal, kami mengenal pula.” Sendang Parapat semakin tidak sabar.

Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Jaladri.

Oh….” Terdengar orang-orang yang mendengar bergumam. Mereka menarik nafas lega, seolah-olah merekalah yang terlepas dari ancaman maut.

Jaladri berhenti pula untuk sesaat. Kemudian ia meneruskan, “Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak kukenal itu. Tetapi aku tidak sempat bertanya tentang dirinya sebab kemudian Ki Ageng Sora Dipayana bertanya kepadaku, ”Apa kerjamu di sini Jaladri?”

Aku menjadi ragu sebentar. Tetapi kepada Ki Ageng Sora Dipayana aku tak dapat berkata lain, kecuali mengatakan yang sebenarnya. Mula-mula aku menjadi cemas, jangan-jangan hal itu tak dikehendaki oleh Ki Ageng, namun tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Marilah. Hari hampir pagi. Sebentar lagi pertempuran akan dimulai.”

Aku tak dapat membantah. Aku ikuti Ki Ageng kembali ke pasukan Pamingit. Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana berada di dalam laskar yang menduduki Kepandak. Laskar ini dipimpin oleh Wulungan. Sedang menurut Ki Ageng Sora Dipayana, induk pasukan yang berada di Sumber Panas dipimpin langsung oleh Ki Ageng Lembu Sora sendiri. Ketika kami hampir sampai, aku hanya mendengar orang asing itu berkata, ”Kau biarkan anakmu sendiri?”

”Tak ada pilihan lain” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kalau aku tak ada di sini, dan ada salah seorang dari setan-setan itu datang kemari, seperti apa yang dilakukan oleh Bugel Kaliki itu, maka laskar ini akan habis ludas.”

”Kalau mereka beberapa orang menempatkan diri mereka untuk melawan anakmu?” jawab orang asing itu.

”Ia membawa laskar lebih banyak. Aku sudah menasehatkan untuk bertempur dalam kelompok-kelompok, untuk menghadapi mereka. Dengan senjata jarak jauh atau senjata bertangkai panjang. Dan Lembu Sora telah menyiapkan laskar panah sebaik-baiknya.”

”Belum cukup” jawab orang asing itu.

”Untuk sementara, tak ada cara yang lebih baik. Tetapi aku percaya, kalau Lembu Sora berotak cair, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat mengatasi keadaan” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Ternyata ia kemudian meneruskan, ”Soalnya terserah kepada nasibnya. Mudah-mudahan Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahannya.”

”Kalau begitu…” orang asing itu menjawab, ”biarlah aku ikut serta dalam permainan ini. Aku akan bekerja bersama-sama dengan anakmu.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut, sampai langkahnya terhenti. ”Kau..”- terdengar suaranya dalam.

Orang itu mengangguk, lalu terdengarlah ia tertawa. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menjawab orang itu telah melontarkan dirinya sambil berkata, ”Sebelum pagi, mudah-mudahan aku tidak terlambat.”

Ki Ageng Sora Dipayana hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Perlahan-lahan terdengar gumamnya, ”Terimakasih, terima kasih.”

Tiba-tiba saja Ki Ageng Sora Dipayana terkejut oleh suara kentongan jauh di Pamingit. Agaknya laskar orang-orang hitam itu telah mempersiapkan diri mereka.

”Ayolah, sebelum kita digilas oleh hantu-hantu yang tak kenal perikemanusiaan itu.”

Aku mengikuti di belakang Ki Ageng. Di Kepandak, laskar Pamingitpun telah siap. Di hadapan mereka berdiri dengan gagahnya, Wulungan. Di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang, sedang dilambungnya tampaklah sebilah keris.

Ketika ia melihat Ki Ageng Sora Dipayana datang, segera ia membungkukkan dirinya, tetapi ketika ia melihat aku, tampaklah perubahan di wajahnya.

Ki Ageng Sora Dipayana tahu perasaannya, katanya, ”Jangan hiraukan kehadiran Jaladri. Aku yang membawanya. Ia tidak akan mengganggu kalian.”

Wulungan tidak membantah, ia hanya mengangguk hormat.

Ketika cahaya merah di atas bukit-bukit sebelah timur telah semakin merata, mulailah laskar Pamingit bergerak. Laskar inipun seperti laskar yang dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, bergerak dalam kelompok-kelompok, dan bersenjata jarak jauh. Agaknya mereka benar dipersiapkan untuk menghadapi setiap tokoh dari golongan hitam itu, kelompok demi kelompok.

Aku sendiri, yang tidak tergabung dalam laskar itu, hanya selalu mengikuti kemana Ki Sora Dipayana pergi. Dan Ki Agengpun sama sekali tidak keberatan.   Bahkan akhirnya Ki Ageng itu memberi aku sebatang tombak sambil berkata, “Kalau kau terpaksa mempertahankan dirimu Jaladri, pergunakan tombak ini. Kerismu terlalu pendek untuk melawan Lawa Ijo atau Jaka Soka, atau kalau kau bertemu sekali lagi dengan Bugel Kaliki.”

Hatiku jadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Laskar Pamingit dapat melawan mereka dengan kelompok-kelompok mereka. Aku bagaimana?”

Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana memaklumi perasaanku, karena itu terdengar kata-katanya, ”Kaupun harus membentuk kelompok tersendiri Jaladri. Nah, akulah orang yang termasuk dalam kelompok kecilmu.”

Aku menundukkan kepalaku, karena malu.

Ki Wulungan membawa laskarnya, melingkar ke Selatan dengan gelar Jinantra Sawur. Lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak bersama-sama dalam satu garis yang menebar. Sungguh suatu yang bagus untuk melawan toko-tokoh yang biasa bertempur perseorangan dan mempunyai kesaktian yang luar biasa seperti tokoh- tokoh golongan hitam.

Ketika terdengar sebuah tengara dari Wulungan, maka dengan kecepatan yang sedang, laskar itu langsung menyerbu kedalam pemusatan laskar-laskar hitam. Dalam sepintas dari laskar hitam yang disediakan untuk melawan mereka. Namun diujung laskar golongan hitam itu aku melihat dua orang yang mengerikan. Seorang yang sudah aku kenal Bugel Kaliki, dan yang seorang lagi, aku dengar namanya dari Ki Ageng Sora Dipayana, bernama Nagapasa.

Nagapasa…?” Mahesa Jenar mengulang nama itu.

Ya,” sahut Jaladri. “Melihat mereka berdua Ki Ageng Sora Dipayana memanggil Wulungan, katanya, ”Wulungan, lawanlah Bugel Kaliki. Bawalah sedikitnya dua kelompok laskar panahmu. Jaga, jangan sampai salah seorang dari kamu mendekat, dan jagalah supaya kau dan kelompokmu tidak kehabisan tenaga. Orang itu mampu bertempur sehari penuh dengan kesegaran yang sama, bahkan berhari-hari.”

Wulungan mengangguk sambil menjawab, ”Baik Ki Ageng, akan aku bawa tiga kelompok terkuat dari anak buahku. Yang lain akan dipimpin oleh adi Gupita, melawan laskar hitam itu.”

”Bagus” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Kemudian kepadaku Ki Ageng itu berkata, ”Jaladri. Aku harus melayani musuh yang tak dapat diduga-duga tabiatnya. Ia dapat berlaku lunak, tetapi ia dapat bengis seperti setan. Karena itu lebih baik bagimu untuk memperkuat kelompok-kelompok yang akan dibawa oleh Wulungan melawan musuhmu pagi tadi.”

Aku tak dapat membantah, meskipun aku tahu bahwa Wulungan agak bimbang menerima titipan itu.

Ketika aku berjalan di samping Wulungan menuju kekelompok pertama, aku berkata kepadanya, ”Jangan curigai aku. Aku tak akan mengganggumu. Sebab hidup matiku sekarang berada di dalam kerjasama antara kita dan laskarmu.”

Wulungan tersenyum. Jawabnya, ”Aku mempercayaimu. Aku kira setiap orang didalam laskar Arya Salaka berlaku jantan seperti pimpinan mereka.”

Aku tidak tahu maksudnya. Apakah ia benar-benar memuji, ataukah ia sedang menyindir aku. Tetapi kemudian kami tak sempat berkata-kata lagi. Wulungan memerintahkan beberapa orang untuk memberitahukan tugas-tugas mereka. Tiga kelompok kemudian saling mendekat dan menuju satu sasaran, sedang yang lain masih di tempatnya masing-masing, di bawah pimpinan seorang yang cukup mempunyai wibawa, Gupita.

Laskar hitam itupun kemudian maju menyongsong lawan mereka. Mereka sama sekali tidak mempergunakan gelar perang, atau gelar mereka mirip dengan gelar Gelatik Neba. Namun tampaklah betapa mereka percaya pada diri mereka masing-masing. Terbayanglah diwajah mereka, kebiadaban dan keganasan yang pernah mereka lakukan dan akan mereka lakukan. Didalam mata mereka seolah-olah tampaklah goresan-goresan nama-nama dari korban-korban mereka yang berpuluh-puluh jumlahnya.

Aku pernah mengalami beberapa kali pertempuran. Namun kali ini aku benar-benar berdebar-debar. Disekitarku berjalan orang-orang yang kurang aku kenal, baik tabiatnya maupun cara-cara mereka mempergunakan senjata. Akupun tidak mengetahui apakah mereka menganggap aku lawan mereka atau musuh mereka. Namun demikian akhirnya aku harus melekatkan kepercayaan kepada diri sendiri. Betapapun ringkihnya aku ini, namun aku hanya dapat mengeluh dan menyadarkan diri kepada kepercayaan itu, dilambari oleh pasrah diri kepada pepestan, kepada kuasa tangan Yang Maha Kuasa.

Demikianlah akhirnya kedua laskar ini bertemu. Sesaat sebelum pertempuran berkobar, Wulungan berbisik kepadaku, -Jaladri, kami saat ini akan bertempur di atas tanah persawahan. Batang-batang padi ini sebentar lagi akan hancur terinjak-injak oleh kaki-kaki kami. Namun tanah persawahan ini akan memberikan kesegaran dalam jiwa kami. Karena untuk tanah inilah kami sekarang sedang menyabung nyawa. Meskipun batang-batang padi ini akan hancur, namun besok di atasnya akan dapat kami tanami kembali, dengan batang-batang padi yang lebih segar. Sebab kami tebarkan pupuk di tanah ini dengan darah putra-putra terbaik dari tanah ini.”

Aku terharu mendengar kata-katanya. Sedang dari matanya terpancar ketulusan hatinya serta kesediaannya berkorban untuk tanahnya.

Sesaat kemudian kami dikejutkan oleh teriakan-teriakan ngeri. Orang-orang hitam itu berloncatan sambil memekik-mekik. Senjata-senjata mereka gemerlapan dalam cahaya pagi. Pada saat yang hampir bersamaan, melontarlah senjata-senjata anak- anak Pamingit. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus anak panah bertebaran diudara. Tetapi orang-orang golongan hitam itu memutar senjata mereka menjadi gulungan perisai yang sangat rapat.

Demikianlah akhirnya pertempuran tak dapat dihindari. Orang-orang Pamingit terpaksa meletakkan busur-busur mereka dan menarik pedang-pedang mereka. Sehingga sesaat kemudian, riuhlah pertempuran itu dengan dentang senjata beradu, pekik yang mengejutkan dari orang-orang golongan hitam itu. Wulungan dengan kelompoknya langsung menyiapkan diri mereka dan memancing Bugel Kaliki untuk melibatkan dirinya. Anak-anak dalam kelompok ini agaknya benar-benar terpilih. Mereka tidak melemparkan panah mereka berlebih-lebihan. Satu-satu saja, mengarah kepada si Bongkok yang mengerikan itu. Akhirnya marahlah Bugel Kaliki. Seperti serigala yang menggeram, kemudian langsung melompat dan menyerbu kedalam laskar Wulungan. Cepat anak buah Wulungan memencar diri. Mereka menyerang dengan panah mereka. Tak berhambur-hamburan, namun cukup memberi perlawanan yang kuat terhadap hantu dari Gunung Cerme itu.

 ———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 21

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s